Oleh:
Laily Agustina R
Dosen Ilmu Lingkungan, Ketua LPPM Universitas Bojonegoro dan mahasiswa Doktor Ilmu Lingkungan UNDIP Semarang
Fenomena blooming Eceng Gondok (eichhornia crassipes) terjadi di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo sebulan terakhir. Fenomena tersebut dapat dilihat di Kabupaten Bojonegoro yang terletak di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo bagian hilir. Salah satunya di Jembatan Malo.
Eceng Gondok merupakan tumbuhan air yang hidup di perairan tawar menyerap nutrien. Karakteristik daun lebar, tebal, dan berlapis lilin untuk melindunginya dari kelebihan air yang masuk, bakteri, serta jamur penyebab penyakit.
Blooming Eceng Gondok terjadi akibat kondisi eutrofikasi. Kondisi di mana perairan mengalami pengayaan bahan organik, seperti nitrogen, fosfor, sulfat, dan sebagainya. Misalnya dari tanah yang tererosi, letusan gunung berapi, pelapukan batuan, dan lain-lain. Namun mayoritas bersumber dari aktivitas manusia, seperti limbah pertanian, industri, ataupun rumah tangga.
Fenomena blooming Eceng Gondok sering terjadi di musim kemarau. Karena di musim kemarau curah hujan rendah, menyebabkan volume air sungai berkurang. Sehingga konsentrasi bahan organik di perairan akan semakin meningkat.
Eceng Gondok memiliki beberapa peranan ekosistem perairan. Pertama, menjadi bioakumulator karena kemampuannya dalam mengakumulasi logam dan bahan organik terlarut dalam perairan.
Kedua, sebagai bioindicator karena ketika berada di perairan tercemar bahan organik atau berada di perairan dengan konsentrasi bahan organik tinggi, tumbuhan Eceng Gondok akan merespons dengan pertumbuhan yang sangat cepat, begitu juga reproduksi vegetatifnya.
Ketiga, sebagai tempat berlindung bagi ikan. Daun Eceng Gondok yang lebar berfungsi sebagai tempat bernaung bagi organisme perairan dari terik matahari. Sedang akar serabutnya juga berfungsi untuk tempat berlindung/ sembunyi bagi organisme perairan dari kejaran predatornya, serta berfungsi mengikat zat terlarut di perairan sehingga membuat perairan semakin jernih.
Meskipun Eceng Gondok memiliki banyak peran ekologis di ekosistem perairan, namun jika jumlahnya berlebihan justru akan berdampak negatif bagi ekosistem. Salah satunya menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen Eceng Gondok di perairan juga semakin tinggi.
Keberadaannya yang menutup permukaan air akan menghalangi sinar matahari masuk ke perairan. Sehingga menyebabkan kegagalan fotosintesis fitoplankton. Jika, fitoplankton tidak dapat berfotosintesis, suplai oksigen di perairan juga akan semakin rendah.
Selain itu, menutupi seluruh permukaan perairan juga menghalangi sirkulasi oksigen dari udara ke perairan. Kompilasi dari kondisi di atas akan menyebabkan kandungan disolved oxygen (DO) perairan menjadi rendah. Hal tersebut dapat mengakibatkan kondisi anoxia bagi organisme perairan, terutama hewan, yang berdampak pada kematian massal hewan air.
Penanganan membutuhkan strategi terencana dan komprehensif. Beberapa langkah dengan menangani sumber pencemar dengan menekan input nutrien atau limbah organik ke perairan. Jadi, perlu mengelola limbah pertanian, domestik, dan industri dengan benar.
Kemudian pengendalian pertumbuhan eceng gondok bisa dilakukan secara fisik, hayati, maupun kimia. Juga bisa menggunakan mesin yang dirancang untuk mengambil dan membersihkan Eceng Gondok dari permukaan air, seperti Aquatic Weed Harvester (AWH) dan Dredger sebagaimana digunakan di Rawa Pening.
Selanjutnya, perencanaan dan pengelolaan terpadu dengan mengembangkan rencana dan strategi pengelolaan terpadu yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, organisasi lingkungan, dan komunitas lokal.
Pemantauan dan evaluasi rutin untuk menilai efektivitas penanganan. Serta, mengedukasi masyarakat tentang bahaya ekologis. (*)
Editor : Hakam Alghivari