RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menjadi peternak ayam saat ini rasanya seperti sedang menguji nyali di tengah badai ekonomi. Bagaimana tidak, kenaikan harga pakan telah menjadi tantangan terbesar yang mencekik industri peternakan, khususnya bagi para peternak mandiri.
Fakta pahitnya, pakan mencakup sekitar 70% hingga 80% dari total biaya produksi, sehingga setiap kenaikan harga otomatis menekan margin keuntungan hingga menyebabkan kerugian nyata.
Setidaknya ada lima faktor sistemik yang saling berkaitan, mulai dari ketergantungan bahan baku impor, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga ketidakseimbangan pasokan jagung domestik.
Berikut adalah bedah tuntas mengapa "menu makan" ayam Anda terus melonjak tinggi:
1. Badai Harga Bahan Baku Global (Jagung & Kedelai)
Energi dan protein adalah fondasi utama pakan ayam yang berasal dari jagung dan Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai. Masalahnya, Indonesia masih harus mengimpor bungkil kedelai dalam jumlah besar dari Amerika Serikat dan Brasil.
Baca Juga: Temuan DPRD Bojonegoro di Lapangan: KPM Gayatri Jual Kandang dan Ayam, Perlu Ditingkatkan Pengawasan
Ketika terjadi gagal panen atau gangguan cuaca di negara-negara produsen tersebut, harga komoditas global akan naik dan secara otomatis menyeret harga pakan nasional ke titik tertinggi.
2. Efek Nilai Tukar Rupiah Melemah
Karena industri pakan kita sangat bergantung pada bahan impor, termasuk bungkil kedelai dan premik, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi sangat krusial.
Saat Rupiah melemah, biaya impor membengkak. Pabrik pakan biasanya tidak punya pilihan selain membebankan kenaikan biaya tersebut langsung kepada konsumen, yaitu Anda para peternak.
3. Ironi Jagung Lokal: Ada Tapi Susah Didapat
Jagung mengisi sekitar 50% dari struktur pakan ayam. Namun, sering kali terjadi ketimpangan antara waktu panen raya dengan kebutuhan pabrik yang berlangsung konsisten sepanjang tahun.
Selain masalah stok, kadar air yang tinggi pada jagung lokal sering kali meningkatkan biaya pengeringan atau memaksa pabrik berebut pasokan dengan industri pangan manusia.
4. Logistik Global yang Sedang "Sesak Napas"
Ketegangan geopolitik di wilayah produsen biji-bijian dunia dan kenaikan harga BBM internasional berdampak langsung pada rantai pasok.
Baca Juga: KPM Gayatri di Bojonegoro Keberatan Pakan Pabrikan, Ternak Bantuan Rawan Dijual
Biaya pengapalan (freight cost) untuk membawa bahan baku ke pelabuhan di Indonesia meningkat tajam. Beban tambahan ini akhirnya menambah harga jual akhir pakan di tingkat agen hingga pengecer.
5. Harga Tambahan Pakan Juga Naik
Ayam membutuhkan vitamin, mineral, dan asam amino tambahan (additive) agar bisa tumbuh optimal. Mayoritas komponen mikro ini diproduksi di luar negeri, seperti Tiongkok.
Jika terjadi gangguan produksi atau kebijakan ekspor yang diperketat di negara produsen, harga asam amino esensial akan ikut meroket karena kelangkaan stok.
Apa Solusinya?
Tingginya harga pakan memang masalah sistemik pasar global. Namun, bukan berarti peternak harus menyerah. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), efisiensi pakan adalah kunci keberlangsungan usaha.
Salah satu cara yang kini mulai populer adalah penggunaan bahan pakan alternatif lokal atau melakukan self-mixing (pembuatan pakan mandiri) dengan bimbingan ahli nutrisi untuk mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.
Selain itu, riset dalam Journal of Poultry Science menyarankan optimalisasi manajemen kandang untuk memperbaiki Feed Conversion Ratio (FCR), sehingga setiap gram pakan yang dimakan benar-benar berubah menjadi daging atau telur secara efisien. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko