RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) adalah komoditas strategis yang adaptif terhadap lahan kering dan memiliki potensi luar biasa sebagai sumber pangan, pakan, dan bahan baku industri, termasuk bioetanol.
Keunggulannya dalam menghadapi perubahan iklim menjadikan sorgum primadona baru di sektor pertanian Indonesia.
Berikut adalah panduan teknis komprehensif budidaya sorgum yang diadopsi dari Petunjuk Teknis Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk memastikan hasil panen yang optimal.
Syarat Tumbuh dan Persiapan Lahan
A. Kondisi Lingkungan Ideal
-
Waktu Tanam Optimal: Tanam sorgum sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Hal ini penting agar tanaman muda terhindar dari genangan dan proses pematangan biji (panen) terjadi saat cuaca cerah, mencegah kerusakan biji akibat kelembaban tinggi.
-
Kebutuhan Air: Meskipun tahan kekeringan, sorgum memerlukan ketersediaan air yang cukup pada dua fase krusial: saat tanaman berdaun empat (fase pertumbuhan awal) dan pada fase pengisian biji hingga biji mulai mengeras.
-
Kesesuaian Lahan: Sorgum memiliki daya adaptasi yang luas, termasuk di lahan kering atau tanah berpasir dengan pH netral (6,0–7,5).
B. Pengolahan Tanah
Lahan harus dibersihkan dari sisa tanaman, kemudian diolah (dicangkul atau dibajak) sebanyak dua kali hingga gembur. Pemberian pupuk organik (kompos atau pupuk kandang) sangat dianjurkan untuk memperbaiki struktur tanah. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan 2–4 minggu sebelum tanam.
Teknik Penanaman dan Pemeliharaan
A. Penyiapan Benih dan Penanaman
-
Varietas: Gunakan benih unggul dengan daya tumbuh minimal 90 persen dan bebas hama penyakit. Perlakuan benih dengan fungisida dianjurkan sebelum tanam.
-
Kebutuhan Benih: Sekitar 6–10 kg per hektar (kg/ha).
-
Cara Tanam: Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dan memasukkan 3–5 biji per lubang.
-
Jarak Tanam: Jarak tanam yang dianjurkan untuk sistem monokultur adalah 75 cm x 25 cm atau 75 cm x 20 cm. Setelah benih dimasukkan, lubang ditutup dengan tanah ringan atau arang sekam.
B. Pemupukan dan Pembumbunan
-
Pemupukan Dasar: Diberikan saat tanam dengan cara ditugal sejauh 7 cm dari lubang tanam. Pupuk yang diberikan adalah seluruh pupuk Fosfor (P) dan Kalium (K), serta 1/3 bagian pupuk Nitrogen (N) (Urea).
-
Pupuk Susulan: Sisa 2/3 bagian pupuk N diberikan pada umur 1 bulan setelah tanam (HST).
-
Penyiangan dan Pembumbunan: Penyiangan gulma penting dilakukan, terutama pada 2 minggu pertama pertumbuhan, karena kompetisi gulma dapat menurunkan hasil hingga 20 persen.
Penyiangan I: Dilakukan pada umur 10–15 HST.
Penyiangan II/Pembumbunan: Dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan (sekitar 4 MST atau 3–4 minggu setelah tanam). Pembumbunan bertujuan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan memperkokoh batang.
C. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama utama yang menyerang adalah Lalat Bibit dan Ulat Tanah (Agrotis sp).
-
Pengendalian Hama: Dapat dilakukan dengan menaburkan insektisida berbahan aktif karbofuran (seperti Furadan 3G) saat penanaman atau pada umur 21 HST.
-
Pencegahan Penyakit: Dianjurkan perlakuan benih dengan fungisida untuk mencegah serangan organisme penyakit sejak dini.
Panen, Pasca Panen, dan Relevansi Nasional
A. Panen dan Pengeringan
-
Umur Panen: Rata-rata sorgum dipanen pada umur 120 hari (tergantung varietas).
-
Kriteria: Panen dilakukan jika sebagian besar daun sudah menguning, malai sudah kelihatan tua, dan biji telah mengeras.
-
Pasca Panen: Malai dijemur hingga kadar air (KA) biji mencapai 10–12 persen. Pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran selama ± 60 jam. Biji dirontokkan setelah kering.
B. Bojonegoro: Lumbung Energi Nasional Berbasis Sorgum
Penting untuk dicatat bahwa sorgum bukan hanya komoditas pangan, tetapi juga berperan vital dalam mendukung ketahanan energi nasional. Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah dicanangkan sebagai lokasi proyek strategis nasional (PSN) untuk pengembangan industri metanol dan bioetanol.
PT Butonas Petrochemical Indonesia berencana membangun pabrik bioetanol di Bojonegoro yang akan menggunakan sorgum sebagai bahan baku utama. Pabrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.
Realisasi proyek ini membuka peluang ekonomi besar bagi petani di Bojonegoro dan sekitarnya, karena akan ada permintaan tinggi (pasar terjamin) untuk pasokan sorgum, mendorong pengoptimalan lahan-lahan yang kurang subur atau marginal. Bahkan, Perhutani KPH Bojonegoro telah berkolaborasi untuk mengelola lahan hutan guna ditanami sorgum sebagai persiapan bahan baku bioetanol. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko