RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sejarah perekonomian Indonesia mencatat salah satu periode paling berat pada era Presiden Soekarno, khususnya pada dekade 1960-an. Saat itu, Indonesia mengalami inflasi yang sangat tinggi hingga ratusan persen per tahun, yang membuat daya beli masyarakat merosot dan nilai Rupiah kehilangan kekuatannya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam video YouTube Kamar Film yang mengulas perjalanan ekonomi Indonesia melalui perubahan nilai tukar Rupiah.
Dalam video tersebut, kondisi ekonomi pada era Soekarno digambarkan sebagai periode ketika pemerintah menghadapi tekanan fiskal dan ekonomi yang sangat besar. Inflasi bahkan disebut mencapai sekitar 600 persen per tahun.
Kebijakan Politik dan Beban Ekonomi
Salah satu faktor yang disoroti adalah kebijakan politik pemerintah yang membutuhkan pembiayaan besar. Pada masa tersebut, Indonesia menjalankan berbagai agenda politik dan proyek pembangunan berskala besar.
Sejumlah proyek yang dikenal sebagai proyek mercusuar membutuhkan anggaran besar di tengah kondisi ekonomi yang belum kuat.
Pemerintah juga menghadapi kebutuhan pembiayaan yang tinggi akibat berbagai kebijakan nasional. Ketika penerimaan negara tidak mencukupi, pencetakan uang menjadi salah satu cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Baca Juga: Krisis 1998: Ketika Rupiah Anjlok dan Ekonomi Indonesia Mengalami Guncangan Besar
Namun, bertambahnya jumlah uang beredar tanpa diikuti peningkatan produksi barang dan jasa dapat mendorong kenaikan harga secara tajam.
Harga Barang Melonjak
Hiperinflasi kemudian memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Harga barang kebutuhan meningkat dengan sangat cepat, sementara pendapatan masyarakat tidak mampu mengikuti kenaikan tersebut.
Dalam situasi seperti itu, uang kehilangan daya belinya. Nilai nominal uang yang dimiliki masyarakat dapat menjadi jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas mata uang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Pelemahan nilai Rupiah bukan hanya persoalan angka yang terlihat di pasar, tetapi dapat berpengaruh terhadap harga makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.
Rupiah dan Kepercayaan terhadap Pemerintah
Kamar Film juga menyoroti nilai tukar sebagai salah satu cermin kepercayaan terhadap kondisi suatu negara.
Ketika perekonomian tidak stabil dan kebijakan pemerintah menimbulkan ketidakpastian, kepercayaan terhadap mata uang dapat ikut terpengaruh.
Pada masa itu, persoalan ekonomi akhirnya menjadi salah satu tantangan besar yang harus diselesaikan oleh pemerintahan berikutnya.
Baca Juga: Rupiah Kembali Jadi Sorotan di Era Prabowo, Belanja Negara dan Ruang Fiskal Jadi Perhatian
Memasuki era Orde Baru, pemerintah kemudian mengubah arah kebijakan dengan menjadikan stabilitas ekonomi sebagai salah satu prioritas utama.
Pelajaran dari Hiperinflasi
Periode hiperinflasi era Soekarno memberikan pelajaran mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pengeluaran negara, jumlah uang beredar, dan kemampuan ekonomi dalam menghasilkan barang serta jasa.
Pertumbuhan pengeluaran tanpa dukungan penerimaan dan kapasitas produksi dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian.
Sejarah tersebut juga menunjukkan bahwa nilai mata uang dapat menjadi gambaran dari persoalan ekonomi yang lebih luas. (*)
Sumber: YouTube Kamar Film.
Catatan: Artikel ini merangkum pembahasan dalam video Kamar Film. Angka dan interpretasi historis sebaiknya dibandingkan dengan data resmi pemerintah dan sumber akademis.
Editor : Bhagas Dani Purwoko