RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Gadget terbukti tidak hanya ‘’milik’’ orang kota. Fakta di lapangan menunjukkan, di Bojonegoro, smartphone sudah menembus batas-batas sawah, ladang, bahkan pinggiran hutan jati. Dari anak sekolah hingga petani, dari ibu rumah tangga hingga pedagang keliling, hampir semua punya akun media sosial.
Ledakan ini terlihat nyata di lima kecamatan berikut, yang menurut data kependudukan menjadi penyumbang terbesar pengguna gadget di Bojonegoro.
- Kecamatan Bojonegoro: “Kota Kecil, Scroll Besar”
Sebagai jantung kabupaten, Bojonegoro jelas tak bisa ditandingi. Hampir semua warganya terhubung internet. Dari kafe wifi, kantor pemerintah, hingga emperan toko, aktivitas digital berlangsung 24 jam. Tak heran, Bojonegoro jadi pusat influencer lokal yang rutin bersaing konten di TikTok dan Instagram.
- Dander: Desa Wisata yang Ramai Story
Tak hanya terkenal dengan Waduk Pacal dan tempat wisata alamnya, Dander kini juga dikenal sebagai kecamatan “rajin bikin story WhatsApp”. Generasi mudanya aktif menjual produk via marketplace, sementara orang tua sibuk di grup arisan online. Digitalisasi gaya hidup begitu terasa di sini.
- Baureno: Lumbung Padi, Lumbung Gadget
Dengan jumlah penduduk yang padat, Baureno tak hanya lumbung padi, tapi juga lumbung aktivitas digital. Saat panen, transaksi jual-beli gabah pun tak jarang dipantau lewat aplikasi. Di pasar tradisional, pedagang sudah akrab dengan pembayaran via QRIS. Modernisasi itu kini jadi kebiasaan harian.
- Kepohbaru: Dari Ladang ke Live Streaming
Di Kepohbaru, anak-anak mudanya terkenal kreatif. Banyak yang kini mencoba peruntungan lewat live streaming, baik jualan baju, kosmetik, hingga makanan khas desa. Fenomena ini menjadikan Kepohbaru salah satu pusat geliat ekonomi digital paling unik di Bojonegoro.
- Ngasem: Kampung dengan Ribuan Grup WA
Ngasem menjadi contoh nyata bagaimana komunikasi digital mengubah wajah desa. Hampir setiap RT punya grup WhatsApp. Koordinasi tani, hajatan, hingga kerja bakti kini tak lagi lewat pengeras suara masjid, melainkan lewat notifikasi ponsel.
Data Pendukung
- Penduduk Bojonegoro lebih dari 1,3 juta jiwa. Lima kecamatan dengan penduduk terbanyak otomatis menyumbang pengguna gadget terbanyak.
- Tren nasional: Laporan APJII menyebut pengguna internet Indonesia terus meningkat, menembus ratusan juta jiwa. Artinya, gadget bukan lagi gaya hidup, melainkan kebutuhan dasar.
- Akses jaringan: Pemerintah pusat & daerah memperluas sinyal 4G hingga pelosok desa, membuat digital gap makin menipis.
Mengapa Ini Menarik?
Karena fenomena ini membalik stigma lama: Desa itu terbelakang, kota itu modern. Nyatanya, di Bojonegoro, petani bisa scroll Facebook sambil menjaga sawah, ibu rumah tangga bisa jadi penjual online, bahkan perangkat desa kini lebih sering membuka aplikasi rapat virtual ketimbang menulis di buku catatan.
Bojonegoro hari ini membuktikan satu hal: Gadget adalah senjata sosial baru. Ia bisa jadi peluang ekonomi, sekaligus ancaman jika tidak diimbangi literasi digital. Pertanyaan pentingnya, siapkah masyarakat desa menghadapi tsunami informasi yang deras tanpa batas? (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana