DUNIA saat ini sedang mengalami masa pancaroba. Semua aspek mengalami perubahan yang signifikan dan sulit diterka. Kalau kata Milenial, Gen Z, dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mari kita tengok.
Baru saja lepas dari pandemi yang membuat hampir seluruh dunia rehat dari semua hiruk pikuknya, perang militer datang. Tidak ada angin tidak ada hujan, Ukraina berkelahi dengan Rusia. Hamas ribut dengan Israel. Perang terbuka yang mobilisasi sumber daya besar-besaran terjadi. Bahkan saling mempertontonkan taktik dan kekuatan militer masing-masing pihak.
Kejadian perang terbuka telah menyedot energi seluruh dunia. Namun, yang perlu diwaspadai terlebih lagi adalah perang tersembunyi. Perang dengan menggunakan kecanggihan Teknologi Informasi, termasuk Media Sosial dan Artificial Intelligence. Secara cepat telah merasuki semua komponen dan semua negara. Urusan menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan bisa muncul kapan saja tidak bisa lagi dianggap remeh.
Ancaman perang adalah ancaman kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sistem pertahanan negara dibentuk dan dipersiapkan sejak dini. Diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Tujuannya untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman.
Beberapa minggu lalu saya berkesempatan hadir dalam pameran Defence and Security Exhibition 2023 yang diselenggarakan di IMPACT Exhibition and Convention Center Bangkok. Sebuah pameran produk-produk pertahanan dan keamanan dunia yang diselenggarakan untuk ke-11 kalinya di Thailand. Perkembangan industri pertahanan di berbagai negara berlangsung sangat cepat. Strategi dan cara pengembangan industri pertahanan mereka disesuaikan dengan sistem pertahanannya.
Bagaimana kondisi kita? Dalam Global Power Index, Indonesia mempunyai fighters 41, tank 314, dan kapal perang 31 (corvettes dan frigates). Thailand memiliki fighters 73, tank 587, dan kapal perang 13 (corvettes dan frigates). Sedangkn negara kota tetangga kita, Singapura, mempunyai fighters 100, tank 170, dan kapal perang 12 (corvettes dan frigates). Silakan dibuka atlas kertas ataupun digital, lalu bandingkan luas wilayah dan jumlah penduduk masing-masing negara. Bagaimana?
Saya ingin menularkan optimisme di tengah kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik. Sementara kondisi nyata Alpalhankam kita masih perlu ditingkatkan. Saat ini tidak hanya ancaman militer yang muncul, tapi ancaman nonmiliter serasa menunggu di balik pintu. Adalah kementerian, lembaga, pemerintah daerah yang punya peran penting meningkatkan kemampuan pertahanan nirmiliter untuk menghadapi ancaman nonmiliter. Tentu saja perlu dibantu oleh peran serta segenap rakyat dan pemanfaatan segenap sumber daya nasional lainnya.
Lalu peran apa yang bisa diambil Bojonegoro? Dengan luas daratan mencapai 2.307,06 km², Bojonegoro mempunyai potensi sumber daya alam. Minyak dan Gas, lebih dari setengah produksi nasional berasal dari sini. Industri Minyak dan Gas di Bojonegoro sangat mempengaruhi ketahanan energi nasional.
Di wilayah utara yang dekat dengan Bengawan Solo terdapat lahan pertanian yang subur yang berpotensi untuk dikembangkannya teknologi pertanian modern. Ada perkembangan menarik dalam beberapa tahiun terakhir ini. Para petani tidak hanya terpaku pada tradisi padi-palawijo, melainkan mulai merambah ke komoditas hortikultura. Keadaan yang jarang saya temui kala saya di Bojonegoro sampai lulus sekolah lanjutan atas.
Sementara itu, di wilayah selatan yang merupakan perbukitan dan hutan, memberikan peluang untuk pengembangkan industri kehutanan. Pun tak memungkiri bisa dikembangkan bahan baku obat-obatan. Adalah sangat memungkinkan Bojonegoro akan menjadi salah satu sumber penting sebagai kekuatan ketahanan pangan dan kesehatan Indonesia.
Tidak cukup sampai disitu, potensi besar Bojonegoro juga terletak pada SDM-nya. Dengan memanfaatkan dan mengelola SDM yang berkualitas, Bojonegoro bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pendukung industri pertahanan nirmiliter Indonesia. Di tahun 2022 saja, penduduk usia 0-4 tahun mencapai 87,62 ribu jiwa. Ini artinya, beberapa tahun kedepan, Bojonegoro akan memiliki tambahan SDM usia produktif yang cukup banyak. Kondisi ini bisa menjadi peluang untuk merencanakan pemberdayaan SDM yang terarah.
Tidak mungkin bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci untuk maju dan mandiri. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana