Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Romantisasi Ilmu Psikologi Berpotensi Merusak Generasi

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 18 Desember 2022 | 17:33 WIB
(Lukman Hakim/RDR.BLORA)
(Lukman Hakim/RDR.BLORA)
SELAMA lima tahun mempelajari ilmu psikologi, setidaknya ilmu ini memiliki banyak privilege sebenarnya berpotensi cara membelokkan cara pandang manusia terhadap dirinya dan sekitarnya. Sedikit pandangan membangunkan masyarakat dari hipnotis romantisasi ilmu psikologi. Sehingga kembali menjadi manusia utuh, bebas, dan beradab.

Senang rasanya banyak orang saat ini menggaungkan pentingnya kesehatan mental. Ketika merasa tertekan, scroll TikTok dan semua orang lebih mudah meraba tentang apa terjadi pada dirinya. Apa harus dilakukan, dan apa penyebabnya. Kesehatan mental kini didewakan masyarakat karena memanjakan sisi-sisi lemah manusia. Dan membuat orang cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain atas kondisi mereka rasakan. Sebagaimana fenomena yang banyak terjadi saat ini.

“Mereka (orang tua) seenaknya saja ngomong dan tanpa mereka sadari omongan mereka (orang tua) itu bisa membuat mental anaknya sendiri down sehancur-hancurnya”

Cuplikan di atas salah satu komentar terhadap konten mengandung kekesalan anak terhadap orang tua. Tanpa disadari, sebenarnya apa yang orang tua lakukan terhadap kita saat ini adalah buah dari perlakuan lingkungan dan pola asuh. Sebagaimana keadaan kita saat ini dibentuk pola asuh orang tua dan lingkungan tak luput dari dampak-dampak negatif. Orang tua pun sama. Perbedaannya, orang tua mungkin tidak menyadari bahwa apa dilakukannya mungkin salah, sebab keterbatasan mereka mendapatkan edukasi terkait kesehatan mental saat itu.

Kalau ditarik benang merahnya, penyebab utama intergenerational trauma adalah kurangnya edukasi. Kalau orang tua zaman dahulu marah, respons anak akan segan. Sehingga mereka akan mendengarkan dan introspeksi. Berbeda sekarang, jika anak diposisikan kondisi-kondisi membuat mereka tidak nyaman, kesehatan mental adalah senjata utama menyuapi orang tua yang awam dengan dalih pentingnya kesehatan mental. Dan dampak-dampaknya pada masa depan sebagaimana apa mereka serap dari internet.

Padahal, sehat mental itu bukan sekadar tentang masa lalu yang membentuk diri kita. Tetapi bagaimana cara kita beradaptasi dengan berbagai permasalahan. Adapun cara beradaptasi menghadapi permasalahan sangat bisa dipelajari. Sekali lagi, apa pada masa lalu, trauma masa kecil dan kondisi tertekan lainnya, bukan menjadi penghalang sukses membentuk diri lebih baik masa depan. Berhenti menjadikan kondisi mental sebagai penghambat mengeksplorasi banyak hal.

Fenomena ini menarik sebab selama ini kita terbiasa memandang sains sebagai argumen terkuat di atas lainnya. Temuan ilmiah adalah cara pandang dianggap paling valid di antara paradigma lainnya. Sampai kita melupakan hakikat sebagai manusia tidak hanya dibekali Tuhan kapasitas akal mampu berpikir secara kompleks.

Namun, juga kepekaan afektif membuat masing-masing kita berbeda memandang suatu kondisi yang sama. Jika akal membenarkan penjumlahan 1+1= 2, sudut pandang afeksi berbeda. Perlu kehati-hatian memaknai segala kondisi dan tidak bisa menghakimi benar-salah.

Sesungguhnya kita tidak bisa bertahan hidup jika hanya mengandalkan segala hal berbau ilmiah tanpa sentuhan lain bersifat normatif. Hal-hal mendasar, misalnya tata krama adalah fondasi sangat esensial agar orang tidak reaktif melihat situasi dan terlalu terpolarisasi secara ekstrem.

Privilege kedua adalah romantisasi highlight "menurut psikologi". Apa yang terpapar di sosial media dengan highlight “menurut psikologi” bisa menyihir ribuan orang mengklaim bahwa dirinya termasuk kategori tersebut. Orang dengan mudah dibuat percaya dan mengkotak-kotakkan diri mereka terbatas pada kategori-kategori boleh jadi akan lebih baik ketika mereka tidak mengerti informasi tersebut sebelumnya.

Apa yang terjadi saat ini, masyarakat mudah melabel dirinya sebagai A, B, C, D, yang selanjutnya berdampak pengembangan potensi diri. Dengan mengerti kekurangan diri sendiri, alih-alih berusaha memperbaikinya, orang cenderung malas berbenah sebab mereka memiliki pandangan bahwa kekurangan dan kelebihan adalah sifatnya bawaan. Dan tidak bisa diubah.

Begitupula potensi, setelah mengikuti berbagai tes kecerdasan dan kepribadian, orang cenderung terpaku narasi tertulis hasil tes dan enggan mengeksplorasi hal-hal baru di luar potensinya. Padahal, jika mereka mau belajar dan berkembang, apa pun bisa mereka capai meskipun pada lembar interpretasi tes tidak memunculkan hasil tersebut. Manusia adalah makhluk dinamis dan mungkin berubah.

Psikologi memandang orang dengan cara humanis. Semua afirmasi disampaikan praktisi-praktisinya menggunakan diksi-diksi manis. Sebab, dasarnya memang keberadaan psikolog untuk membangun tempat nyaman dan aman bagi orang lain menjadi dirinya sendiri. Itu semua bukan berarti psikolog adalah dewa dan ilmu psikologi adalah kitab suci.

Keberadaan ilmu psikologi hakikatnya agar manusia menjadi selayaknya manusia utuh. Tetaplah berada pada kendali masing-masing. Masa depanmu tetap ditentukan usahamu. Maafkan yang lalu dan buang jauh batasan-batasanmu. (*)


SYAFA ZIYADAH KIRANA
Mahasiswa Universitas Airlangga Editor : M. Yusuf Purwanto
#Pendidikan #psikologi #kesehatan #mental #opini #pikiran #ilmu #jiwa #persepsi