HARGA telur ayam di sejumlah daerah di Indonesia mulai penurunan menjadi Rp 29.000 per kilogram (kg) awal Juli 2023, setelah sempat menyentuh Rp 32.000-35.000 pada Mei. Harga telur ini lebih tinggi daripada harga acuan tingkat konsumen sebesar Rp 27.000 per kg sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 5/2022.
Kenaikan harga telur erat kaitannya hari-hari besar keagamaan. Satu bulan sebelum Ramadan harga telur merambat naik hingga mencapai 10-20 persen, melonjak lagi seminggu sebelum Lebaran hingga 20-30 persen. Hari raya keagamaan lain, seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek, harga telur biasanya mengalami peningkatan sekitar 5-10 persen. Harga telur termasuk komponen inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang mengalami fluktuasi setiap bulan, naik turun sesuai kondisi teknis, sosial, dan ekonomi.
Dari sisi penawaran, meroketnya harga telur karena kenaikan harga jagung. Komponen utama (sekitar 50 persen) pakan ayam adalah jagung. Antara Januari dan Februari 2023, harga jagung tingkat petani meningkat 45,57 persen dari Rp 4.049 per kg menjadi Rp 5.894. Harga tersebut semakin meningkat pada Maret 2023 mencapai Rp 6.008. Harga jagung sudah melebihi harga acuan pembelian (HAP) Rp 5.000 per kg sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 5/2022.
Akibatnya, harga pakan melambung mencapai Rp 8.500-9.000 per kg. Perbandingan ideal harga pakan dan harga telur adalah 1:3. Kalau harga pakan Rp 8.500-9000 per kilogram, harga telur di kandang idealnya Rp 25.500-27.000 per kg.
Biaya pakan berkontribusi 70-80 persen terhadap total biaya produksi peternakan ayam petelur. Kenaikan harga jagung dan pakan menyebabkan sebagian peternak mengurangi jumlah populasi atau afkir dini ayam. Kombinasi antara kenaikan biaya dipicu tingginya harga jagung dan berkurangnya populasi ayam menyebabkan pasokan telur di pasar berkurang, berakibat harga telur di pasar semakin mahal.
Dari sisi permintaan, selain hari besar keagamaan, pesta dan hajatan, peningkatan permintaan telur seiring kampanye pencegahan stunting atau tengkes. BKKBN menyebutkan sebanyak 1,2 juta (24 persen) di antara 5 juta kelahiran setiap tahun kondisi stunting yang diukur melalui ukuran panjang tubuh tidak sampai 48 sentimeter dan berat badan tidak sampai 2,5 kilogram.
Kemenkes (2021) mencatat prevalensi stunting sebesar 24,4 persen atau 5,33 juta balita. WHO menempatkan status Indonesia di urutan keempat dunia dan urutan kedua di Asia Tenggara terkait jumlah balita stunting.
Stunting salah satu masalah kesehatan menjadi perhatian pemerintah saat ini karena berdampak negatif sangat serius terhadap kecerdasan dan ekonomi. Stunting berdampak besar perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan.
Bank Dunia (2016) menyatakan jangka panjang stunting menimbulkan kerugian ekonomi 2-3 persen dari produk domestik bruto (PDB) per tahun.
Salah satu faktor penyebab terjadinya stunting adalah rendahnya tingkat asupan gizi baik pada ibu hamil maupun anak. Cara pencegahan stunting sangat mudah mengonsumsi dua butir telur per hari secara kontinyu.
Pada 21 Maret 2023, BKKBN mencanangkan kampanye pencegahan stunting secara nasional melalui program “Semesta Cegah Stunting, Cukup Dua Telur”. Telur memiliki karakteristik bergizi lengkap sehingga disebut kapsul gizi atau superfood, murah, mudah, dan dapat diolah menjadi berbagai jenis menu makanan. Telur merupakan sumber protein hewani bermutu tinggi karena memiliki susunan asam amino esensial lengkap dan memiliki nilai biologi 100 persen.
Memakan satu butir telur efektif mencegah stunting pada anak usia 6-9 bulan. Anak mengonsumsi satu butir telur sehari selama 6 bulan dalam periode makanan pendamping ASI (MPASI) 6-9 bulan terbukti menurunkan prevalensi stunting 47 persen dan berat badan rendah (underweight) 74 persen.
Kenaikan harga berdampak konsumsi telur menurun, karena menurunnya daya beli. BPS (2022) mencatat sebanyak Rp 35.241 (5,66 persen) dari pengeluaran rata-rata Rp 622.845 per kapita sebulan makanan digunakan membeli telur dan susu. Sedangkan konsumsi telur penduduk Indonesia sebanyak 6,78 kg per kapita per tahun.
Penurunan konsumsi telur bisa berdampak negatif upaya penurunan prevalensi stunting. Kemenkes (2022) mencatat prevalensi balita stunting di Jawa Timur mencapai 19,2 persen dan menduduki peringkat ke-25 prevalensi di Indonesia.
Di Jatim terdapat 3 kabupaten/kota zona merah stunting (prevalensi di atas 30 persen), 16 kabupaten/kota zona kuning stunting (prevalensi 20-30 persen), dan 19 kabupaten/kota. zona hijau stunting (prevalensi stunting di bawah 20 persen).
Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Ngawi termasuk daerah zona kuning stunting dengan prevalensi 24,3 persen, 24,9 persen, 27,5 persen, dan 28,5 persen. (*)
*SUTAWI
Guru Besar Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang