Oleh:
Mundzar Fahman
Mantan Wartawan Jawa Pos Tinggal di Bojonegoro
Saya pikir-pikir, saat ini negeri kita ini perlu segera diruwat. Perlu diadakan ruwatan nasional. Jika selama ini sering kita dengar slogan: NKRI Harga Mati. Kini perlu ada slogan: Ruwatan Demi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Ruwatan adalah istilah umum di kalangan orang Jawa. Di daerah lain, ada istilah-istilah yang berbeda, tetapi maksud dan tujuannya kurang lebih sama. Di Bali ada ritual Melukat, atau Mlukat. Di Aceh ada ritual Mandi Safar. Tujuannya kurang lebih sama. Yaitu, untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan, dan memohon ampunan kepada Tuhan. (Sumber Artificial Intelligence/AI, kecerdasan buatan).
Di kalangan sebagian orang Jawa, ruwatan diadakan untuk membuang kesialan orang yang diruwat. Bayi yang lahir secara tidak normal, itu dianggap membawa kesialan. Ini perlu diruwat untuk membuang kesialannya. Bayi yang lahir pada hari atau tanggal yang dianggap mengandung kesialan, juga perlu diruwat. Agar potensi kesialan yang dibawa si bayi itu hilang.
Pertanyaannya, mengapa NKRI perlu diruwat? Menurut saya, ya karena kondisi negeri kita sekarang ini banyak yang menilai sedang tidak baik-baik saja. Apalagi, tantangan global saat ini juga semakin seru dan mengkhawatirkan. Melalui ruwatan nasional, kondisi yang tidak baik-baik saja itu diharapkan bisa menjadi baik. Dan, negeri ini diharapkan mampu menaklukkan tantangan global saat ini.
Saat ini banyak warga sangat prihatin terhadap kondisi negerinya saat ini. Negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah, tetapi sepertinya belum banyak yang bisa dinikmati rakyatnya. Masih begitu banyak warga yang miskin. Bahkan, sebagiannya miskin ekstrem (nemen miskine). Sebaliknya, ada kelompok-kelompok tertentu yang kekayaannya sundul langit. Hartanya dimakan sampai tujuh turunan pun tidak akan habis. Sangat njomplang. Antara sumur dan langit lapis pitu.
Korupsi di negeri ini juga belum ada tanda-tanda akan berkurang. Belum ada upaya-upaya nyata dan konsisten untuk menurunkannya. Menurunkan kasus korupsi baik kualitas maupun kuantitasnya, baik jumlah pelakunya, maupun jumlah uang yang dikorupsi. Sampai-sampai ada guyonan: korupsi di negeri ini pasti segera turun. Yaa... Turun ke anak cucu, he he he he...
Saat ini, di negeri ini, juga banyak kelompok yang terus berkonflik. Salah satu contohnya, antara kelompok yang terus berusaha mendapatkan kepastian apakah ijazah Jokowi asli ataukah palsu. Ada demo-demo massa. Ada kontrademo. Pengesahan Rancangan Revisi Undang-Undang TNI juga menimbulkan sikap pro-kontra di sebagian masyarakat.
Itu hanya beberapa contoh. Intinya, antara kenyataan dan harapan di negeri ini ada gap yang jauh. Antara das sein (kenyataan) dan das sollen (idealnya/harapannya) njoplang. Sumber daya alam kaya raya, tapi rakyatnya miskin. Ruwatan diharapkan bisa mendekatkan antara das sein dan das sollen tersebut.
Mereka yang bersikap pesimistis terhadap kondisi negeri ini bahkan menganggap negeri ini sedang dalam kegelapan. Sedang serba tidak jelas. Baik jalan yang akan ditempuh, maupun target yang hendak dicapainya.
Meski harus diakui banyak juga warga yang bersikap optimistis. Presiden Prabowo Subianto pun sangat optimistis. Dalam sebuah video, presiden menganggap aneh jika ada orang yang menilai bahwa negeri ini, saat ini, sedang gelap. Menurut presiden, rakyat harus selalu optimistis.
Menurut saya, walau masih banyak warga yang menilai negeri ini baik-baik saja, tetapi gagasan perlunya ruwatan itu tetap patut dipertimbangkan. Mumpung kesialan-kesialan di negeri ini tidak semakin parah dan meluas.
Ruwatan yang saya wacanakan ini dalam pelaksanaannya tidak harus sama persis dengan ruwatan dalam tradisi orang Jawa. Tidak seperti orang tua (Jawa) meruwat anaknya. Orang tua sebagai pelaku ruwatan (subyek), dan anak sebagai orang yang diruwat (obyek ruwatan). Tidak seperti itu.
Ruwatan nasional yang saya wacanakan ini pelakunya adalah semua warga (yang bersedia melakukan ruwatan). Baik yang sedang korupsi ataupun yang belum. Sedangkan yang diruwat adalah negeri ini dan diri setiap warga negara negeri ini.
Ruwatan nasional ini polanya seperti gerakan pertobatan nasional. Semua warga negara melakukan tobat, mengakui adanya kesalahan selama ini, kemudian berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Selain itu, juga berdoa untuk kebaikan negeri ini, di masa kini, dan di masa datang.
Ruwatan nasional ini sebaiknya dilakukan secara TMS (terstruktur, masif, dan sistematis). Ada ruwatan nasional tingkat nasional, tingkat provinsi, tingkat kabupaten/kota, kecamatan, dan desa. Ruwatan dilakukan secara berjamaah di setiap tingkatan. Waktunya tidak harus dalam hari atau malam yang sama. Tetapi boleh juga beda hari. Jika waktunya sama dan serentak, itu insya Allah lebih baik. Bagaimana menurut pendapat Anda? (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana