Hari ini hari pertamaku
Hari pertama ke sekolah
Senangnya hatiku diantar Ayah Ibu
Pergi berangkat ke sekolah
Senangnya hatiku bertemu
Teman baru, guru baru
Tentulah ramah
Ayo ke sekolah
LAGU Pertama Masuk Sekolah, Direktorat Dikdasmen Kemendikbud ini akan menandai tahun pelajaran baru dimulai besok atau 17 Juli 2023. Hari pertama diawali masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Tentu, momen ini disambut suka cita para siswa, guru, dan orang tua. Pemerintah berharap hari pertama masuk sekolah sebagai hari menyenangkan karena semua warga sekolah menjadi sosok ramah, antikebencian, menyenangkan, memiliki semangat membangun keindonesiaan.
MPLS bisa dijadikan penanaman karakter kuat kepada peserta didik dalam pembelajaran berbasis kurikulum merdeka dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Ada beberapa hal menjadi renungan bersama agar siswa nantinya sebagai bangsa kuat karakternya. Pertama, bangsa maju dan jaya tidak semata-mata kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alam, tetapi dorongan semangat dan karakter bangsanya. Pemahaman karakter diri tangguh selama bangku sekolah akan menjadikan seorang individu berkarakter sesungguhnya. Peran orang tua, guru, dosen, dan pemimpin meneguhkan nilai-nilai karakter pada anak-anak.
Kedua, pendidikan karakter dalam sekolah adalah solusi sebagai gerakan meneguhkan kembali kemartabatan bangsa. Mengapa demikian? Karena pendidikan karakter suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, dan tindakan melaksanakan nilai-nilai tersebut. Komponen pendidikan mencakup kurikulum, proses pembelajaran, pengelolaan sekolah, ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja civitas sekolah.
Ketiga, MPLS menyenangkan dengan semangat antikekerasan dan kebencian. Momen tahun pelajaran baru bersamaan MPLS dijadikan titik pijak menggelorakan pendidikan karakter antikekerasan agar siswa baru belajar dengan tenang. Dalam artian, MPLS sebagai titik tumpu membangun kesadaran, jangan sampai ada aksi kekerasan.
Sekolah yang Menyenangkan
Hari pertama, orang tua wajib menguatkan anak semangat bersekolah. Tentunya suasana ingin dibangun memperdalam keterikatan orang tua dengan sekolah. Hubungan antara orang tua dengan guru erat saling bekerja sama bisa memecahkan persoalan siswa. Baik belajar atau pergaulan di sekolah, maupun di rumah.
Aktivitas ini tidak sebatas mengantar anak di luar pagar sekolah saja. Kemudian siswa masuk sekolah dan orang tua pulang sambil keduanya melambaikan tangan. Namun, orang tua harus benar-benar ikut masuk sampai di dalam kelas.
Setelah sampai di dalam sekolah, orang tua harus berkomunikasi dengan para guru. Khususnya guru akan mengajar sang anak. Bermaksud bahwa orang tua tua menitipkan anaknya kepada guru di sekolah.
Peran guru sangat vital sebagai penyelaras pendidikan karakter. Bagaimanapun pendidikan karakter pilihan dan solusi cerdas meneguhkan kemartabatan bangsa. Sekolah tempat menanamkan perilaku berbudi pekerti luhur benar-benar efektif tanpa kekerasaan atau perploncoan.
Nah, MPLS akan dilaksanakan selama tiga hari harus dijadikan peserta, orang tua, guru di sekolah sebagai media mengenalkan kultur dan cara belajar di sekolah secara konprehensif. Anak-anak harus tetap menjadi pribadi utuh dan bahagia belajar karena para guru di sekolah menampilkan sosok bisa memberi rasa aman. Dan memotivasi siswa.
Tentunya mulai hari ini dan esok sekolah adalah tempat kasih sayang, meraih mimpi, dan tempat menyenangkan bagi warga sekolah, terutama siswa. Kehadiran MPLS meminimalkan sikap intolerasi, antikebencian, dan antikekerasan kepada peserta didik. Ke depan menjadi generasi bisa menjaga dan bangga dengan NKRI sesuai konteks P5 dalam Kurikulum Merdeka saat ini.(*)
*SUSANTO
Kepala SMAN 1 Sugihwaras, Bojonegoro