Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Ledre Solusi Pengentasan Kemiskinan

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 18 Mei 2025 | 23:00 WIB
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Imam Syarifudin
Pendamping Program Keluarga Harapan

 

JUMLAH penduduk Bojonegoro pada 2024 tercatat  sejumlah 1,363,277 jiwa, 11,69  persen di antaranya berada di bawah garis kemiskinan, bahkan sekitar 752 kk masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem .

Sejalan dengan program pengentasan kemiskinan pemerintah pusat, tentunya Pemerintah Kabupeten Bojonegoro juga melakukan upaya program inisiasi daerah dalam pengentasan kemiskinan diantaranya; BPNTD bantuan sebesar Rp 200.000 per bulan kepada 5.835 keluarga; santunan duka sebesar Rp 3 juta bagi keluarga miskin yang mengalami musibah ; bedah rumah (aladin), program kolega, berupa batuan paket budidaya lele kepada 70 warga miskin di 15 desa, program domba kesejahteraan Sebanyak 2.640 ekor domba disalurkan kepada peternak miskin yang terdaftar dalam Data Mandiri Kemiskinan Daerah (Damisda) dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Bantuan sambungan listrik gratis kepada 1.497 rumah warga miskin (th. 2023)yang belum teraliri listrik, bansos untuk kelompok rentan (disabilitas).Selain itu juga ada program pemberdayaan; Bantuan Presiden Produktif untuk Usaha Mikro (BPUM), Program Kartu Pedagang Produktif (KPP), Pelatihan dan Pendampingan UMKM, Bantuan Alat Produksi, Pameran dan Expo UMKM.

Bojonegoro memiliki julukan “kota ledre”. Julukan itu bukan tanpa dasar, Ledre memiliki nilai historis dan filosofis sangat kuat di Bojonegoro. Tepatnya sekira tahun 1932 di Padangan ledre pertama kali di buat sebagai jajanan alternative karena minimnya makanan kala itu. Berbahan dasar tepung terigu di campur gaplek lalu di tambahkan sedikit pisang raja kemudian di panaskan dan di gulung mirip astor, itu lah ledre, meliki citarasa khas pisang raja bojonegoro.

Tahun 1970-1980 menjadi era kejayaan produksi ledre, sekaligus menjadi penopang ekonomi masyarakat pengrajin. Namun masa itu tidak berlansung lama, tepatnya mulai tahun 2000 an pangsa pasar ledre semakin menurun hingga saat ini. Gaung ledre semakin jarang terdengar.

UMKM Ledre sebagai alternatif solusi pengentasan kemiskinan. tercatat Per Juni 2024, ada 91.621 UMKM, yang sebelumnya  di tahun 2020: 78.021, tahun 2021: 80.637 dan di tahun 2022: 86.808. Ini menunjukkan ekosistem UMKM selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tentunya ini sector yang cukup prospek untuk di jadikan program prioritas pengentasan kemiskinan.

Mengapa Umkm ledre ? ada dua aspek utama yang melandasinya, pertama aspek ekonomi, peningkatan kapasitas dan kualitas produk menjadi hal dasarnya, karena tanpa adanya peningkatan kapasitas produsen, tentunya tidak akan da inovasi yang muncul sebagaimana kondisi saat ini, contohlah di desa gapluk kecamatan purwosari yang merupakan salahsatu desa produsen ledre, dengan jumlah pengrajin lebih dari 30 orang ,mayoritas pembuatnya adalah ibu-ibu yang rerata berumur 45 tahun. Hal itu tentunya perlu mendapat sentuhan tangan dari pemerintah kabupaten dalam hal regenerasi. Karena tanpa adanya regenerasi, dalam waktu tidak lama bisa jadi ledre di desa gapluk akan tinggal cerita.

Langkah-langkah yang bisa di lakukan di antaranya: 1. Penguatan Rantai Pasok: Mendukung petani pisang dengan pelatihan dan akses ke pasar yang stabil untuk memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas dengan harga yang wajar,2. Peningkatan Keterampilan UMKM: Memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM ledre dalam hal produksi, manajemen keuangan, pengemasan, pemasaran (termasuk digital marketing), dan perizinan usaha, 3. Fasilitasi Akses Permodalan: Mempermudah akses UMKM ledre terhadap modal usaha melalui program kredit mikro atau kerjasama dengan lembaga keuangan.

Kedua aspek historis, julukan kota ledre untuk kabupaten bojonegoro yang sudah sangat melekat mejadi hal yang tidak boleh di kesampingkan, branding yang sudah ada harus di perkuat, jangan sampai julukan itu hanya tinggal cerita saja tanpa adanya proses/ praktik “ledre”. Beberapa hal bisa dilakukan dalam rangka memperkuat branding daerah ini diantaranya: selalu mempromosikan khasanah daerah ini dalam setiap kesempatan, menjadikannya suguhan wajib di setiap kantor instansi pemerintahan ketika ada yang medhayoh , oleh-oleh yang di berikan kepada setiap tamu pemerintahan yang berkunjung ke Bojonegoro.

Selain itu, perlu diaadakan festival tahunan “ledre” guna untuk semakin memperkuat gaung ledre ke selauruh penjuru dan yang terakhir adanya apresiasi kepada pengrajin ataupun kampong penghasil ledre supaya timbul rasa bangga karena  telah mempertahankan dan melestarikan karifan daerah.

Kami yakin Kabupaten Bojonegoro akan semakin makmur dengan ekonomi yang semakin meningkat, dan rakyat semakin sejahtera, selain itu Bojonegoro juga akan semakin membanggakan dengan nilai kearifan local yang selalu di lestarikan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kemiskinan #Pemasaran #Kota Ledre #marketing #umkm #Expo UMKM #bojonegoro #pengentasan kemiskinan #solusi pengentasan kemiskinan #bantuan #ledre #pisang