RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bila terealisasi, rencana pembangunan Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat sepanjang 106 km akan mengubah wajah transportasi dan ekonomi Jawa Timur. Yaitu akan menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi Bojonegoro, khususnya di bagian barat.
Pasalnya, dari delapan exit tol yang akan dibangun, lima di antaranya ada di wilayah Bojonegoro, termasuk di Ngraho dan Ngasem yang berada di kawasan barat kabupaten.
Selama ini, wilayah Bojonegoro Barat relatif lebih sepi dibanding kawasan timur. Pusat ekonomi masih terkonsentrasi di Kota Bojonegoro hingga menuju Baureno yang lebih dekat dengan Lamongan. Namun dengan hadirnya exit tol di Ngraho dan Ngasem, arah pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan bergeser.
Bojonegoro Barat: Dari Pinggiran Menjadi Pusat Pertumbuhan
Kecamatan-kecamatan seperti Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo, hingga Ngasem sering dianggap sebagai wilayah penyangga dengan aktivitas ekonomi terbatas. Mobilitas penduduk masih sangat bergantung pada jalan arteri lama yang rawan padat dan lambat.
Dengan exit tol di Ngraho dan Ngasem, arus logistik dan mobilisasi akan langsung membuka peluang investasi baru. UMKM, pasar desa, hingga sektor pertanian bisa lebih cepat terkoneksi dengan pasar regional hingga nasional.
Keberadaan tol diprediksi akan membuat Bojonegoro Barat tidak lagi sekadar ‘jalur lintasan’, tetapi berubah menjadi titik tujuan investasi. Harga lahan bisa melonjak, kawasan industri kecil maupun besar bisa tumbuh, hingga pariwisata alam di perbatasan Jateng–Jatim berpotensi berkembang.
Konektivitas dengan Program Cepu Raya
Momentum ini semakin relevan dengan adanya program Cepu Raya yang digagas untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi di kawasan perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur, khususnya Cepu (Blora) dan Bojonegoro Barat.
Program ini mencakup integrasi sektor migas, pertanian, industri pengolahan, hingga pengembangan wisata berbasis sejarah minyak dan budaya lokal. Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat akan menjadi infrastruktur kunci untuk menghubungkan Cepu Raya dengan jaringan ekonomi Jawa Timur bagian utara dan tengah hingga ke Jakarta.
Cepu dan Bojonegoro adalah kawasan strategis. Migas sudah menjadi modal besar, tinggal bagaimana menumbuhkan sektor turunannya. Jalan tol bisa mempercepat itu.
Peluang besar
- Bangkitan ekonomi di barat Bojonegoro: UMKM, pertanian, dan jasa transportasi lokal akan terdongkrak.
- Integrasi migas dengan ekonomi lokal: Cepu–Bojonegoro bisa menjadi pusat industri migas terpadu plus sektor hilirisasi.
- Pusat logistik baru: Ngraho dan Ngasem bisa jadi hub distribusi ke Jateng–Jatim.
Risiko yang harus diantisipasi
Bila keberadaan tol, khususnya lima exit tol tersebut tidak bisa berdampak positif bagi perkembangan dan kemajuan wilayah setempat, dampak negatif dari pembangunan tol tersebut justru lebih berpotensi muncul. Dampak negatif itu yaitu :
- Urbanisasi liar di sekitar exit tanpa tata ruang.
- Hilangnya jalur ekonomi lama di jalan arteri.
- Potensi konflik lahan saat pembebasan trase tol.
Apa yang Harus Dilakukan Pemkab?
Agar Bojonegoro Barat tidak hanya jadi “penonton” pembangunan tol, Pemkab perlu mengantisipasi sejak dini dengan:
- Menyusun masterplan kawasan barat terintegrasi, khususnya dengan program Cepu Raya.
- Menyiapkan lahan industri kecil dan menengah di sekitar exit tol.
- Mendorong UMKM lokal agar siap masuk ekosistem rest area dan rantai pasok.
- Menguatkan kerja sama lintas daerah, terutama dengan Blora dan Cepu, untuk pengembangan kawasan perbatasan.
Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat bukan sekadar proyek infrastruktur Rp 26 triliun, melainkan pintu menuju arah baru pembangunan Bojonegoro. Jika Pemkab mampu memanfaatkan peluang ini, Bojonegoro Barat bisa bangkit menjadi pusat pertumbuhan baru Jawa Timur.
Dengan kolaborasi program Cepu Raya, masa depan Bojonegoro bukan hanya tentang migas, tetapi juga tentang diversifikasi ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana