Oleh:
Roy Burhanuddin
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur
SEJARAH mencatat, perubahan selalu digerakkan kaum pemuda dan intelektual. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda pada 2024 di Jawa Timur lebih dari 9 juta jiwa.
Tentu ini bukan sekadar angka statistik. Setiap person, dipastikan memiliki potensi, energi, sekaligus harapan yang menyala untuk masa depan ekonomi Indonesia.
Dalam lanskap perubahan global yang kian digerakkan oleh teknologi dan kreativitas, pemuda Jawa Timur punya kesempatan emas untuk tampil sebagai kekuatan transformasional.
Mengacu data BPS 2024, pemuda berusia 16 – 30 tahun berjumlah 9.998.352 jiwa menyumbang sekitar 23,91 persen dari populasi Jawa Timur.
Artinya setiap 10 orang penduduk Jawa Timur, sekitar 2 sampai 3 orang di antaranya adalah pemuda, lebih tepatnya sekitar 2,6 orang dari 10 orang adalah pemuda berusia 16 – 30 tahun.
Dengan proporsi sebesar itu, pemuda bukan hanya perlu diajak bicara, tapi harus dilibatkan sebagai aktor utama dalam strategi pembangunan jangka panjang.
Apalagi, Jawa Timur secara historis dan strategis telah menjadi poros pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa, banyak kalangan disebut sebagai “gerbang baru Nusantara”.
Di tengah revolusi digital dan disrupsi yang masif, posisi pemuda menjadi sangat vital. Bukan rahasia lagi bahwa teknologi telah mengubah wajah ekonomi, dari industri besar hingga usaha mikro. Maka, menjadi melek teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Mengutip pernyataan Emil Elestianto Dardak, tokoh muda sekaligus Wakil Gubernur Jawa Timur, pemuda masa kini harus naik kelas menjadi “technocratic leadership” pemimpin yang berbasis ilmu, data, dan sistem.
Tak cukup hanya semangat, tapi juga harus cakap berpikir strategis dan mampu menavigasi kompleksitas dunia digital.
Jawa Timur bukan hanya menyadari potensi ini, tetapi juga mulai menyiapkan panggungnya. Di kepemimpinan Ibu Khofifah Indar Parawansa dan Mas Emil Elestianto Dardak melalui peluncuran Portal Ekonomi Kreatif (Porekraf), Pemprov Jatim membuka ruang baru bagi pelaku ekonomi kreatif untuk bersaing secara digital. Porekraf bukan sekadar platform, melainkan fondasi untuk membangun ekosistem yang menumbuhkan talenta lokal berbasis inovasi.
Lebih lanjut, inisiatif seperti Youth Creativepreneur Centre (YC2), Millenium Job Centre, hingga EkoTren (One Pesantren One Product) menjadi infrastruktur lunak yang mendukung lahirnya wirausaha muda dari berbagai latar belakang. Ini bukan sekadar program pemerintah, melainkan peluang yang harus disambut dengan keseriusan.
Lalu, apa langkah nyata yang bisa diambil para pemuda? Pertama, ubah pola pikir: dari pengguna teknologi menjadi pengembang. Belajar bahasa pemrograman (coding), membangun startup, merintis UMKM digital, hingga menjadi kreator konten berbasis budaya lokal adalah jalan yang terbuka lebar.
Kedua, bentuk kolaborasi. Menurut Ahmad Taufiq, salah satu pakar komunikasi dari Bojonegoro, kolaborasi adalah tren dalam semua disiplin ilmu pengetahuan.
Jika ditarik berbicara ekonomi hari ini, ekonomi digital bukan ajang individualistis. Maka membangun komunitas, berbagi pengetahuan, dan jalin koneksi lintas sektor adalah langkah praksis menghidupkan ekonomi pemuda.
Jangan hanya menjadi silent majority, tapi pemuda bahkan perlu juga terlibat dalam dialog publik dan pengambilan keputusan di tingkat lokal.
Ketiga, jadilah pemimpin masa depan yang tangguh. Dunia digital bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Diperlukan ketahanan mental, orientasi jangka panjang, dan keberanian untuk gagal lalu bangkit kembali.
Jika semua sinergi ini berjalan, maka bukan mustahil Jawa Timur benar-benar menjadi gerbang baru Nusantara, bukan hanya dari sisi infrastruktur, tapi juga dari mentalitas dan kualitas manusianya. Pemuda harus menjadi lokomotif, bukan gerbong. Mereka harus memimpin, bukan hanya mengikuti.
Momentum ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Sebagai pemuda Jawa Timur tidak hanya menjadi penonton dari sejarah baru yang sedang ditulis, tetapi menjadi penulisnya.
Mengambil peranan semaksimal mungkin untuk jawa timur gerbang baru nusantara. Bukan sebagai objek dari setiap peradaban, sebaliknya sebagai aktor perubahan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana