Opsi membangun bandara sempat dilontarkan era 2013-2014. Pernah juga dilakukan studi kelayakan atau FS. Juga, sempat dibahas antara pemkab dan DPRD. Sesuai FS, rencana lokasinya di Desa Kunci, Kecamatan Dander. Di selatan wilayah perkotaan.
Namun, opsi ini belum terealisasi. Bahkan, gagal dan tak akan terealisasi. Kenapa? Karena saat ini sudah berdiri Bandara Ngloram di Cepu, Blora. Saat Bojonegoro membahas opsi bandara, saat itu Bandara Ngloram masih belum jadi alias mangkrak bertahun-tahun. Dan, akhirnya pemerintah pusat lebih memilih meneruskan proyek Bandara Ngloram yang dulunya sempat mangkrak.
Nah, opsi kereta cepat sebenarnya cukup dibutuhkan bagi masyarakat Bojonegoro. Kereta cepat Bojonegoro-Surabaya dirindukan warga Kota Ledre ini agar mudah mengakses kota metropolis tersebut.
Namun, opsi kereta cepat ini sekiranya juga tidak mudah direalisasikan. Pemkab Bojonegoro sempat melakukan penjajakan terkait moda transportasi kereta ini. Ternyata, memiliki kereta khusus BojonegoroSurabaya ini butuh anggaran besar. Triliunan.
Bojonegoro juga belum punya jalan tol. Ketika kota-kota lain di Jawa Timur sudah dilintasi tol, Bojonegoro belum tersentuh. Maklum, Bojonegoro bukan jalur pantai utara (pantura). Juga, bukan jalur pantai selatan (pansela). Karena itu, kabupaten terpanjang dialiri Sungai Bengawan Solo ini belum masuk radar jalan tol dari pemerintah pusat.
Warga Bojonegoro mengakses pintu masuk tol pun juga jauh. Terdekat hanya di Kabupaten Ngawi, Nganjuk, atau Madiun. Jaraknya jauh dari perkotaan Bojonegoro. Sehingga, tidak mungkin warga yang hendak ke Surabaya mengakses pintu tol di Ngawi, tentu akan memutar jauh lagi.
Tapi, nggak tahu kalau warga Kecamatan Sekar, Gondang, atau Margomulyo, mungkin lebih cepat lewat jalan tol untuk menuju Surabaya.
Kini, mau tidak mau warga Bojonegoro hendak ke Surabaya, ya nawaitu tetap lewat jalan raya. Melewati Lamongan, Gresik, baru sampai Surabaya. Hampir 3 jam perjalanan. Melelahkan.
Berdasar Google Maps, rute dan jarak Bojonegoro menuju Surabaya itu sekitar 111 kilometer. Dengan kendaraan roda empat ditempuh hampir 3 jam. Belum lagi kalau macet di Lamongan atau Gresik, drama perjalanan akan panjang.
Berbeda dengan Kabupaten Ngawi, untuk menuju Surabaya, jaraknya sekitar 183 kilometer. Ternyata, durasi waktu perjalanan menuju Surabaya hanya 2 jam 22 menit. Padahal, jauh Ngawi daripada Bojonegoro. Tapi, lebih cepat Ngawi untuk sampai di Surabaya. Iya, jangan kaget. Karena Bojonegoro tak punya jalan tol.
Nah, pilihan cepat menuju Surabaya hanya via kereta api. Naik kereta api bisnis, hanya dua jam perjalanan sampai Surabaya. Tapi, ya gitu harga tiketnya cukup lumayan. Kalau naik satu keluarga ya, bikin tipis dompet.
Naik kereta api lokal, juga tiga jam. Misalnya kereta komuter Arjonegoro dan kereta Blorasura. Ongkos murah dan nyaman. Juga turun di tengah perkotaan, yakni Pasar Turi. Tapi, lagi-lagi kereta Arjonegoro yang sekarang berbasis commuter line ini, kapasitas penumpang terbatas.
Keroyokan tiket atau “war” tiket kereta lokal di akhir pekan bukan main serunya. Penumpang harus melekan mengakses tiket yang mulai dibuka pukul 00.00 H-7. Telat sehari, tiket sudah ludes.
“War” tiket kereta lokal di akhir pekan ini sudah menjadi fenomena yang unik. Banyak warga Bojonegoro yang bekerja di Surabaya. Banyak anak muda Bojonegoro yang kuliah di Surabaya.
Tidak dapat tiket kereta lokal, terpaksa naik kereta jurusan Surabaya-Semarang. Tapi, ya gitu tiketnya mahal. Minimal Rp 90.000. beda dengan naik bus hanya Rp 30.000.
Tetapi, sejak “war” tiket akhir pekan menjadi perburuan dan sulit, banyak juga masyarakat yang memilih naik kereta bisnis jurusan Semarang. Meski, mahal ternyata banyak penumpang mengakses kereta bisnis ini. Fenomena ini menandakan bahwa ternyata masyarakat Bojonegoro butuh moda transportasi yang cepat dan nyaman meski tiket mahal.
Nah, kira-kira sampai kapan fenomena ini terjadi di Bojonegoro. Padahal, Jakarta, Surabaya kini lagi sibuk memikirkan moda transportasi publik yang cepat dan nyaman. Membangun MRT, menghidupkan koridorkoridor bus masal hingga kereta komuter yang cepat.
Konsep tata kota Bojonegoro perlu dipikirkan ke depan, mumpung Bojonegoro masih punya APBD besar dengan suntikan pendapatan dari dana bagi hasil (DBH) migas. Jangan sampai menunggu DBH migas mengecil, bisa terlambat.
‘’Kira-kira kita terlambat ke kantor kah pagi ini?,’’ tutur seorang warga Bojonegoro yang bekerja di Kota Surabaya, Senin pagi itu. (*)
*KHORIJ ZAENAL ASRORI
Wartawan Radar Bojonegoro Editor : M. Yusuf Purwanto