Vino G. Bastian dan Laudya Cynthia Bella menjadi pemeran utama film dengan cerita era 1940-an. Bukan sekadar pemeran utama, tapi ada alasan tersendiri hingga saya mengutamakan menonton film tersebut di Lamongan.
Padahal, biasanya saya bersama anak melihat film bioskop di Bojonegoro. Kebetulan jarak rumah dengan bioskop cukup dekat. Tidak sampai 1 kilometer.
Kenapa pingin nonton di Lamongan? Nah gini, sebenarnya pingin ngajak istri, adik, dan mertua juga nonton di bioskop hehehe. Ternyata, Lebaran mertua dan istri sibuk dengan unjung - unjung atau silaturahmi.
Buya Hamka dengan karya buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck itu sekiranya adanya pertalian dengan Lamongan. Ada serangkai bagaimana Kapal Van Der Wijck tenggelam di perairan Paciran, Lamongan. Tentu, penulis yang menjadi cerita film juga menempatkan Lamongan.
Meski tak menyinggung Lamongan, namun dalam film Buya Hamka episode pertama itu, juga menyinggung cerita bagaimana Buya Hamka menuntaskan dalam membuat roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Bagaimana, Buya Hamka yang diperankan Vino Bastian siang malam mengetik cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sementara, istrinya tiada henti menyeduhkan kopi panas.
Buku tersebut cukup monumental. Ada kesan tersendiri, mengingat saat ini tim sejarah lagi meneliti Kapal Van Der Wijck di Paciran. Ada secercah kilauan, batang kapal sudah terdeteksi. Tim gabungan berusaha menelusuri dan menyelami bangkai kapal.
Jika suatu saat bangkai kapal ini benar-benar Kapal Van Der Wijck, tentu ada setangkai cerita yang berkait dengan Paciran, Lamongan. Apalagi, di pesisir pantai utara ini sudah ada tugu Kapal Van Der Wijck. Jika, bangkai kapal ini ditemukan akan menjadi khazanah cerita bagi Paciran.
Kawasan Pantai Utara (Pantura) Lamongan ini kaya sejarah dan budaya yang melekat.
Film ini tidak menonjolkan buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tapi menangkup bagaimana sosok Vino G. Bastian (Buya Hamka) sebagai jurnalis menuntaskan karya bukunya, hingga diterbitkan di sebuah koran. Dibaca banyak pembaca hingga oplah korannya melampaui target dari perusahaan. Diterbitkan hingga pembaca di Pulau Jawa.
Karyanya diterbitkan berbagai koran hingga mahasiswa di kafe-kafe bercerita tentang kisah cinta dalam buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sampai-sampai Laudya Cynthia Bella, menjadi cemburu.
Penokohan Buya Hamka dalam film tersebut diawali sebagai kader Muhammadiyah, jurnalis, hingga tokoh agama. Tak semua berkisah asmara, film tersebut ada konflik batin, meski sangat minim. Bagaimana saat perusahaan korannya dibredel oleh penjajah. Saat anaknya meninggal dunia kala bertugas memimpin penerbitan koran. Hingga dianggap pengkhianat saat mendekat Dai Nippon atau Jepang. Buya Hamka saat dipinggirkan hanya memiliki karya-karya buku yang membahagiakan istri dan anak-anaknya.
Film dengan visual dan musik yang bagus ini diduga dengan modal besar. Namun, bukan sekadar pesona buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, namun ada kisah Lamongan, jurnalis dan koran. Bagaimana koran-koran sebagai media perlawanan pada penjajah. (*)
*Khorij Zaenal Asrori
Wartawan Radar Bojonegoro
Editor : M. Yusuf Purwanto