RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) adalah tanaman serealia yang semakin mendapat perhatian. Dikenal memiliki daya adaptasi yang luas dan toleransi tinggi terhadap kekeringan serta kondisi lahan marginal, sorgum menjadi pilihan cerdas untuk diversifikasi pangan dan pakan.
Para petani di Bojonegoro sebaiknya mulai melirik komoditas Sorgum. Sebab, selain bisa digunakan sebagai bahan pangan, Sorgum juga merupakan salah satu bahan bioetanol. Sehingga, ketika pabrik metanol dan etanol di Bojonegoro sudah berdiri, setidaknya bisa ikut berkontribusi.
Syarat Tumbuh dan Pemilihan Benih Unggul
Kesesuaian lingkungan adalah fondasi awal keberhasilan budidaya.
1. Kondisi Lingkungan Ideal
Waktu Tanam: Sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Hal ini penting agar tanaman tumbuh optimal dan malai terisi sempurna, serta menghindari risiko biji mudah tumbuh atau terserang hama saat panen di tengah curah hujan tinggi.
Iklim: Sorgum toleran dan cocok ditanam di daerah tropik kering dan setengah kering.
Suhu Optimal: 23°C hingga 30°C. Suhu kurang dari 20°C (misalnya pada ketinggian di atas 800 mdpl) dapat menghambat pertumbuhan.
Kebutuhan Air: Ketersediaan air sangat dibutuhkan, terutama pada fase pertumbuhan awal (tanaman berdaun empat) dan fase pengisian biji sampai biji mulai mengeras.
Kesesuaian Lahan: Memiliki daya adaptasi luas, termasuk pada tanah berpasir dengan pH 5,0–7,5.
2. Benih dan Penanaman
Varietas: Gunakan benih unggul seperti Numbu, Kawali, Super 1, atau Super 2.
Kebutuhan Benih: Sekitar 6-10 kg/hektar, dengan daya tumbuh minimal 90% dan bebas hama penyakit.
Perlakuan Benih: Benih dianjurkan mendapat perlakuan fungisida sebelum tanam.
Jarak Tanam: Jarak tanam yang umum dianjurkan adalah 75 x 25 cm atau 75 x 20 cm.
Teknik Tanam: Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam $\pm 5$ cm, dengan 2 tanaman per lubang. Setelah ditanam, lubang ditutup dengan abu sekam atau tanah.
Teknik Budidaya: Dari Pengolahan Lahan hingga Pemeliharaan
Budidaya yang tepat memastikan pertumbuhan vegetatif dan generatif berjalan maksimal.
1. Persiapan dan Pengolahan Lahan
Tanah diolah sedalam 15–20 cm untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase, dan sekaligus mematikan gulma. Pastikan juga untuk membuat saluran drainase di sekeliling atau tengah lahan.
2. Pemupukan
Pemberian pupuk berperan krusial dalam ketersediaan nutrisi.
Dosis Umum: Misalnya, 250 kg Urea/ha + 300 kg Ponska/ha.
Waktu Pemberian (Dua Kali):
Dosis Pertama (7–10 Hari Setelah Tanam/HST): Seluruh dosis P (misalnya Ponska 300 kg/ha) dan K, bersama $\frac{1}{3}$ bagian dosis N (Urea).
Dosis Kedua (30–35 HST): Sisa $\frac{2}{3}$ bagian dosis N (Urea 250 kg/ha).
Cara Pemberian: Pupuk diberikan dalam lubang atau larikan $\pm 15$ cm di samping tanaman.
3. Penyiangan dan Pembumbunan
Gulma dapat menurunkan hasil biji sorgum hingga lebih dari 20% jika tidak disiangi pada 2 minggu pertama.
Penyiangan: Umumnya dilakukan dua kali, yaitu pada umur 10–15 HST dan 45 HST, atau tergantung kondisi gulma. Penyiangan bisa menggunakan cangkul atau alat mekanis.
Pembumbunan: Dilakukan bersamaan dengan penyiangan kedua. Tanah di sekitar batang digemburkan lalu ditimbunkan ke pangkal batang. Tujuannya adalah merangsang pertumbuhan akar baru dan memperkokoh batang tanaman.
Pengendalian Hama Penyakit dan Masa Panen
Perlindungan dan penentuan waktu panen yang tepat adalah penentu akhir kualitas biji.
1. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit utama yang menyerang sorgum antara lain:
Hama Utama: Ulat tanah, Aphid, dan Lalat bibit.
Pengendalian: Dapat menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran (misalnya Furadan 3G 20 kg/ha) saat tanam dan pada umur 21 HST.
Penyakit Utama: Karat dan Bercak daun,
Pengendalian: Bercak daun dapat dikendalikan dengan memangkas daun yang terinfeksi atau dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif mankozeb. Rotasi tanaman juga dapat membantu.
2. Panen dan Pasca-panen
Ketepatan waktu panen sangat memengaruhi kualitas biji.
Umur Panen: Bervariasi antara 3–4 bulan (100–105 hari), tergantung varietas.
Kriteria Panen: Sorgum siap dipanen jika 80% dari biji telah mengeras dan malai telah menguning. Panen terlambat akan menurunkan kualitas biji.
Cara Panen:
Dilakukan pada cuaca cerah.
Potong tangkai malai sepanjang 15–20 cm dari pangkal malai.
Pasca-panen:
Malai dijemur hingga kadar air 10–11 %.
Selanjutnya, biji dirontokkan.
Baca Juga: Panen Perdana, Kabupaten Blora Diusulkan Mendes PDT Jadi Pusat Sorgum Nasional
Penyimpanan Sederhana: Petani dapat menggantung malai sorgum di atas perapian dapur. Asap api membantu mengeringkan dan mengendalikan hama selama penyimpanan.
Keunggulan Sorgum: Selain toleran terhadap kondisi marjinal, sorgum juga memiliki kemampuan ratoon (panen susulan dari tunas batang setelah panen pertama), yang dapat memberikan hasil tanpa penanaman ulang untuk musim berikutnya. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko