Oleh: WIWIN IS EFFENDI *
BENCANA tidak selamanya membawa duka. Terkadang ada sisisisi kebaikan bisa tergali dari terjal dan kerasnya perjalanan hidup. Pandemi Covid-19 akibat penyebaran infeksi virus Corona telah menggoyang beragam sendi-sendi kehidupan.
Bidang Kesehatan mengalami dampak signifikan karena besarnya angka kematian terkait Covid-19 di seluruh penjuru dunia. Wabah terjadi selama hampir dua tahun lebih juga menggoyang sektor ekonomi, baik makro dan mikro. Tatanan sosial budaya mengalami pergeseran karena masyarakat mulai dibiasakan kebiasaan baru diyakini bisa menormalkan rutinitas yang lama (new normal).
Salah satu wujud normal baru adalah semakin meningkatnya kesadaran masyarakat pentingnya olahraga. Mereka makin paham bahwa kesehatan harus diupayakan tidak hanya pola konsumsi sehat lengkap dengan kandungan vitamin, protein, serta mi neral. Lebih dari itu, daya tahan tubuh perlu ditingkatkan dengan rutin berolahraga.
Aktivitas paling sederhana banyak orang menjaga kesehatan fisik dan mental adalah berlari. Olahraga sudah berkembang menjadi gaya hidup dan tren kaum urban. Survei dilakukan BRIN pada Desember 2020 terhadap 321 responden menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang sebelumnya tidak berolahraga, memulai kebiasaan berolahraga saat Covid-19 melanda.
Mengapa lari? Karena lari olahraga sederhana. Hanya sepasang sepatu lari dan baju olahraga dapat menikmati lari di manapun berada. Rutinitas lari meningkatkan mood dan fungsi kognitif serta meredam stres.
Hal ini bisa terjadi karena lari dan aktivitas olahraga lainnya meningkatkan produksi zat endorfin di otak. Endorfin merupakanhormonmengatur perasaan senang dan gembira. Diimbangipolamakanbaik, lari mampu membantu menjaga beratbadanideal, meningkatkan kesehatan jantung, dan menguatkan otot dan tulang. Terpenting, olahraga ini bisa dilakukansemuaindividu, baik anak, remaja hingga para usia lanjut atau lansia.
Berangkat dari filosofi bahwa lari merupakan aktivitas sederhana memicu produksi endorfin dan mewujudkan pikiran bebas stres serta tubuh sehat, filosofi ini bisa diterapkan memaknai kesyukuran Hari Jadi ke-454 Lamongan (HJL).
Menapaki usia 454, Kabupaten Lamongan dituntut senantiasa berlari melanjutkan pembangunan di berbagai bidang. Tentu proses membangun kejayaan Lamongan ini butuh perencanaan matang. Ibarat seorang pelari perlu melakukan pemasan sebelum berlari dan mengakhirinya dengan peregangan, maka pemerintah Lamongan juga perlu memperhatikan hal itu.
Perlu disusun target dan prioritas pembangunan seluruh penjuru Lamongan. Karena pelari wajib tahu kapan saat berlari lambat dan waktunya memacu kecepatan. Tentu, pembangunan Lamongan harus memahami dan menyesuikan semua sumber daya kekuatan Lamongan.
Seperti halnya sel-sel tubuh merasakan manfaat aktivitas lari, maka warga Lamongan berhak mendapatkan suntikan endorfin dari keberhasilan pembangunan Lamongan. Menilik situs resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan, setidaknya ada 11 program prioritas pada 2023.
Meliputi perbaikan pendidikan berupa pendidikan berkualitas dan gratis (Perintis) bagi masyarakat miskin dan kurang sejahtera. Penguatan sektor bisnis dan ekonomi dengan menggalakkan entrepreneur muda Young Entreprenur Succes (YES).
Desa berjaya hingga memberdayakan UMKM lokal Lamongan. Selain itu, perbaikan sarana jalan lewat program jalan mantap dan alus (Jamula) serta Gerakan membangun pariwisata ramah dan terintergasi merupakan inovasi-inovasi pemda yang manfaatnya diharapkan sampai pada warga Lamongan.
Tentu, pembangunan Lamongan tidak hanya menjadi tanggung jawab bupati dan Pemkab Lamongan. Tapi, tanggung semua warganya. Ibarat seorang pelari harus menyesuaikan pace dan kekuatan tubuhnya menggapai garis finish, maka antara pejabat dan masyarakat harus terbentuk irama berlari yang selaras dan seimbang membangun menuju kejayaan Lamongan.
Tidak boleh terjadi kesenjangan antara pejabat dan warganya yang mengancam tujuan tersebut. Dengan semangat, mari kita bersama-sama berlari dalam kerangka membangun Lamongan Megilan. Hai janjian lari (HJL) yuk!. (*)
*) Dosen FK Unair. Warga Lamongan pehobi lari dan anggota komunitas Segoborun.
Editor : M. Yusuf Purwanto