Mungkin sampah organik masih bisa didaur ulang, dijadikan kerajinan, atau dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, bagaimana dengan sampah plastik yang kita buang? Apakah bisa terurai dengan cepat? Atau justru menjadi masalah baru di zaman yang semakin modern ini?
Sampah plastik telah menjadi ancaman tersendiri bagi lingkungan, hewan, dan manusia. Tidak ada yang tidak terdampak, semua rata ikut merasakan imbasnya. Lingkugan menjadi kotor. Hewan berkawan dengan sampah, atau bahkan yang lebih parah, hewan di lautan seperti ikan, mulai banyak yang mengandung mikroplastik. Dan manusia, merasakan dampaknya melalui makanan, minuman, dan udara yang tercemar oleh serpihan plastik yang berukuran kurang dari 5 mm. Serta harus mempertaruhkan hidupnya dengan berbagai macam resiko penyakit.
Memang kita tidak bisa lepas dari plastik. Makanan dibungkus plastik, minuman berada dalam kemasan plastik, kantong yang paling simple berbahan plastik, sedotan termurah terbuat dari plastik, semuanya serba menggunakan plastik, dan secara ekonomi memang terjangkau. Tapi, dari banyaknya kemudahan itu apakah benar-benar memberikan dampak yang bagus bagi kita dan lingkungan? Ternyata tidak. Justru menimbulkan masalah baru dan bersifat jangka panjang, karena sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, sedangkan manusia dalam sehari bisa membuang plastik lebih dari satu.
Semacam bom waktu, plastik akan membeludak semakin banyak dan menimbulkan masalah yang semakin sulit untuk diatasi. Kecuali, mulai dari sekarang kita diet plastik sekali pakai. Segala alat bantu yang bisa diganti tanpa menggunakan plastik sekali pakai, kita lakukan. Setidaknya kita mulai sadar bahwa membuang sampah plastik yang sepertinya sepele, ternyata dampak buruknya luas dan berkepanjangan, bahkan bisa saja kita mewarisi anak cucu kita dengan sampah yang kita hasilkan.
Hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 juni, menjadi momentum yang tepat untuk kita merenung dan memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan sampah plastik serta dampak buruknya. Lingkungan tidak bisa dimaknai sebagai objek yang dapat diperlakukan semena-mena, semau manusia, dan sesuai dengan keinginan manusia yang tak mengenal rasa puas. Karena keadaan semacam itu merupakan hal yang bahaya dan membahayakan. Maka, jalan terbaik adalah dengan saling menjaga, saling merawat, dan saling peduli. Sebab, dengan sikap seperti itulah kita bisa melangsungkan hidup yang harmoni dengan lingkungan.
Berdasarkkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per-tahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Keadaan seperti ini menjadi kemirisan tersendiri, sulit untuk membayangkan bagaimana jadinya kondisi lingkungan kita sepuluh tahun ke depan, jika persoalan sampah ini belum juga teratasi.
Maka, sudah seharusnya hari lingkungan hidup sedunia ini menjadi waktu yang tepat untuk kembali berfikir terkait kondisi lingkungan saat ini. Apakah baik-baik saja? Penuh dengan pencemaran? Atau bahkan banyak kerusakan?
Ya, memang menjalin hubungan baik dengan lingkungan tidak harus ketika ada peringatan saja. Melainkan setiap hari. Tapi, bukankah hari seperti ini memang dibutuhkan untuk menghormati lingkungan? Untuk mengingatkan bahwa di dunia ini bukan hanya manusia yang mempunyai hak, tetapi lingkungan hidup juga. Hak untuk bersih, hak untuk tidak tercemari, dan hak untuk tidak dirusak.
Semua memiliki peran penting dalam persoalan ini. mulai dari masyarakat, pemilik industri, dan pemerintah. Tidak bisa hanya satu komponen yang bergerak kemudian masalah tuntas. Harus ada sinergi. Masyarakat yang sudah mulai sadar dan menerapkan pengurangan plastik sekali pakai harus diikuti dengan perilaku industri yang sehat juga, tanpa membuang limbahnya secara ngawur. Bagitu pun pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan harus memikirkan permasalahan ini, untuk bisa mengambil langkah penanganan sebagai solusi, dan jika sudah, harus konsisten untuk kebaikan lingkungan.
Banyak cara untuk menambah informasi terkait dengan masalah sampah ini. Bisa melalui tulisan maupun audio visual. Untuk audio visual, bisa seperti film, video pendek, maupun konten video dokumenter. Salah satu konten video dokumenter terbaru yang membahas lingkungan, adalah ekspedisi tiga sungai, karya Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan Watchdoc. Ada 20 seri video, didalamnya membahas tentang bahaya sampah plastik bagi manusia, lingkungan, dan juga hewan. Sedangkan tulisan, bisa didapatkan melalui berita, artikel, majalah, ataupun buku. Tentu, mengenai tulisan akan lebih banyak pilihan dan modelnya.
Tidak ada yang kaku untuk memulai peduli terhadap lingkungan. Bahkan, jika keduanya juga tidak bisa kita dapatkan. Kita bisa menerapkan ajaran yang sudah tidak asing lagi. Seperti, tidak membuang sampah sembarangan, berlaku bersih, saling menjaga, dan tidak menyakiti.
Selamat hari lingkungan hidup sedunia. Mari memulai perubahan dari diri sendiri. Bisa dari hal-hal kecil. Kemudian, sebarkan pada sesama, untuk bumi yang lebih baik dan sehat ke depannya. (*)
*Kader Hijau Muhammadiyah. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya.
Editor : M. Yusuf Purwanto