RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi memaparkan Nota Keuangan dan RAPBN 2026 dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung MPR/DPR RI pada Kamis siang (15/8). Dalam pengantarnya, selain memaparkan program prioritas dalam postur RAPBN, Presiden Prabowo turut menyampaikan asumsi makro dalam tujuh bidang.
Sebagai catatan, RAPBN 2026 merupakan RAPBN perdana yang dirancang oleh kabinet pimpinan Presiden Prabowo. Postur APBN tahun ini menggunakan rancangan dari periode sebelumnya, dengan beberapa modifikasi pasca Prabowo dilantik sebagai presiden Oktober lalu.
Pertama, kabinet Prabowo memasang target pertumbuhan ekonomi agresif, yakni sebesar 5,4 persen. Sebagai perbandingan, LKPP 2024 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,03 persen pada tahun tersebut.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada 2022, sebesar 5,31 persen. Sementara itu pada tahun ini, hingga kuartal kedua Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Sebaliknya, untuk kekuatan nilai rupiah di kurs mata uang internasional, kabinet memilih realistis dengan memasang target Rupiah memiliki nilai tukar dengan Dolar AS di level Rp 16.500 rupiah. Sebagai perbandingan, saat ini satu Dolar AS bernilai sebesar Rp 16.384 Rupiah.
Kemudian kabinet juga sedikit lebih longgar soal inflasi, dengan mematok asumsi kenaikan sebesar 2,5 persen pada 2026. Untuk tahun ini, hingga Juli 2025 Bank Indonesia mencatat inflasi sebesar 2,37 persen, naik drastis dari Juni 2025 ketika inflasi masih berada di level 1,87 persen.
Selanjutnya Prabowo dan kabinet berasumsi tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) berada di tingkat 6,9 persen. Nilai tersebut tidak jauh-jauh dari suku bunga SBN pada 2024 yang berada sebesar 7 persen.
Selain asumsi ekonomi umum, Prabowo dan kabinetnya juga menawarkan asumsi di bidang energi. Tentu sebagaimana diketahui sejak lama, harga minyak dunia turut memengaruhi ekonomi dunia secara umum, terutama dalam inflasi.
Pertama, Prabowo menargetkan minyak bumi asal Indonesia dapat dijual dengan harga 70 Dolar AS per barel. Meskipun harga tersebut terbilang rendah, harga ditetapkan berdasarkan keadaan geopolitik dunia, permintaan dunia, serta pergerakan negara-negara organisasi penghasil minyak dunia (OPEC).
Berkaitan hal tersebut, Prabowo menargetkan hasil angkut atau lifting minyak bumi sebesar 610 ribu barel per hari (bpd). Sementara gas bumi diproyeksikan dapat diangkut sebesar kurang lebih 984 bpd, dengan asumsi produksi sama dengan minyak bumi. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana