Oleh:
CHOIRUL ANAM
Penulis, Ketua PAC Ansor Balen, Perangkat Desa Kasi Pelayanan Desa Margomulyo
DANI, seorang bocah lima tahun, duduk bersila di lantai, mulutnya mangap karena takjub, matanya membulat mendengar dongeng tentang naga yang bisa masak nasi goreng. Bukan, ini bukan episode sinetron fantasi. Ini adalah bukti awal bahwa literasi bukan cuma soal bisa membaca, tetapi soal rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan memproses informasi sejak dini.
Literasi sejatinya adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. UNESCO menyebut literasi sebagai “hak asasi manusia” yang membuka akses ke pembelajaran seumur hidup. Tapi, mari jujur dulu: di banyak rumah tangga kita, literasi baru dianggap penting setelah anak masuk SD. Bahkan ada yang baru panik ketika anaknya belum bisa membaca saat usia tujuh tahun. Padahal, literasi bukan tiba-tiba muncul saat anak mengenakan seragam merah-putih. Literasi itu dirawat sejak dini, dari dalam rahim, dari lagu nina bobo sampai cerita sebelum tidur.
Sadar Literasi Sejak Dini Itu Penting, Bukan Gaya-Gayaan
Menyadarkan anak akan pentingnya literasi bukan berarti menyuruh mereka menghapal KBBI sejak umur tiga tahun. Bukan pula menyumpal kepala mereka dengan buku pelajaran semata. Sadar literasi adalah membiasakan anak untuk dekat dengan cerita, bunyi, makna, dan pengalaman.
Penelitian oleh National Institute for Literacy di Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak yang terbiasa membaca bersama orang tua memiliki kemampuan bahasa dan kognitif yang lebih baik. Otaknya lebih cepat memproses informasi, lebih peka terhadap emosi, dan lebih siap menerima pengetahuan baru. Bahkan, menurut Heckman Equation, investasi pada pendidikan anak usia dini menghasilkan imbal balik paling tinggi bagi kemajuan sosial dan ekonomi.
Di sinilah peran orang tua dan lingkungan begitu krusial. Sadar literasi bukan tugas sekolah semata. Rumah tangga adalah “perpustakaan pertama” anak-anak. Buku cerita bisa jadi jendela, tapi suara orang tua yang membacakannya adalah anginnya. Jadi jangan malas bacain cerita ya, meski kadang si anak minta diulang-ulang, “Ayah bacain lagi dong, yang kancil nyolong timun itu…” sampai orang tua hafal naskahnya luar kepala.
Baca Juga: Menurut Studi, Kebiasaan Membaca Buku Fiksi Bisa Bikin Kamu Lebih Empatik
Cara Asyik Menanamkan Literasi di Usia Dini
1. Dongeng Sebagai Alat Canggih
Anak kecil sangat menyukai cerita. Mereka belum butuh teori sastra, tapi mereka sangat memerlukan narasi. Cerita tentang kura-kura yang sabar atau ayam yang jujur bisa menjadi landasan nilai moral dan daya pikir.
Dongeng membangun empati, memperluas kosa kata, dan mengenalkan struktur bahasa tanpa terasa seperti pelajaran.
2.Libatkan Teknologi dengan Bijak
Tidak semua layar berbahaya. Ada kanal YouTube yang menyajikan cerita anak, aplikasi membaca interaktif, dan audiobook yang membantu memperkaya pengalaman anak terhadap literasi. Tapi, tentu saja dengan pengawasan. Jangan sampai niat mengenalkan literasi malah berujung nonton 10 jam video mainan tanpa konteks.
3.Biarkan Anak “Membaca Dunia”
Literasi bukan cuma membaca teks, tapi juga memahami simbol, tanda, dan realitas. Ajak anak ikut ke pasar, membaca nama buah, menebak harga, atau mengenali huruf di papan petunjuk. Anak yang peka terhadap lingkungan sebenarnya sedang mengembangkan literasi kehidupan—yang seringkali lebih penting daripada sekadar membaca buku cetak.
4. Beri Ruang Imajinasi dan Tanya-Jawab
Jangan buru-buru menjawab semua pertanyaan anak. Biarkan mereka menebak, menerka, dan menciptakan jawabannya sendiri dulu. Anak yang kritis dan penasaran adalah benih dari pembelajar seumur hidup. Kalau anak bertanya, “Kenapa matahari enggak capek?”, jawablah dengan senyum dan balas, “Menurutmu kenapa, ya?” Di situlah dialog literasi dimulai.
Tantangan dan Drama Orang Tua Milenial
Tentu, dalam praktiknya, tidak semua rumah tangga punya akses buku anak yang memadai. Apalagi kalau harga bukunya bisa bikin dompet berkeringat. Tapi tenang, ada banyak perpustakaan keliling, komunitas dongeng, hingga bazar buku murah meriah. Bahkan, mencetak cerita anak sendiri di rumah dengan printer seadanya pun sah-sah saja.
Masalah lainnya adalah waktu. Orang tua zaman sekarang sering kejar setoran, kerja lembur, sampai rumah sudah habis energi. Tapi, kalau masih sempat scroll medsos dua jam sehari, mestinya bisa sempatkan sepuluh menit membaca cerita untuk anak, kan? Literasi anak tak perlu menunggu hari libur. Ia tumbuh dari hal-hal kecil tapi konsisten.
Baca Juga: 10 Cara Efektif Memotivasi Anak agar Semangat Belajar dan Membaca Alquran
Menuju Generasi Melek Literasi
Membentuk generasi yang sadar literasi adalah investasi jangka panjang. Anak-anak yang terbiasa membaca, bertanya, dan berdiskusi sejak dini akan tumbuh menjadi warga yang kritis, rasional, dan tidak mudah termakan hoaks. Mereka akan lebih siap menghadapi tantangan zaman—baik yang nyata maupun yang penuh narasi digital.
Sebagaimana kata Paulo Freire, tokoh pendidikan progresif dari Brasil, “Membaca dunia datang sebelum membaca kata.” Maka tugas kita bukan sekadar mengenalkan huruf, tapi membimbing anak-anak untuk memahami kehidupan lewat cerita, dialog, dan refleksi.
Maka, jangan remehkan kegiatan sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur. Bisa jadi itu adalah batu loncatan besar bagi masa depan anak. Dari kancil yang mencuri timun, anak belajar tentang konsekuensi. Dari ibu peri dan cinderella, anak belajar tentang harapan. Dan dari buku bergambar penuh warna, anak belajar membuka dunia yang tak terbatas.
Karena di dunia yang makin bising ini, hanya mereka yang melek literasi yang bisa memilah mana informasi, mana ilusi. Jadi, yuk, mulai dari rumah. Mulai dari dongeng. Mulai dari hari ini. (*)