RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjelang akhir Ramadan 1447 H, suasana hangat mulai terasa di sudut-sudut kota Bojonegoro. Selain sibuk berburu baju baru dan menukar uang receh, satu pertanyaan besar selalu muncul: "Kapan sebenarnya Lebaran 2026?"
Pertanyaan ini krusial bagi Anda yang ingin memesan tiket mudik atau mengatur jadwal cuti. Namun, di Indonesia, menentukan hari raya bukan hal yang sederhana karena adanya perbedaan metode antara organisasi Islam besar dan Pemerintah. Mari kita bedah prediksinya agar rencana silaturahmi Anda tidak berantakan!
1. Muhammadiyah: Pasti di Jumat, 20 Maret 2026
Bagi warga Muhammadiyah, kepastian tanggal sudah bisa dipegang jauh-jauh hari. Melalui Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, diputuskan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Baca Juga: Lebaran 2026 Berpotensi Berbeda? Intip Jadwal Resmi Pemerintah dan Ketetapan Muhammadiyah Sekarang!
Metode yang digunakan: Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dengan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Secara matematis, ijtimak (konjungsi) menjelang Syawal terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC. Berdasarkan hitungan ini, syarat masuknya bulan baru telah terpenuhi untuk hari Jumat.
2. Nahdlatul Ulama (NU): Menanti Hilal di Akhir Ramadan
Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) tetap memegang prinsip Rukyatul Hilal (pengamatan langsung). Bagi warga NU, kepastian Lebaran baru akan diumumkan pada malam ke-30 Ramadan.
Petugas di berbagai titik, termasuk di titik pantau Jawa Timur, akan melihat langit setelah matahari terbenam pada Kamis, 19 Maret 2026.
-
Jika Hilal Terlihat: Lebaran jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
-
Jika Hilal Tidak Terlihat (Mendung/Posisi Rendah): Maka puasa digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, sehingga Lebaran jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
3. Pemerintah: Sinyal Kalender Kemenag ke 21 Maret?
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026. Menariknya, jika kita mengintip Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Bimas Islam Kemenag, Hari Raya Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Perajin Bambu Ngawen Banjir Order Anyaman Parsel Lebaran
Mengapa Ada Potensi Perbedaan? Pemerintah kini menggunakan kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), di mana hilal dianggap sah jika tingginya minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Jika pada tanggal 19 Maret posisi bulan belum mencapai angka tersebut, besar kemungkinan Pemerintah akan menetapkan Lebaran di hari Sabtu.
Mengapa Tanggal Lebaran Bisa Berbeda?
Perbedaan ini bukan karena salah hitung, melainkan perbedaan kriteria:
-
Metode Astronomi: Perbedaan parameter dalam rumus matematika yang digunakan.
-
Kriteria Ketinggian: Batas minimal derajat ketinggian bulan di atas cakrawala.
-
Faktor Alam: Kondisi cuaca saat pemantauan hilal (rukyat) di lapangan.
Untuk memastikan kesesuaian data, masyarakat dapat memantau posisi hilal secara ilmiah melalui laman resmi BMKG yang secara rutin merilis data pemetaan hilal di seluruh Indonesia.
Tips Persiapan Jelang Lebaran di Bojonegoro
-
Pemesanan Tiket: Jika menggunakan transportasi umum, pertimbangkan untuk mengambil tiket di tanggal 21 atau 22 Maret agar lebih aman jika terjadi perbedaan hari raya.
-
Pembayaran Zakat: Jangan menunggu hingga malam takbiran. Tunaikan Zakat Fitrah lebih awal untuk mempermudah distribusi kepada yang berhak.
-
Pantau Sidang Isbat: Tetap tunggu pengumuman resmi Menteri Agama pada 19 Maret malam melalui televisi atau media daring.
Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan
Meskipun ada potensi perbedaan antara 20 atau 21 Maret, semangat kemenangan Idul Fitri tetaplah sama. Di Bojonegoro, tradisi saling memaafkan tetap menjadi inti dari perayaan ini, terlepas dari hari apa Shalat Id dilaksanakan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko