Oleh:
Ali Efendi, M.Pd.
Kepala SMPM 14 PP. Karangasem Paciran & Sekretaris MKKS SMPS Lamongan
Kedatangan bulan Ramadan senantiasa disambut umat Islam di penjuru dunia menyambut dengan rasa suka cita, karena Ramadan merupakan salah satu bulan mulia yang memiliki banyak keistimewaan. Tidak hanya perintah wajib menjalankan ibadah berpuasa, tetapi amalan yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Selain itu, terdapat peristiwa besar yang senantisa ditunggu kehadirannya, seperti; peringatan malam Nuzul Quran tanggal 17 Ramadan dan kedatangan Lailatul Qadar di 10 malam terakhir pada penghujung bulan.
Ramadan disebut juga dengan bulan pendidikan (syahrut tarbiyah), pesan-pesan pendidikan yang terkandung tidak hanya berkaitan dengan pisik, tetapi juga terkait dengan spiritual dan sosial. Selama sebulan umat Islam langsung praktik pendidikan menajemen waktu dengan baik, seperti; sahur dan berbuka tepat, paket salat berjamaah (salat isya, taraweh, dan witir). Di samping itu, seorang diajarkan untuk berkata baik dan menahan keinginan nafsu di luar kemampuan nalar sehat, serta pendidikan sosial peduli sesama. Maka Ramadan menjadi momen yang baik dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) dalam satuan pendidikan formal.
Pesan-pesan yang terkandung dalam Ramadan sejalan dengan tujuan “Pendidikan Nasional untuk berkembangnya potensi peserta agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Nomor 20 Tahun 2003: Pasal 3). Subtansi tujuan pendidikan tersebut bisa dikatakan mengambil dari ruh yang terkandung dalam QS. Albaqarah: 183 tentang perintah menjalan kewajiban puasa bagi umat Islam, yaitu kata beriman dan bertakwa.
Kurikulum Berbasis Spiritual dan Kesalelahan Sosial
Ramadan benar-benar disambut istimewa pengelola lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) dan peserta didik, spanduk bertuliskan Marhaban Yaa Ramadan menghiasi pintu gerbang sekolah untuk menyambut kedatangannya. Pimpinan sekolah menggelar rapat khusus membahas PBM selama bulan Ramadan dengan menyusun jadwal modifikasi pembelajaran agar kegiatan lebih efektif dan efesien. Selain itu, kegiatan ekstra keagamaan yang diterima peserta didik bertambah dengan mempraktikkan langsung di sekolah.
Beragam kegiatan di sekolah selama Ramadan diikuti peserta didik dengan antusias dan menyenangkan, seperti; Pondok Ramadan atau Pesantren Kilat, praktik memandikan jenazah, salat dhuha dan dhuhur berjamaah, berbagi takjil, serta pengumpulan zakat fitrah bagi seluruh peserta didik. Modifikasi PBM selama Ramadan berlangsung menjadi salah satu praktik baik dan menjadi tradisi sekolah, bahkan PBM di bulan Ramadan sebagai bentuk pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan semangat dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM).
Banyak sekolah umum yang menyelenggarakan Pondok Ramadan selama 3 hari sampai sepekan dengan mandiri atau bekerja sama dengan pondok pesantren (boarding school). Tujuannya supaya peserta didik merasakan tinggal di pesantren sebagaimana peserta didik yang menuntut ilmu di pesantren. Di samping itu, peserta didik bisa belajar nilai-nilai kepesantrenan, seperti; kemandirian (i’tamadu alan-nafsi), kebersamaan (syarakat), kesederhanaan (zuhud), rendah hati (tawadhu’), kesetiakawanan (ta’awun), ketulusan (ihlash), kemasyarakatan (mujtama’iyah), dan sebagainya.
Sistem boarding shcool (pesantren) yang terapkan sekolah umum selama Ramadan diharapkan mampu menjadi titik awal kesadaran spiritual dan sosial bagi peserta didik. Walaupun waktunya tergolong singkat, tetapi menjadi pembelajaran kehidupan selama tinggal di asrama. Target utama pembelajaran di bulan Ramadan untuk meningkatkan nilai ketakwaan sebagai bentuk tanggung jawab pribadi kepada Sang Pencipta. Selain tujuan spiritual, pembelajaran juga diharapkan mampu membentuk peserta didik memiliki kesalehan sosial yang akan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh pembelajaran paling sederhana dalam kurikulum Ramadan adalah menanamkan nilai kemandirian dan kebersamaan. Selama kegiatan Pondok Ramadan peserta didik hidup secara mandiri berpisah sementara dengan orangtunya, maka kepada teman-temannya membuutuhkan bantuan. Selanjutnya akan timbul nilai kebersamaan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan, suka dan duka akan dihadapi bersama-sama sebagai bentuk kesetiakawanan sosial. Pondok Ramadan menjadikan peserta didik sebagai santri sementara selama 3 sampai 7 hari, namun dampaknya positif dan sebagai pengalaman kehidupan yang tidak terlupakan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana