Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Mendambakan Pemimpin Bermoral

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 17 September 2023 | 17:32 WIB
Ilustrasi Kades Kosong (Ainur Ochiem/R.Bjn)
Ilustrasi Kades Kosong (Ainur Ochiem/R.Bjn)

 

Tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan, mengapa orang senang melakukan korupsi dan berbagai tindakan amoral lainnya? Pertanyaan sederhana ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari diajukan oleh seorang etikus kenamaan Robert Spaeman dengan rumusan yang agak berbeda, mengapa orang harus hidup bermoral, seperti harus bebas dari korupsi dan tidak melakukan aneka tindakan amoral lainnya. Selanjutnya, bagaimana mencari pendasaran yang rasional atas tuntutan-tuntutan hidup moral di zaman modern agar dapat membantu publik untuk tidak berperilaku amoral?

Menurut F Ceunfin, seorang ahli filsafat yang meneliti perihal etika modern, hidup secara baik dan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan amoral merupakan suatu kewajiban setiap manusia dalam kehidupan bersama, yang dalam etika Kant disebut sebagai kewajiban kodrati. Di samping itu, tindakan berbuat baik, menurut Ceunfin, juga merupakan suatu keharusan, karena di sanalah membuat orang menjadi bahagia.

Kebahagiaan hidup hanya dapat ditemukan lewat hidup yang berbagi dalam tindakan berbuat baik tersebut. Dalam hal mana, tindakan yang menghasilkan kebaikan bagi orang lain untuk meringankan beban hidupnya merupakan alternatif yang paling sempurna.

Karena itu, tindakan amoral seperti korupsi merupakan tindakan yang bukan saja membuat diri dan orang lain tidak bahagia, tetapi tindakan yang sangat menyengsarakan batin, menodai nurani dan merusak tatanan kehidupan moral masyarakat. Perilaku orang yang tidak bermoral menunjukkan dirinya tidak memahami arti dan tujuan hidup di dunia ini, yakni menggapai kebahagiaan. Dengan kata lain, mengapa orang senang melakukan korupsi? Jawabannya, karena dia tidak mengetahui apa tujuan hidupnya di dunia.

 Baca Juga: Topeng-Topeng Politisi Jelang Pemilu

Kebahagiaan

Kebahagiaan hidup, itulah yang mesti dicari dan diciptakan oleh setiap orang, yang menurut Alasdair MacIntyre dalam bukunya After Virtue (1981), dengan lebih dulu mencari dan menetapkan keutamaan-keutamaan hidup dalam kesejatian kemanusiaannya. Untuk memahami itu, hendaknya dilihat jauh ke belakang dengan mempelajari keutamaan-keutamaan Aristoteles yang dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan hidup masyarakat Yunani kuno.

Pada masa Yunani kuno, keutamaan dalam hidup manusia adalah menjadi manusia yang sempurna nan-unggul. Manusia-manusia unggul adalah manusia-manusia yang berprestasi, bebas dari perilaku-perilaku amoral. Dalam syair-syair Homerus, Iliade dan Odyseus, keutamaan (baca: keunggulan) manusia diperlihatkan dalam perang dan olahraga membela kehormatan negara. Manusia sejati atau yang berkeutamaan adalah prajurit-prajurit negara (polis) dan para olahragawan yang prestasinya dapat mengangkat kehormatan negara.

Untuk menggapai kebahagiaan lewat keutamaan-keutamaan hidup dan penciptaan prestasi-prestasi, menurut Plato, harus dipenuhi dengan sikap pengendalian diri, kebijaksanaan dan kebaikan sebagai idea tertinggi, sebagaimana kebahagiaan. Maka, kebahagiaan yang sesungguhnya berada dalam diri setiap manusia.

Jadi, kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan materi apa pun. Materi hanya dapat membuat manusia bahagia jika ia dapat menyisihkan sebagian materinya untuk orang lain. Inilah yang kemudian menurut Spaeman, bahwa kebaikan hati, cinta dan persahabatan merupakan fenomena moral paling mendasar dalam kehidupan publik.

Tetapi, yang menjadi problema zaman modern, keutamaan manusia dikaitkan dengan kepemilikan harta, kekuasaan dan status sosial. Menjadi orang terhormat yang dianggap memiliki keutamaan hidup berarti mapan secara ekonomi dan terhormat secara status sosial dan politik. Akhirnya, manusia zaman ini berusaha menukar dan/atau membeli kebahagiaan dengan uang dan kekuasaan.

Ternyata, dalam realitasnya, kebahagiaan yang dicari semakin jauh, tidak terjangkau. Banyak orang kaya yang hidupnya jauh dari bahagia. Mungkin karena sebagian hartanya adalah hasil korupsi, yang akhirnya menggiring mereka ke balik terali besi, atau karena alasan materialisme lainnya. Demikian juga tak sedikit mantan pejabat yang ikut digiring ke dalam penjara karena membeli dan menggunakan kekuasaan dengan uang. Ujungnya, keharmonisan masyarakat terusik dan konflik sosial menyebar.

Untuk itu, kata MacIntyre, bahwa di samping bahaya moral massa kini berada dalam kerancuan yang parah, perilaku dan kualitas hidup moral publik pun mengalami kemunduran. Dengan demikian, yang diharapkan, bahkan dirindukan adalah tampilnya negara (pemimpin) bermoral untuk mengarahkan publik ke hidup yang berkeutamaan.

Pemimpin negara bermoral yang dirindukan adalah, pertama, menata dan membawa warganya kepada hidup yang lebih terhormat dan bermartabat lewat keberhasilan-keberhasilan hidup. Sebab, dengan keberhasilan, warga negara dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya. Kedua, negara memberikan pendidikan dan menerapkan hukum serta memberikan contoh-contoh hidup yang bermoral, khususnya dari kaum elite negeri dengan menjauhkan diri dari tindakan korupsi dan perilaku amoral lainnya.

Pendidikan di sini adalah pendidikan moral dan/atau keutamaan-keutamaan hidup moral. Dengan pendidikan moral, terutama sejak anak usia dini, misalnya, akan membuat anak didik atau warga dapat mengembangkan kepekaan moralnya dan membentuk hati nurani yang jernih yang memungkinkan mereka untuk selalu bertindak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap warga dapat membimbing diri dengan keputusan-keputusan etik dan moral yang terukur hingga dapat mencapai kehidupan yang berkeutamaan dan membahagiakan.

Penerapan hukum harus dilakukan secara tegas dengan mengutamakan keadilan rakyat di atas segala-galanya. Hukum bukan hanya milik orang-orang kuat, tetapi harus menjadi milik seluruh warga. Warga harus menemukan kebahagiaan dalam hukum.

Maka, kehidupan moral bangsa dan negara pun dapat menjadi baik. Negara yang bermoral adalah negara yang kualitas hidup moral bangsanya baik. Negara yang memungkinkan setiap warganya menemukan kebahagiaan hidupnya dalam setiap aspek. Kebahagiaan hidup menurut Immanuel Kant adalah postulat akal budi moral. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pemimpin #kebahagiaan #Pendidikan #bermoral #Pertanyaan #rumusan #Korupsi #Filsafat #robert spaeman #alasdair macintyre #tindakan #amoral #etika