Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Sugeng Rawoh, Medhayoh

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 13 April 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi Pendidikan.
Ilustrasi Pendidikan.

 

Oleh:
Agus Ari Afandi
Psikolog STIKes Rajekwesi Bojonegoro

 

MUNCUL banner bupati dan wakil bupati dengan tulisan sugeng rawuh, medhayoh untuk menyambut para pemudik lebaran. Dari ujung ke ujung dan beberapa instansi akan terlihat dengan jelas banner ini.

Kata sugeng rawoh, medhayoh mungkin tidak dikenal artinya bagi beberapa anak gen-Z. Maklum kosakata ini juga jarang dipakai oleh anak remaja jaman now. Namun ini adalah ungkapan yang menunjukkan kearifan lokal dalam menyambut tamu.

Sebagaimana lazimnya kata sugeng rawoh dipakai dalam menyambut tamu saat ada hajatan. Umumnya pada acara pesta perkawinan yang mengundang banyak tamu. Tuan rumah menggunakan kata ini sebagai ungkapan rasa bahagia menyambut kedatangan tamu.

Kata medhayoh adalah istilah budaya Jawa yang berarti bertamu. Medhayoh tidak hanya sekedar berkunjung secara fisik, tetapi juga bertemunya hati seseorang dengan saudara atau orang lain. Hal ini sesuai dengan situasi silaturahmi saat lebaran.

Pada momen ini para pemudik akan bersilaturahmi bertemu keluarga, teman di kampung halaman dengan beragam cerita dan pengalaman yang menyertai. Tidak jarang dalam obrolan ini akan ditampilkan cerita kesuksesan dengan ragam bukti yang menyertai. Rasa bahagia dan bangga akan menyatu dibalut suasana saling memaafkan.

Kebanggan sebagai wong jonegoro di perantauan akan dibuktikan saat medhayoh. Data mencatat bahwa saat ini ada dua wong jonegoro yang ada di kabinet. Prestasi luar biasa yang membuat kita berbangga bahwa putra daerah mempunyai kompetensi sehingga layak sebagai menteri.

Kebanggan mencapai suatu prestasi adalah proses yang membutuhkan persiapan, keuletan dan kerja keras. Merujuk pada visi bupati Bojonegoro sejahtera serta membanggakan maka untuk mewujudkannya diperlukan upaya dari semua pihak.

Langkah awal adalah mencapai kesejahteraan masyarakat. Potensi sumber daya alam saat ini yang dimiliki Bojonegoro sehingga memiliki anggaran pendapatan daerah yang cukup maka memungkinkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Tentu saja harus dikelola dengan baik dan amanah oleh para pemangku kebijakan.

Membangun sumber daya manusia yang unggul adalah sebuah investasi jangka panjang. Peningkatan indeks pembangunan manusia menjadi tugas bersama yang harus diwujudkan.

Data dari Badan Pusat Statistik Bojonegoro bahwa pembangunan manusia di Bojonegoro terus mengalami kemajuan. Sejak tahun 2022, status pembangunan manusia Bojonegoro sudah berada di level “tinggi”. Selama 2020–2023, IPM Bojonegoro rata-rata meningkat sebesar 0,76 persen per tahun, dari 70,18 pada tahun 2020 menjadi 71,80 pada tahun 2023. Meskipun angka ini masih di bawah IPM provinsi Jawa Timur yang mencapai 74,65.

Salah satu upaya meningkatkan indeks pembangunan manusia adalah meningkatkan kualitas penduduk, kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan. Tahun ini dibuka SMA negeri 2 Taruna Pamong Praja yang diharapkan dapat meningkatkan angka IPM Bojonegoro.

Pengajuan dipensasi perkawinan juga masih terjadi di Bojonegoro, terutama di daerah pinggiran. Meskipun angkanya ada kecenderungan menurun dari beberapa tahun ini. Salah satu penyebab mereka mengajaukan dispensasi perkawinan adalah karena mereka putus sekolah. Biasaya hanya sampai SMP.

Ketika sudah tidak bersekolah dan tidak ada aktivitas maka orang tua akan menikahkan anaknya. Apalagi melihat anaknya sudah runtang runtung saat pacaran dan menghindari terjadi kehamilan sebelum pernikahan maka orang tua akan memilih untuk menikahkan anaknya. Memang tidak salah kekawatiran seperti itu namun masih bisa dicegah.

Pemerintah daerah bisa lebih meningkatkan lagi terkait pemberian beasiswa pendidikan sehingga minimal sampai lulus SMA. Dengan pendidikan yang baik maka akan merubah pola pikir sehingga lebih matang dalam membuat keputusan terkait masa depannya.

Perkawinan anak juga berdampak bagi kesehatan ibu dan anak. Bagi ibu terutama terkait kesehatan reproduknya, sedangkan bagi anak terkait gizinya. Sehingga dikhawatirkan terjadi kasus stunting.

Dampak dari stunting juga mempengaruhi kognitif anak. Dari sini akan memengaruhi proses akademis anak ketika menempuh pendidikan. Maka mencegah stunting juga bisa berdampak pada pendidikan anak.

Ibarat sebuah lingkaran, ketika akan meningkatkan kesejahteraan ternyata dipengaruhi oleh indeks pembangungan manusia. Indeks pembangunan manusia akan meningkat bila kualitas penduduk, kualitas pendidikan, kualitas kesehatan dapat dilakukan dengan baik. Kualitas pendidikan dapat ditunjukkan dengan kesempatan menempuh pendidikan menengah hingga tinggi.

Bila kesejahteraan sudah dicapai maka rasa kebanggaan akan muncul. Kebanggaan terkait kesuksesan dalam hidup, bisa dalam bidang kerja, usaha. Kesuksesan tidak diartikan dengan banyaknya harta tapi bisa bermanfaat bagi orang lain.

Maka menyiapkan wong jonegoro yang sejahtera dan membanggakan adalah proses panjang yang harus dilalui tidak secara instan. Kepala daerah sebagai pemimpin harus membuat kebijakan yang bisa mewujudkannya.

Menyambut pemudik tidak hanya dengan ucapan sugeng rawoh tapi juga menyiapkan program yang bisa menyejahterakan penduduk. Sejahtera yang di Bojonegoro dan membekali ilmu sehingga sejahtera di perantauan.

Tentu kita berharap bahwa di masa yang akan datang juga akan lahir generasi wong jonegoro yang membanggakan dengan kompetensi dan prestasi yang dimiliki. Sebagai cerita saat medhayoh mudik lebaran. Mudik yang menjadi tradisi bercerita pengalaman kesuksesan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Medhayoh #indeks pembangunan manusia #sumber daya manusia #dispensasi #Pendidikan #IPM #pernikahan #kesehatan #pembangunan #beasiswa #perkawinan #bojonegoro #orang tua #Sugeng Rawuh #silaturahmi