RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perry Warjiyo mundur dari jabatannya Gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, surat pengajuan pengunduran diri Perry baru diterima Presiden Prabowo Subianto, Minggu (26/07) lalu. Surat yang berisi pengunduran dirinya itu dibuat sehari sebelumnya.
Nama Perry Warjiyo mungkin tidak sepopuler pejabat publik lainnya. Namun, kebijakan yang lahir di bawah kepemimpinannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) digunakan jutaan masyarakat setiap hari.
Baca Juga: Bagaimana Cara Investasi Emas untuk Pemula? Intip 5 Trik Jitu Ini Biar Kantong Makin Tebal!
Mulai dari pembayaran menggunakan QRIS di warung dan pasar hingga layanan transfer cepat melalui BI-FAST, berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari transformasi sistem pembayaran nasional.
Di balik peran Bank Indonesia sebagai bank sentral, Perry Warjiyo dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendorong percepatan digitalisasi sektor pembayaran.
Kepemimpinannya tidak hanya berfokus menjaga stabilitas nilai rupiah dan inflasi, tetapi juga mempersiapkan fondasi ekonomi digital Indonesia melalui berbagai kebijakan strategis.
Dilansir dari laman resmi Bank Indonesia, Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959. Minatnya terhadap ilmu ekonomi membawanya menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah itu, melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang ekonomi.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama lebih dari tiga dekade, Perry meniti karier melalui berbagai jabatan strategis, mulai dari bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, hubungan internasional, hingga pengelolaan bank sentral.
Menurut informasi yang dipublikasikan Bank Indonesia, pengalaman panjang tersebut mengantarkannya dipercaya menjadi Deputi Gubernur BI sebelum akhirnya dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 24 Mei 2018.
Mengacu pada keterangan resmi DPR RI dan Bank Indonesia, Perry kembali memperoleh kepercayaan untuk memimpin BI pada periode kedua setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR pada 2023.
Selain itu, salah satu kebijakan yang paling melekat dengan kepemimpinannya adalah peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, QRIS merupakan standar nasional kode QR pembayaran yang dikembangkan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Standar tersebut resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2019 sebagai bagian dari upaya menyatukan berbagai sistem pembayaran digital di Indonesia.
Meski kerap dikaitkan dengan nama Perry Warjiyo, QRIS bukanlah hasil karya satu individu. Bank Indonesia bersama ASPI mengembangkan standar tersebut agar seluruh penyelenggara jasa pembayaran menggunakan satu kode QR yang sama. Di bawah kepemimpinan Perry, implementasi QRIS dipercepat hingga menjangkau pasar tradisional, pusat perbelanjaan, pelaku UMKM, hingga berbagai sektor layanan publik.
Bank Indonesia menjelaskan, QRIS memungkinkan masyarakat melakukan transaksi menggunakan berbagai aplikasi dompet digital maupun mobile banking tanpa harus menyesuaikan jenis kode QR yang digunakan pedagang. Bagi pelaku UMKM, sistem ini turut menyederhanakan proses pembayaran karena cukup menggunakan satu kode QR untuk melayani berbagai aplikasi pembayaran.
Transformasi digital yang dikawal Perry tidak berhenti pada QRIS. Masih dari sumber yang sama, bank sentral juga mengembangkan BI-FAST sebagai infrastruktur sistem pembayaran ritel yang memungkinkan transfer dana berlangsung secara real time dengan biaya lebih efisien.
Kehadiran BI-FAST menjadi bagian dari penguatan ekosistem pembayaran nasional yang semakin cepat, aman, dan terintegrasi.
Komitmen tersebut sejalan dengan arah kebijakan yang tertuang dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025.
Dalam dokumen tersebut, Bank Indonesia menempatkan digitalisasi sistem pembayaran sebagai salah satu strategi utama untuk mendukung ekonomi dan keuangan digital nasional. QRIS, BI-FAST, serta pengembangan inovasi pembayaran lainnya menjadi bagian dari implementasi visi tersebut.
Baca Juga: Stok Beras Bulog Bojonegoro Tercatat 75 Ribu Ton
Transformasi sistem pembayaran juga diperluas melalui kerja sama lintas negara. Bank Indonesia mencatat, implementasi QRIS kini berkembang ke skema pembayaran berbasis QR lintas batas (cross-border QR payment) bersama sejumlah negara mitra di kawasan ASEAN. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik saat bertransaksi di negara mitra, begitu pula sebaliknya.
Di tengah percepatan digitalisasi, Perry tetap menjalankan mandat utama Bank Indonesia sebagai bank sentral. Tugas menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, dan memelihara stabilitas sistem keuangan menjadi tantangan yang semakin kompleks, terutama ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Berbagai kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran diterapkan secara bersamaan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Dalam berbagai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Perry Warjiyo juga berulang kali menekankan pentingnya policy mix atau bauran kebijakan. Konsep tersebut mengedepankan sinergi antara kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran agar stabilitas ekonomi tetap terjaga sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Pasokan dari Jombang hingga Tuban, Penjual Kurungan di Dander Andalkan Daerah Tetangga
Perjalanan karier Perry Warjiyo menunjukkan bagaimana seorang ekonom dapat memainkan peran penting dalam membentuk arah kebijakan nasional. Dari ruang-ruang perumusan kebijakan di Bank Indonesia lahir berbagai inovasi yang kini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Pembayaran digital melalui QRIS, layanan transfer BI-FAST, hingga penguatan ekosistem ekonomi digital menjadi jejak kebijakan yang melekat pada masa kepemimpinannya. Berbagai langkah tersebut tidak hanya mencerminkan upaya Bank Indonesia mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi fondasi bagi sistem pembayaran Indonesia yang semakin modern, efisien, dan inklusif. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari