Penulis:Teguh Haryono
Minggu lalu saya sempat dua hari dua malam di Alor dan semalam di Kupang NTT. Saya sebagai salah satu dari lima inisiator Daulat Budaya Nusantara telah menyelesaikan titik lokasi keempat dari sembilan yang kami rencanakan. Daulat Budaya Nusantara diharapkan menjadi media refleksi untuk mengharmoniskan alam dan manusia. Belajar dari alam sekitar dimana peninggalan-peninggalan yang masih tersisa diambil nilai- nilai sejarahnya untuk dijadikan bahan pembelajaran. Peninggalan yang berwujud fisik maupun yang berwujud non fisik. Budaya?
Kata "budaya" sendiri memiliki asal-usul dari dua bahasa, yakni Sanskerta dan Inggris. Dalam Sanskerta, "budaya" atau "buddhayah" merupakan bentuk jamak dari kata "buddhi," yang merujuk pada budi atau akal manusia. Dalam bahasa Inggris, konsep budaya dikenal dengan kata "culture", berasal dari bahasa Latin "colere" yang memiliki arti mengolah atau mengerjakan. Istilah "culture" juga diadopsi dalam bahasa Indonesia sebagai "kultur." Budaya erat kaitannya dengan aspek budi dan akal manusia. Mewakili pola atau cara hidup yang berkembang dalam sekelompok orang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Budaya terbentuk dari beberapa unsur yang rumit. Diantaranya yaitu adat istiadat, bahasa, karya seni, agama dan bahkan sistem politik. Kita memiliki banyak literatur dan ahli budaya yang fokus pada kekhasan setiap suku dan daerah seperti Jawa, Sunda, Minang, Madura, Papua, dan lainnya. Tetapi bukankah esensi sejati budaya Indonesia terletak pada kesepakatan bersama untuk hidup berdampingan dalam keberagaman? Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia bukan hanya satu suku, satu daerah, satu tradisi, atau satu agama. Indonesia merupakan mozaik warna-warni kehidupan suatu masyarakat di suatu daerah, yang kita sepakati sebagai Indonesia, yang saling bersatu.
Situasi dan kondisi dunia yang kita tinggali sudah dalam beberapa saat dicirikan dengan kondisi VUCA. Volatility (perubahan naik turun serba cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitias), dan Ambiguity (ambigu). Kondisi ini mulai bergeser semenjak pandemic Covid melanda menjadi BANI. Brittle (rapuh), Anxious (kekhawatiran), Non-Linear (tidak linier), dan Incomprehensible (sulit dipahami). Layaknya yang kita pahami, semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri yang tetap. Lalu?
Situasi kondisi akan terus berubah. Yang tidak siap berubah, akan disapu tsunami perubahan. Apakah kita akan diam seperti gabah den interi ? Pilihan diam bukanlah pilihan terbaik. Pilihan hanya ikut saja, bukan pula pilihan yang sebaiknya kita pilih. Perubahan harus dan perlu dilakukan, namun tetap berpegang pada akar kuat yang tidak menyebabkan kita seperti gabah den interi. Itulah budaya. itulah yang telah mengantarkan kita semua masih bisa berdiri di negara yang kita cintai.
Saya belum menemukan apa itu Budaya Indonesia sesungguhnya. Yang agak mendekati namun masih tidak mudah disimpulkan, Budaya Indonesia mencakup kesatuan dalam keberagaman tadi. Dalam Budaya Indonesia perbedaan diakui dan dihargai sebagai kekayaan bersama. Ia mencerminkan harmoni antara kekayaan lokal dan identitas nasional, membentuk suatu mozaik yang memperkuat jati diri bangsa. Indonesia memiliki ragam budaya daerah, sehingga Budaya Indonesia lebih dari sekadar penjumlahan bagian-bagiannya. Ia adalah refleksi dari seluruh budaya yang ada.
Bukankah dunia sekarang telah menyatu dan keterbukaan serta keterhubungan antar daerah dan negara tidak bisa lagi dibendung? Batas-batas mulai kabur. Penyatuan ini mengakibatkan homogenisasi budaya. Elemen-elemen lokal yang unik tergerus oleh dominasi unsur global yang lebih dominan. Terlebih lagi dengan kemampuan komersialisasi budaya yang merasuk melalui banyak pintu. Rasanya pendatang seperti lebih kita kenal daripada yang di rumah sendiri. Joget Gang Nham lebih dikenal daripada Poco Poco, apalagi Bedoyo Serimpi. Bibimbap dan Kimchi mulai lebih disukai daripada Empal Gentong dan Pecel.
Sambil menikmati kopi pahit di teras rumah saat gerimis sore turun, saya mengingat ingat apa yang bisa kita wariskan pada anak-anak muda tanpa mengatakan bahwa kita lebih baik daripada mereka. Saya lahir sampai masa remaja ada di Bojonegoro. Saya diajarkan memberi uluk salam dan senyum pada siapa saja meskipun belum kita kenal. Saya dibiasakan mengulurkan tangan menyambut yang baru datang atau yang lebih dulu datang. Saya diberi contoh menghormat takzim kepada yang lebih tua, bersaudara kepada teman dan sahabat, menyayangi dan melindungi kepada yang lebih muda. Saya jadi ingat Wayang Thengul, Tayub, Muludan, Nyadran, Ledre, Wader Kali, Unthuk Yuyu, Sego Buwuhan, Wedang Tape Ketan, Es Blewah. Wah
Jadi teringat acara Ruwat Kang Ruwet di Bojonegoro beberapa waktu lalu. Sepertinya memang kita pelu meruwat diri masing-masing untuk bercermin dan melihat apa yang telah kita pikir dan lakukan selama ini. Lalu kita bebaskan diri untuk mengambil yang baik dan melakukan serta menularkan kebaikan. Janganlah diartikan sempit, apalagi hanya masalah lima tahunan saja. Kata Chairil Nawar, kita ingin hidup seribu tahun lagi. Dan ketahanan budaya lebih mendasar daripada ketahanan energi, ketahanan pangan, maupun ketahanan kesehatan.
Tidak mungkin bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci untuk maju dan mandiri.(*)
Editor : Hakam Alghivari