Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Solusi Pemenuhan Gizi Anak Usia Sekolah

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 22 September 2024 | 22:00 WIB

Ilustrasi Anak. (IST/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Anak. (IST/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
ARIF SABTA AJI

 

"SUSU Ikan" menjadi salah satu allternatif sumber minuman tinggi protein untuk program makan bergizi gratis. Rencana kebijakan ini memantik banyak pendapat dari para pakar terkait tepat tidaknya kebijakan ini.

Menurut penulis, alasan yang mendasar rencana kebijakan ini menjadi layak direalisasikan adalah karena dapat meningkatkan diversifikasi pangan, kandungan zat gizi tertentu, bebas allergen, dan solusi sementara untuk kekurangan pasokan susu sapi yang ada di Indonesia.

Menurut Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Pada tahun 2022, defisit ketersediaan susu sapi mencapai 62,81 ribu ton. Pada tahun berikutnya, 2023 defisit menurun menjadi 61,79 ribu ton. Namun di tahun 2024 defisit ketersediaan susu sapi mengalami peningkatan mencapai 98,64 ribu ton.

Istilah “Susu Ikan” sendiri berasal dari produk Hidrolisat Protein Ikan (HPI) dimana produk ini dapat berpotensi menjadi salah satu alternatif penyelesaian masalah gizi masyarakat seperti kurang energiprotein (KEP).

Proses hidrolisis menghasilkan HPI melalui proses memecah molekul komplek menjadi senyawa sederhana menggunakan enzim protease sebagai penghidrolisisnya. Bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat produk HPI salah  satunya adalah hasil samping dari industri perikanan, seperti potongan daging ikan, kepala ikan, kepala udang, dan tulang ikan. Senyawa fungsional pada HPI memiliki kelebihan dapat memperkuat cita rasa, memiliki kelarutan tinggi, serta dapat membentuk tekstur dan kualitas bahan pangan menjadi lebih baik karena lebih mudah dicerna, kandungan asam amino lengkap, dan protein tinggi.

Baca Juga: Naysilla Dea Aulia, Tertarik Ilmu Gizi Melihat Stunting di Indonesia Masih Tinggi

Kandungan protein dan asam amino yang tinggi produk HPI “Susu Ikan” dapat berpotensi untuk diaplikasikan ke berbagai produk pangan khususnya dibuat minuman yang mirip seperti susu atau cairan yang berwarna putih. Namun, diperterhadap pengujian profil kimia HPI, formulasi produk, pengujian atribut mutu penerimaan konsumen, serta uji klinis pada konsumen. Kelebihan dari produk HPI susu ikan ini dari sisi gizinya adalah kandungan protein yang tinggi, asam amino lengkap, sifat kelarutan tinggi, serta potensi senyawa bioaktifnya serta produksi “Susu Ikan”. Selain itu produk HPI ‘Susu Ikan’ ini juga menjadi alternatif bagi anak yang tidak menyukai ikan. Kekurangannya adalah produk HPI “Susu Ikan” kurang familiar dikalangan masyarakat sehingga penerimaan produk tersebut masih perlu beberapa tahapan untuk dapat diterima oleh masyarakat.

Ada kesalahan mendasar saat munculnya berita terkait “Susu Ikan” yaitu penggunaan nama susu ini yang tidak sesuai dengan arti harfiah. Ketidaktepatan istilah ini diduga untuk meningkatkan nilai dan strategi marketing dari produk tersebut sehingga membuat bingung Masyarakat.

Produk susu yang tidak berasal dari kelenjar mamae selain hewan disebut ‘Sari’ contohnya adalah Sari Kedelai, Sari Kacang Hijau, Sari Almond. Nama yang benar seharusnya adalah ‘Sari Ikan’ .

Selain itu, produk HPI “Susu Ikan” ini tegolong pada Ultra processed food ada perubahan bentuk dari bahan makanan alaminya yang dijadikan bubuk susu. Susu sapi lebih baik karena tidak diproses terlalu banyak; susu sapi kemasan hanya perlu dipasteurisasi atau sterilisasi.

Namun, jika dari ikan perlu melalui proses yang rumit, harus dihancurkan, dipanaskan, dan diekstrak hingga aromanya dihilangkan. Semakin banyak pengolahan, terutama pada suhu tinggi, akan menyebabkan penurunan kualitas dan nilai gizi.

Baca Juga: Indeks Gini, Gizi, dan Indeks Persepsi Korupsi

Dampak lainnya adalah beberapa merek produk HPI ‘Susu Ikan’ kandungan gulanya cukup tinggi dan ada tambahan maltodekstrin yang memiliki Tingkat indeks glikemik jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir sehingga menjadi tidak baik untuk anak-anak.

Secara umum, makanan alami lebih baik untuk kesehatan dibandingkan produk ultra olahan. Makanan alami memberikan zat gizi yang lebih baik dan mendukung kesehatan jangka panjang. Jika memungkinkan, pilihlah makanan segar dan minimalkan konsumsi produk yang telah diproses secara berlebihan.

Solusi yang menjanjikan untuk masalah gizi yang ada di Indonesia salah satunya adalah rencana kebijakan pemberian makanan bergizi gratis dengan produk “Susu Ikan” untuk pemenuhan gizi anak usia sekolah.

Baca Juga: Refleksi Hari Anak Nasional 23 Juli 2024: Menjadi Orang Tua Pembelajar

Kondisi ini memanfaatkan kekayaan sumber daya laut, “Susu Ikan” tidak hanya dapat meningkatkan status gizi anak, tetapi juga dapat menghasilkan keuntungan ekonomi bagi nelayan dan komunitas pesisir. Namun, untuk kebijakan ini berhasil diterapkan, masyarakat, lembaga pendidikan, dan sektor swasta harus bekerja sama.

Kemudian penggunaan istilah susu ikan ini harus bisa diperbaiki karena belum tepat dengan kenyataannya. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Gratis #Pemenuhan #program makan #SUMBER #gizi anak #protein #susu ikan #Tinggi Protein #protein ikan #minuman #alternatif #bergizi #asam amino #hpi #Gizi #Sekolah