RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Nampaknya hangar pesawat milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) bakal kembali menerima pesawat baru. Setelah sepakat mendatangkan Dassault Rafale tahun lalu, plus digadang-gadang bakal membeli Boeing F-15 EX awal tahun ini, bakal ada pesawat ketiga yang hampir pasti menjadi alutsista terbaru para pelindung angkasa.
Meskipun belum secara gamblang memastikan, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin sudah memberi kode bahwa Chengdu J-10 bakal jadi pesawat terbaru TNI AU pada Rabu (15/10). Usai menyelesaikan pertemuan di kantornya, purnawirawan Jenderal TNI AD tersebut memberi petunjuk singkat kepada awak media.
“Segera terbang di Jakarta,” ujar Sjafire singkat kepada awak media dengan antusias saat disinggung mengenai pesawat tersebut, sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Selain itu, meskipun juga tidak mengkonfirmasi secara langsung, pihak TNI menyatakan manut keputusan Kemhan mengenai belanja alutsista, termasuk Chengdu J-10. Yang jelas, kebijakan pengadaan dan administrasi alustsista sepenuhnya ada di tangan Kemhan.
“Termasuk kerja sama pertahanan dengan negara lain. Sedangkan TNI sebagai pengguna akan melaksanakan tugas dalam aspek operasional, kesiapan satuan, serta penggunaan alutsista tersebut di lapangan setelah resmi diserahkan oleh Kemhan,” jelas Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah pada Kamis (16/10).
Sebelumnya, TNI sendiri suah menunjukkan ketertarikan untuk menggunakan Chengdu J-10 sejak Mei. Namun baru Agustus lalu TNI AU mengungkap bahwa mereka berminat mendatangkan J-10, saat mereka melakukan kajian terhadap pesawat tempur asal Tiongkok tersebut.
"Sementara untuk yang J-10 itu memang menjadi pengkajian TNI AU, kita ingin platform-platform alutsista yang terbaik, yang memang bisa membantu kita untuk mewujudkan kebijakan saat ini,” jelas Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Setjen Kemenhan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang saat ditemui awak media pada Agustus lalu (18/9).
Mengenai kocek untuk mendatangkan pesawat tempur tersebut, biaya sudah disiapkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan biaya yang dikeluarkan untuk mendatangkan 42 unit J-10 sekitar USD 9 miliar, atau kurang lebih Rp 148 triliun.
"US$ 9 miliar kalau nggak salah atau lebih. Saya lupa angkanya, tapi sudah disetujui, jadi harusnya sudah siap semua," jelasnya pada Rabu.
Pun demikian, Purbaya bakal perlu berkoordinasi kembali dengan Kemhan dalam proses pengadaan pesawat tersebut. Menurut Purbaya, keutamaan saat ini yakni memastikan jadwal kedatangan pesawat ke Tanah Air.
"Harusnya sih yang disebutkan sudah masuk yang dianggarkan itu harusnya. Tapi saya masih double check (periksa kembali) lagi, apakah dia mau impornya tahun depannya lagi atau kapan," tambah pria yang baru-baru ini menjabat sebagai Menkeu tersebut.
Sebagai perbandingan, pada Agustus lalu TNI AU mengkonfirmasi bahwa pengiriman perdana unit Dassault Rafale bakal tiba di Indonesia sekitar awal tahun depan. Selain itu, baru tiga unit dari total 42 pesawat yang akan mendarat.
"Pesawat Rafale, pesawat buatan Prancis, rencananya Februari atau Maret kita akan menerima batch pertama, 3 pesawat dulu," jelas Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Mohamad Tonny Harjono pada Agustus (13/9).
Uniknya, jika terwujud, TNI AU bakal memiliki dua pesawat andalan dua negara yang saling berkonflik. Dassault Rafale terkenal sebagai salah satu ujung tombak angkatan udara India, sementara Chengdu J-10 merupakan pespur andalan Pakistan. Kedua pesawat sering bertemu dalam konflik perebutan wilayah Lembah Kashmir, dan laporan publik menyebut beberapa J-10 milik Pakistan sukses menjatuhkan beberapa unit Rafale milik India pada Mei lalu. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana