“Pendidikan Yang Merdeka untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila”
DIAWALI review filosofi pembelajaran dari Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang makna pendidikan dan pengajaran. Membedakan antara kata pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan tujuannya. Menurut KHD (2009), pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari pendidikan.
Pendidikan tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Pendidikan tidak akan terlepas dari nilai budaya pada masyarakat sehingga mendidik harus menuntun siswa menjadi manusia berwawasan luas dan berpijak akar budayanya.
KHD menggambarkan guru sebagai petani atau pekebun sedangkan murid adalah benih tanaman padi atau jagung. Petani tidak dapat mengubah benih padi tumbuh menjadi jagung. Padi tetaplah padi dan jagung tetaplah jagung. Tugas petani atau pekebun menjaga serta merawatnya agar tumbuh subur.
Selama ini pendidik sudah banyak memberi pelayanan kepada putra-putri bangsa ini. Pahit manis dunia pendidikan sudah kita rasakan. Namun, apakah kita sudah memberikan terbaik untuk dunia pendidikan? Apakah proses mendidik yang kita laksanakan sudah sesuai dengan makna dan filosofi pendidikan yang digelorakan KHD?
Kesadaran Tumbuh di Perjalanan Program Pendidikan Guru Penggerak
Sikap dan cara pandang pembelajaran selama ini harus kita telaah. Direfleksi sebagai bahan melecutkan semangat lebih baik lagi. Saya pribadi sebagai guru awal sebelum mengenal Pendidikan Guru Penggerak (PGP) selama ini hanya sebatas menunaikan rutinitas berangkat pagi dan pulang sore.
Saya lebih sibuk administrasi awal tahun pelajaran dan ‘memberi nilai’ hasil belajar akhir tahun pelajaran. Acapkali lupa proses mestinya lebih penting sebagai upaya membiasakan anak-anak berusaha meraih sesuatu. Saya sering pula abai persoalan karakter dan penumbuhan empati pada anak-anak.
Pernyataan lugas bahwa guru itu digugu dan ditiru memiliki makna mendalam jika kita menghayatinya. Beban berat dipundak kita sebagai seorang pendidik harus dapat kita pikul. Tanggung jawab moral dan sosial melekat pada diri kita sebuah amanah tanpa kita sadari menjadi tantangan harus kita jawab dengan sebuah gerakan. Anak-anak kita saat ini lebih menggugu dan meniru gadget ketimbang gurunya. Waktu mereka lebih banyak bersama sahabat maya daripada teman sebaya di sekolah atau rumah.
Sudahkah kita menjadi guru sebenarnya? Mungkin pertanyaan ini sangat kurang nyaman terdengar. Setelah melewati masa hampir sembilan bulan, efektif kurang lebih enam bulan, saya belajar di PGP secara mandiri membaca modul pembelajaran pada LMS maupun berdiskusi sesama peserta secara daring. Ternyata saya merasa jauh dari kata siap apalagi sempurna melaksanakan tugas sebagai guru.
Banyak hal kurang tepat dalam diri saya ketika mengajar anak didik. Selama ini hanya menjadikan murid objek pembelajaran. Perhatian mengajar berpusat hasil akhir nilai ulangan, tanpa memperhatikan lebih jauh bagaimana sebenarnya mereka, siapa, dan apa harus saya perbuat melayani tumbuh kembangnya.
Selama ini kita mengenal bahwa anak adalah sebuah kertas kosong. Tugas kita mengisi kertas itu dengan tulisan. Sehingga mau kita jadikan atau buat apa mereka adalah bergantung kita sebagai guru (teori tabularasa). Dari pemahaman inilah terkadang kita dalam proses mengajar lebih mengedepankan pemaksaan terhadap peserta didik mengikuti pola pembelajaran dari kita sebagai guru. Tanpa sadar ternyata selama ini kita lari jauh dari tujuan pendidikan sebenarnya.
Introspeksi sebagai Langkah Awal
Kita sadari atau tidak, selama ini kita hanya puas dengan apa yang saat ini atau dengan kata lain hanya pasrah menerima keaadaan. Kita terlena di titik aman dan nyaman tanpa harus berbuat mengambil langkah perubahan. Zaman terus berkembang berbagai tantangan harus dapat kita imbangi dengan upaya agar kita tidak ditinggal oleh zaman atau digilas oleh zaman.
Pendidikan harus diupayakan selaras dengan eranya. Ubah cara pandang terhadap perubahan kurikulum terkadang tidak dapat kita terima. Kita mengeluh pada aturan diperspektifkan menuju perbaikan sistem pendidikan lebih baik bukanlah jawaban positif dapat kita pilih.
Usaha memantaskan diri sebagai pendidik harus kita lakukan. Sikap dan pilihan bijak berani perlu kita ambil terwujudnya pendidikan merdeka. Bergerak, tergerak, dan menggerakkan adalah suatu bagian dari usaha memantaskan diri kita. Belum pernah merasa puas terhadap satu raihan, namun selalu berbuat manfaat dalam dalih profesi.
Tanamkan semangat mengabdi dengan tulus ikhlas, gelorakan perubahan pola pembelajaran menghayati serta mengamalkan nilai-nilai pendidikan. Mari jadikan diri kita sebagai pembelajar sepanjang hayat, bukan pembelajar sesaat. Kuatkan tekat bersemangat demi tegaknya bangsa makmur dan beradab. Salam dan Bahagia! (*)
*Eko Budiono
Guru SDN Sekar 1 Bojonegoro. Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Bojonegoro
Editor : Yuan Edo Ramadhana