Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Opini: Songsong Milad Muhammadiyah Ke 112 Tahun 2024: Simbol-Simbol Tersembul Dakwah Muhammadiyah

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 17 November 2024 | 20:45 WIB
Bendera Muhammadiyah (IST/ RADAR BOJONEGORO)
Bendera Muhammadiyah (IST/ RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Ahmad Fanani Mosah
Anggota Dikdasmen PCM Babat

 

PADA 18 November 2024 ini merupakan hari milad (lahirnya) Muhammadiyah di Indonesia. Dengan usianya yang ke-112 tahun, warga Muhammadiyah lebih maju dengan alam pikirannya. Disamping itu siap menerima budaya awal yang di bawa pendirinya, Muhammad Darwis (nama kecil KH.Ahmad Dahlan) ketika di kampung Kauman, Jogyakarta sangat dekat dengan kejawen. 

Beberapa tahun silam Kota Wingko Babat pernah menjadi tuan rumah  Temu LPCR (Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting) Muhammadiyah se Indonesia. Lokasi pusat kegiatannya di lereng-lereng gunung Desa Pucakwangi, Kecamatan Babat.  Berbagai macam atraksi seni ditampilkan.

Mulai Reog Ponorogo, gerak dan lagu, Tapak Suci, Musik Pop Kawula Muda, Qosidah Modern, dan sebagainya. Setelah dianalisa, sajian boleh dibilang spektakuler dan bikin heboh masyarakat Kota Wingko Babat itu ternyata sejalan paunjen-unen Imam Ghozali, yang mengatakan : “Orang yang tidak mengenal seni itu bagaikan binatang, jiwanya kaku…”.

Dari itulah guna menangkal tuduhan-tuduhan watak kakunya Muhammadiyah agar tidak terkesan picik pengetahuan, Prof.Dr.H.Haedar Nashir, M.Si dalam tulisannya di majalah Suara Muhammadiyah menjelaskan, sejak dahulu Muhammadiyah sudah lekat-erat dengan seni dan kebudayaan.

Maka tak salah pula manakala Persyarikatan Muhammadiyah mengapresiasi seni budaya itu dengan memasang bidang LSBO (Lembaga Seni Budaya & Olahraga) yang diembannya. Bahkan sebelum lembaga yang boleh dibilang baru ini muncul, Muhammadiyah secara umum sudah melahirkan group drum-band HW (Hisbul Wathan) yang sudah kondang kaloka di jagad raya. Kemudian lahir pula seni beladiri berupa pencak silat tapak suci, dan lain sebagainya.

Menyoal seni dan budaya, jika kita tengok ke belakang, pusat berdirinya Muhammadiyah di kampung Kauman Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dipelopori Ahmad Dahlan sangat berdekatan dengan budaya Jawa murni.

Apa lagi ditunjang dengan adanya abdi dalem yang tentu saja kental amat dengan tradisi Jawa. Mulai busana beskap, surjan, blangkon, keris, sandal selop yang kesemuanya itu tidak lebih dari aksesoris seni dan keindahan.

Sementara pada kurun waktu itu (berdirinya Muhammadiyah 1912) pemerintah kolonial Belanda masih berkuasa, dengan busana khasnya : celana begi-pantopel versi Napoleon Bonaparte dan topi kompeni “polka”.  Akan tetapi segala atibut dan busana yang dipakai penduduk pribumi Indonesia khususnya Jogja dan Jawa tengah, tetap bertahan pada busana bernuansa kejawaan. Bukan pakaian ala Belanda. Karena memang rerata mata pencaharian warga Kauman kala itu bisnis di bidang perbatikan. Termasuk Ahmad Dahlan  muda beserta keluarganya juga sebagai juragan kain/baju batik terkenal.

Kemudian persyarikatan Muhammadiyah berpusat di Jogjakarta itu dari waktu ke waktu berkembang luas sehingga dibentuklah di beberepa propinsi, sebagai PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah). Sedangkan PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) berkedudukan di kota/kabupaten daerah tingkat II. Adapun di tingkat kecamatan disebutlah  PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah).

Selanjutnya pada dekade modern ini seiring banyaknya warga Muhammadiyah di berbagai belahan manca negara, terbentuklah PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di luar negeri. Paling tidak hingga saat ini sudah ada sekitar 30 PCIM berdiri di beberapa negara dunia.

Secara umum daya pemikiran Muhammadiyah bisa diterima semua pihak. Asalkan budaya-budaya yang digeluti tidak mengandung unsur TBC (Takhayul – Bid’ah – Churofat). Semua itu dalam rangka pemantapan dan pemurnian aqidah yang selama ini menjadi materi pokok Muhammadiyah dalam berda’wah (amar ma’ruf nahi munkar). Akan tetapi ada sebagian orang (warga/simpatisan Muhammadiyah) yang bersifat apriori dalam berkesenian dan berbudaya.

Misalnya, ketika ada sepasang pengantin dalam menjalani resepsi pernikahannya. Orang yang fanatik bermuhammadiyah pasti mengecam pihak-pihak terkait yang terlibat di dalamnya. Mulai juru rias, MC, hingga tuan rumah.

Mereka mendapat tuduhan sebagai orang yang musyrik. Karena ada keris yang terpasang. Ada kembang yang ditabur. Ada telur yang diinjak. Ada petètan (hiasan) pisang dengan reronce janur. Terkadang ada aroma dupa mengembara di udara. Dan beberapa rangkaian tata-upacara adat yang dijalani. 

Padahal sama sekali rangkaian acara (seremonial) semacam itu tidak mengajak kearah pensekutuan kepada Allah. Apa yang dilakoni oleh para juru rias beserta krunya (MC dan asisten rias) hanya semata-mata melaksanakan keindahahan lewat budaya pengantin jawa. Di dalamnya penuh dengan lambang atau simbul-simbul yang senapas dengan ajaran Islam. Antara lain pertemuan kedua mempelai, terjadi jabat erat seorang istri menyambut suaminya.

Kemudian Menginjak telur, bermakna suami memecah pikiran, di dalam telur terdapat biji kuning telur, sebagai bibit yang nantinya sebagai generasi penerus dari hasil perkawinan mereka berdua.

Istri membasuh kaki suami, pertanda pengabdian seorang istri kepada suaminya sangat tinggi. Janur blèketepe, simbol selamat datang di pintu gerbang tuan rumah.

Susul besan, merupakan menyambut tetamu terutama besan dihormati untuk ikut dalam resepsi.

Kacar-kucur, lambang suami memberi nafkah kepada istri yang kemudian asset kekayaannya untuk sementara ditabung-titipkan kepada ibu mempelai wanita. Serta Sungkeman, pertanda berbakti seorang anak kepada kedua orangtuanya.

Bukankah di persyarikatan Muhammadiyah juga ada lembaga yang membidangi seni dan budaya, bahkan digabung dengan olahraga. Namanya LSBO (Lembaga Seni Budaya dan Olahraga). Program-programnya antara lain, meningkatkan kwalitas dan kwantitas serta prestasi Muhammadiyah di bidang seni, budaya dan olahraga. Mengembangkan seni budaya yang sejalan dengan nilai-nilai/tatanan aqidah islamiyah.

Dengan olahraga membangun masyarakat agar sehat jasmani – rohani. Membentuk grup musik dan atau perkumpulan seni religi. Membentuk forum pengkajian budaya, dan mengembangkan apresiasi seni, sastra dan kepariwisataan islami.

Kemudian menginvetarisasi potensi seni, budaya dan olahraga yang ada di sekitarnya masing-masing, mendorong tumbuh-kembangnya seni dan budaya yang memiliki ciri khas di setiap persyarikatan, dan memfasilitiasi berkembangnya seni dan budaya sebagai sarana dakwah kultural.

Setidaknya dengan paparan mengandung seni dan edukasi di atas dapat menambah wawasan atau pengetahuan kepada para pembaca dan semua pihak. Khususnya warga persyarikatan Muhammadiyah agar tidak dianggap seperti katak dalam tempurung. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Dakwah #seni #suara muhammadiyah #indonesia #ahmad dahlan #Budaya #Edukasi #muhammadiyah #dakwah muhammadiyah #babat #pcim #milad