Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenang Peristiwa Rengasdengklok, Pendorong Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Seminggu Lebih Cepat dari Janji Jepang

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 17 Agustus 2025 | 03:26 WIB
Rumah Djiaw Kie Siong, tempat para pejuang muda membawa Soekarno dan Moh. Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. (Dok. Historia)
Rumah Djiaw Kie Siong, tempat para pejuang muda membawa Soekarno dan Moh. Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. (Dok. Historia)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sebagaimana diketahui oleh masyarakat luas, kemerdekaan Indonesia diresmikan dengan proklamasi pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di pekarangan rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Namun mungkin masyarakat lupa, beberapa jam sebelum proklamasi dibacakan merupakan salah satu momen paling krusial dalam sejarah yang menentukan tanggal kemerdekaan Indonesia.

Persitiwa tersebut yakni Penculikan Rengasdengklok, yang terjadi sehari sebelumnya pada 16 Agustus 1945. Penculikan dilakukan oleh sekelompok pemuda pejuang kemerdekaan yang menamai diri sebagai Menteng 31, yang diambil dari alamat markas mereka di Asrama Angkatan Baru Indonesia (sekarang Gedung Juang ’45).

Para pemuda tersebut dipimpin oleh empat orang, yakni Soekarni Kartodiwirjo, Wikana, D.N. Aidit dan Chaerul Saleh. Mereka memposisikan diri sebagai golongan muda yang ingin segera memerdekakan Indonesia, berseberangan dengan golongan tua yang dipimpin Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo yang menunggu proklamasi sesuai rencana Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sesuai instruksi dari pemerintahan Jepang.

Setahun sebelumnya, dengan terdesaknya posisi Jepang dan kubu poros (Axis) di Perang Dunia II, pemerintahan di bawah pimpinan Perdana Menteri (PM) Hideki Tojo lengser dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso. Sebagai langkah untuk mendukung Jepang di peperangan, Koiso mengumumkan janji memberikan kemerdekaan pada Indonesia pada Juli 1944, yang dikenal sebagai Janji Koiso.

Menurut catatan Sekretariat Negara RI, pada Oktober 1944, Pimpinan Barisan Propaganda Jepang, Hitoshi Shimizu memberikan sepasang kain merah dan putih kepada Fatmawati untuk memulai proses persiapan kemerdekaan tersebut. Kemudian pada 29 April 1945, tiga minggu setelah Koiso lengser, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) didirikan.

Akhinya, pada 7 Agustus 1945 BPUPKI berubah identitas menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) setelah diberi lampu hijau oleh Jepang melalui Marsekal Hisaichi Terauchi. Izin  pendirikan PPKI oleh Marsekal Terauchi diberikan setelah kota Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat sehari sebelumnya, memastikan kekalahan Jepang di Perang Dunia II.

Dua hari kemudian, setelah giliran kota Nagasaki dijatuhi bom atom, Marsekal Terauchi memanggil Soekarno, Moh. Hatta dan Radjiman Wedyoningrat untuk rapat darurat di Da Lat, Vietnam. Dalam rapat tersebut, Marsekal Terauchi meneruskan pesan pemerintahan Jepang yang  merestui kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Seminggu kemudian pada 15 Agustus, Jepang melalui Kaisar Hirohito resmi menyatakan menyerah dari peperangan. Momen tersebut langsung dimanfaatkan oleh golongan muda yang mendengar kabar tersebut melalui Sutan Sjahrir untuk merebut kemerdekaan Indonesia, mumpung kekuasaan di Indonesia secara teknis sedang kosong.

Namun golongan tua bersikeras ingin menuruti instruksi Jepang, meskipun Sutan dan golongan muda telah mengabarkan kabar menyerahnya Jepang kepada mereka. Sehingga pada 16 Agustus 1945 pukul 3 pagi, para pemuda menjemput paksa Soekarno dan Moh. Hatta, serta Fatmawati dan anak Soekarno, Guntur, dan membawa mereka ke sebuah rumah di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Keduanya sengaja dibawa jauh dari Jakarta agar terbebas dari pengaruh Jepang.  Tadinya mereka diarahkan ke sebuah gubuk kecil, namun atas pertimbangan kenyamanan mereka kemudian ditempatkan di rumah milik petani setempat, Djiaw Kie Siong.

Di rumah tersebut, para pemuda mengulangi tuntutan mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Karena sedianya hari tersebut diadakan rapat PPKI, Soekarno meminta waktu untuk berdiskusi dengan Hatta.

Sementara itu di Jakarta, Achmad Soebardjo kebingungan mencari Soekarno dan Hatta yang tidak hadir dalam rapat tersebut. Barulah dirinya tahu mereka berdua di Rengasdengklok setelah Wikana kembali ke Jakarta untuk memaparkan rencana mereka.

Menimbang hal tersebut, Soebarjo bersama Yusuf Kunto pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Soebardjo menjamin bahwa kemerdekaan segera diproklamasikan selambat-lambatnya pada 17 Agustus pukul 12 siang jika mereka dibolehkan dapat kembali ke Jakarta.

Akhirnya pada sore hari, rombongan golongan tua berangkat dari Rengasdengklok ke Jakarta, dan tiba pada malam harinya di rumah masing-masing. Setelahnya, mereka bertemu di rumah atasan Achmad Soebarjo, yakni Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 untuk menyusun teks proklamasi.

Setelah menyusun proklamasi semalaman, akhirnya teks proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi, dua jam lebih cepat dari janji Achmad Soebarjo. Proklamasi tersebut juga seminggu lebih cepat dari tanggal yang direstui oleh pemerintah Jepang. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#jawa barat #kaisar hirohito #rengasdengklok #karawang #ppki #Hideki Tojo #indonesia #kemerdekaan indonesia #mohammad hatta #laksamana tadashi maeda #Proklamasi #Achmad Soebardjo #soekarno #jepang #kemerdekaan #Hatta #jakarta #teks proklamasi