Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Keluarga Harmonis, Modal Awal Bebas Stunting

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 2 Juli 2023 | 18:52 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/R.Bjn)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/R.Bjn)

 

BERBICARA keluarga menjadi menarik ketika dikaitkan eksistensi setiap kita berawal. Ya, keluarga merupakan unit terkecil kelas sosial masyarakat juga kelompok sosial pertama di kehidupan.

Menurut Verkuyl dalam Ahmadi dan Supriono mengatakan bahwa ada tiga fungsi keluarga. Pertama, mengurus keperluan dan kebutuhan anak. Ini tugas pertama orang tua memenuhi kebutuhan hidup, tempat perlindungan, dan pakaian. Kedua, menciptakan suatu "home" bagi anak-anak. "Home" berarti, di dalam keluarga anak-anak dapat berkembang dengan subur, merasakan kasih sayang keramahtamahan, aman, terlindungi, Ketiga, tugas pendidikan pertama dan utama merupakan terpenting dari orang tua.

Sebelum menginjak ke pra-sekolah dan pendidikan formal, keluarga menjadi madrasah anak. Dalam rangka peningkatan kualitas keluarga salah satunya tercermin dari tolok-ukur berupa indeks kualitas keluarga (IKK) terdiri lima dimensi. Yakni Kualitas legalitas-struktur, kualitas ketahanan fisik, kualitas ketahanan ekonomi, kualitas ketahanan sosial-psikologi dan kualitas ketahanan sosial-budaya.

IKK pada 2020 sebesar 70,93 dan meningkat menjadi 73,43 pada 2021 di mana masuk katagori “cukup” atas responsif gender dan hak anak (Data Kementerian PP-PA tentang Laporan Indeks Kualitas Keluarga Tahun 2020-2021 Tahun 2022). Karena itu diperlukan penguatan program secara berkesinambungan terutama para kader dan tenaga di lapangan sebagai salah satu lokomotif penentu akselerasi keberhasilan program.

Dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional ke-30 Tahun 2023 ini mengangkat tema Menuju Keluarga Bebas Stunting Untuk Indonesia Maju, tentu momentum dan menjadi ruang memperkuat langkah mencegah dan menuntaskan persoalan stunting di Indonesia.

 Baca Juga: Cokelat Hitam Gula Aren, Cemilan Sehat Penderita Diabetes Mellitus

Momentum Kolaborasi

Angka kasus stunting di Indonesia pada 2022 mencapai 21,6 persen. Masih sedikit melebihi ambang batas Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yakni prevelansi stunting kurang dari 20 persen. Pemerintah melalui BKKBN berupaya mencapai target penurunan stunting nasional menjadi 14 persen pada 2024. Entitas sebuah keluarga bagian dari masyarakat, faktor penentu bagaimana kita berusaha penanganan stunting.

Keluarga berperan penting mencegah stunting setiap fase kehidupan. Mulai janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, menikah, hamil, dan seterusnya. Hal ini selaras strategi dan fokus pemerintah penanganan stunting antara lain intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

Intervensi gizi bersifat spesifik oleh tenaga kesehatan profesional dan memiliki kontribusi sekitar 30 persen pencegahan stunting. Sementara intervensi melalui gizi bersifat sensitif melalui masyarakat umum, termasuk keluarga.

Dampak intervensi ini lebih bersifat jangka panjang dan memiliki kontribusi 70 persen dalam upaya pencegahan stunting. Idealnya pencegahan stunting masa emas, yaitu seribu pertama kehidupan meliputi masa anak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Peran keluarga sangat penting di fase ini. Periode kritis bagaimana ke depan anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi sehat dan cerdas.

Saat anak dalam kandungan, penting bagi ibu hamil mendapatkan nutrisi terbaik. Ibu hamil perlu rutin memeriksakan kandungan. Pemberian ASI eksklusif penting pada anak baru lahir hingga enam bulan untuk memberi nutrisi optimal.

Pemberian ASI eksklusif akan mengurangi risiko stunting. Saat anak enam bulan, mulai diberikan makanan bernutrisi melalui program makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian MPASI, keluarga perlu memperhatikan kandungan gizi pada makanan untuk menunjang pertumbuhan anak.

Keluarga wajib memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai bagaimana mendapat nutrisi anak. Nutrisi tidak harus mahal, terpenting kualitasnya. Selain parenting atau pola pengasuhan, diperlukan rangsangan psikososial, meliputi simulasi pada orang tua bayi dan anak.

Kebersihan dan sanitasi baik juga menjadi faktor penting mendukung tumbuh kembang anak. Jika pada fase seribu hari pertama kehidupan tidak kuat nutrisinya, berbagai masalah kesehatan dapat muncul mulai usia bayi hingga tua. (*)

 

 

 

*ORYZ SETIAWAN
Bidang Advokasi Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Bojonegoro

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kesehatan #anak #perkembangan #stunting #Gizi #keluarga #harmonis #pertumbuhan