Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Memaknai Peniadaan Wisuda Siswa

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 23 Maret 2025 | 23:00 WIB
Infografis Larangan Disdik Jatim Terhadap Wisuda (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Infografis Larangan Disdik Jatim Terhadap Wisuda (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Susanto
Kepala Sekolah SMAN 1 Sugihwaras, Bojonegoro

 

Dalam berita Radar Bojonegoro Jawa Pos grup edisi Jumat 14 Maret 2025 diberitakan Disdik Jatim larang wisuda siswa. Ada beberapa poin terkait dengan kelulusan siswa 2025 antara lain: Kegiatan wisuda atau purnawiyata ditiadakan, dilarang wisuda atau purnawiyata di luar sekolah, dilarang memaksa siswa memakai jas atau kebaya dan sedih dan sejenisnya di kegiatan kelulusan, dilarang menarik apapun untuk tujuan wisuda atau purnawiyata kecuali ada donatur sukarela dan tidak mengikat dan kelulusan dapat dilakukan secara sederhana baik per kelas atau satu angkatan tanpa membebani orang tua siswa atau wali murid.

Imbauan Dinas Pendidikan Jawa Timur yang peniadaan wisuda atau purnawiyata siswa SMA/SMK, terutama jika dilakukan di luar lingkungan sekolah atau dengan biaya tinggi, tentu memunculkan berbagai respons di kalangan siswa, orang tua, dan sekolah.

Larangan ini bertujuan untuk menghindari pemborosan, mengurangi beban ekonomi orang tua, serta memastikan kelulusan tetap menjadi momen yang bermakna tanpa unsur paksaan dalam hal pakaian atau biaya tambahan. 

Lantas apa sebenarnya format yang tepat untuk pelepasan dan esensi kelulusan bagi siswa dan tidak memberatkan orang tua?

Esensi Kelulusan

Perlu disadari bahwa kelulusan merupakan momen penting bagi siswa. Mereka telah melalui perjuangan panjang dalam belajar, menghadapi ujian, dan menyiapkan masa depan. Perayaan kelulusan bukan sekadar seremoni, tetapi juga bentuk penghargaan atas kerja keras mereka.

Oleh karena itu, meskipun wisuda konvensional ditiadakan, sekolah tetap perlu mencari cara agar kelulusan bisa dirayakan dengan cara yang menyenangkan, berkesan, dan tetap sederhana. 

Kelulusan adalah momen berharga dalam kehidupan siswa SMA dan SMK. Namun, kebijakan peniadaan pelepasan dalam bentuk wisuda atau purnawiyata yang membebani orang tua harus dipandang sebagai langkah positif menuju perayaan yang lebih inklusif, sederhana, dan tetap berkesan. 

Di SMA dan SMK di Bojonegoro, misalnya, sekolah dapat mengemas kelulusan dalam bentuk kegiatan yang lebih kreatif dan tidak membebani orang tua. Misalnya, acara syukuran sederhana di lingkungan sekolah, pentas seni oleh siswa, atau pemberian apresiasi kepada siswa berprestasi.

Penting juga untuk mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan kepada perjuangan siswa serta guru. Dengan demikian, perayaan kelulusan tetap memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar seremonial belaka. Intinya, yang perlu dihindari bukan perayaannya, tetapi bentuk perayaan yang berlebihan dan membebani. 

Dengan pendekatan yang lebih sederhana, bermakna, dan menyenangkan, siswa SMA/SMK di Jawa Timur, khususnya di Bojonegoro, tetap bisa merasakan euforia kelulusan tanpa harus melanggar aturan atau membebani orang tua. Yang terpenting adalah esensi dari kelulusan itu sendiri: sebuah pencapaian yang patut disyukuri dan menjadi awal dari perjalanan baru dalam kehidupan mereka.

Mendidik dan Tanpa Hedonisme

Pelepasan siswa SMA seharusnya menjadi momen reflektif dan inspiratif, bukan sekadar perayaan mewah yang sarat dengan gaya hidup konsumtif. Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan siswa, pelepasan dapat dikemas dengan lebih mendidik, sederhana, dan tetap berkesan. Berikut beberapa konsep pelepasan siswa yang dapat diterapkan: 

Pertama, Wisuda Kebajikan: Syukuran dan Berbagi, Mengadakan syukuran sederhana di sekolah yang diisi dengan doa bersama dan refleksi perjalanan pendidikan.Menyelenggarakan bakti sosial, seperti memberikan santunan ke panti asuhan atau membantu warga sekitar.  Program "Satu Siswa Satu Kebaikan", di mana setiap siswa melakukan aksi sosial sebelum kelulusan.

Kedua,  Pelepasan Inspiratif dengan Alumni dan Tokoh Motivasi, Mengundang alumni sukses untuk berbagi pengalaman, motivasi, dan wawasan bagi para lulusan.  Sesi talkshow karier dan masa depan agar siswa siap menghadapi dunia perkuliahan atau dunia kerja. 

Ketiga, Festival Karya: Menghargai Kreativitas Siswa, Mengadakan pameran karya ilmiah, seni, dan budaya sebagai bentuk apresiasi terhadap bakat dan prestasi siswa.  Pagelaran seni tanpa kemewahan berlebihan, tetapi lebih menampilkan kreativitas dan ekspresi diri siswa.  Bazar kewirausahaan siswa yang menunjukkan hasil usaha mereka selama sekolah. 

Keempat, Refleksi dan Perpisahan Bermakna, Surat untuk Masa Depan: Siswa menulis pesan untuk diri mereka yang akan dibuka beberapa tahun mendatang.  Pesan Guru dan Orang Tua: Video atau sesi langsung di mana guru dan orang tua menyampaikan harapan dan doa bagi para lulusan. 

Kelima, Pelepasan Ramah Lingkungan dan Digital, Mengurangi penggunaan dekorasi berlebihan dan memilih konsep ramah lingkungan seperti pelepasan dengan menanam pohon sebagai simbol harapan.  Membuat yearbook digital untuk mengurangi biaya cetak dan limbah kertas.  

Nah, Pelepasan siswa yang mendidik dan tanpa hedonisme lebih menekankan pada makna perjuangan, syukur, dan persiapan masa depan. Dengan konsep yang sederhana tetapi berkesan, siswa tidak hanya merayakan kelulusan tetapi juga mendapatkan pengalaman yang membentuk karakter dan kepedulian sosial. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #Disdik Jatim #Pendidikan #kelulusan siswa #kerja keras #purnawiyata #Ekonomi #SMAN 1 Sugihwaras #kepala sekolah #Siswa #orang tua #Sekolah #Bojonegoro Cepu #wisuda #syukuran