Oleh:
Reyta Noor.O
Analis Kebijakan
Tujuh Puluh Delapan Anak Terseret Kasus Pidana, sebuah Headline berita yang menyedihkan menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tanggal 23 Juli 2024. Berdasarkan data dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Bojonegoro, terdapat sekitar 78 perkara anak yang ditangani oleh Bapas Bojonegoro (Radar Bojonegoro, Edisi Minggu 14 Juli 2024). Tindak pidana yang dilakukan anak-anak juga bermacam-macam mulai dari kasus kekerasan, perkara asusila, pencurian, senjata tajam, dan penggunaan obat-obat terlarang.
Anak adalah amanah. Sebuah kalimat sederhana namun sarat makna. Amanah berarti kepercayaan yang diberikan kepada seseorang atas sesuatu. Dalam konteks ini, maka setiap orang tua dipercaya mampu untuk bertanggung jawab dalam menjaga dan merawat anak menjadi generasi yang berkualitas. Tanggung jawab orang tua ada di sepanjang proses tumbuh kembang anak hingga mereka mampu secara mandiri mengelola kehidupannya.
Tahun 2045 bangsa Indonesia genap berusia 100 tahun. Pada tahun tersebut, Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu negara maju yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Oleh karena itu pemerintah berharap pada usianya yang genap satu abad bisa memiliki generasi emas yang akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut. Untuk mewujudkan generasi emas, tentu orang tua memiliki peranan yang sangat penting.
Upaya mewujudkan generasi emas dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada masa itu anak mengalami golden period (periode emas), artinya masa 1000 HPK ini merupakan kesempatan yang sangat penting bagi orang tua untuk membangun dan menetapkan fondasi kesehatan dan perkembangan anak yang optimal. Selama periode 1000 hari pertama kehidupan terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat, yang mendukung seluruh proses pertumbuhan anak dengan sempurna. Oleh karena itu asupan gizi anak harus tercukupi dengan optimal dan dilanjutkan dengan pemberian asupan gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan usianya.
Peran orang tua selanjutnya adalah mendampingi proses tumbuh kembang anak. Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda sesuai zamannya. Seperti saat ini, orang tua harus mampu mendidik anak ditengah gempuran arus teknologi yang berkembang sangat pesat. Orang tua harus melek teknologi, jangan sampai proses tumbuh kembang mereka justru lebih banyak didapat dari dunia maya melalui gadget. Ya, kita memang tidak bisa melepaskan anak-anak dari gadget, namun peran orang tua sangat penting dalam memberikan pondasi bagaimana anak lebih bijak dalam menggunakan gadget, bermedia sosial dan menyaring informasi dari internet. Karena salah satu dampak negatif dari informasi yang tidak disaring dari internet dapat menyebabkan anak-anak bersinggungan dengan masalah hukum.
Dari sisi akhlak dan budi pekerti, maka orang tua harus mampu menjadi role model yang baik bagi anak-anak. Berita carut marut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi salah satu hal yang membuat miris. Bagaimana tidak, beberapa kecurangan PPDB kenyataannya juga ada andil dari orang tua. Mulai dari jual beli sertifikat prestasi hingga pemindahan status anak dari dokumen kartu keluarga untuk mendapatkan sekolah unggulan. Hal ini jamak terjadi di beberapa daerah. Lalu apa yang kita harapkan di masa depan? Jika tidak sejak dini kita tanamkan kejujuran kepada anak-anak, maka mustahil kita dapat menghilangkan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dari negeri ini.
Mendidik anak adalah sebuah seni, karena setiap orang tua harus memiliki kreativitas dan cara yang berbeda dalam mendidik anak. Anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka kita tidak akan pernah bisa menyamakan cara mendidik anak versi orang lain dengan cara kita. Terkadang karena ambisi orang tua justru anaklah yang menjadi korban. Seringkali ada orang tua yang tidak mau anaknya kalah dengan anak orang lain, atau menginginkan anaknya berprestasi sama dengan anak yang lain. Tak ayal banyak anak-anak yang tidak bisa menikmati masa kanak-kanaknya, karena mereka seharian sudah penuh dengan jadwal les yang memenuhi otaknya.
Orang tua harus mampu memahami potensi setiap anak, dan membiarkan mereka berkembang sesuai bakat masing-masing. Tugas orang tua adalah mendampingi dan mengarahkan bukan mendikte. Jika terlalu banyak didikte orang tua, maka anak akan sangat tergantung pada orang tua dan tidak berani mengambil keputusan sendiri. Mereka akan menjadi generasi lemah, yang selalu bergantung pada orang lain.
Kita harus mau menjadi orang tua pembelajar, dan mendidik anak sesuai dengan tuntutan zaman. Apa yang akan kita tuai di tahun 2045 adalah apa yang kita tanam hari ini. Pilihan ada di tangan orang tua masing-masing, kita akan menciptakan generasi emas atau generasi lemas. Mari terus belajar untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita. Moment Hari Anak Nasional, menjadi sebuah pengingat bahwa di pundak merekalah akan kita gantungkan masa depan bangsa ini. Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak hebat di seluruh Indonesia. Generasi Emas, Indonesia Maju.
Editor : Yuan Edo Ramadhana