RADARBOJONEGORO.JAWA POS.COM – Fenomena kemarau basah tengah melanda sebagian besar wilayah Indonesia tahun ini. Meski secara kalender sudah masuk musim kemarau, hujan masih rutin mengguyur hingga Juli 2025, menciptakan dampak signifikan bagi sektor pertanian. Lembaga BMKG menyebut anomali curah hujan ini kemungkinan akan bertahan bahkan hingga Oktober 2025.
Data & Fakta Terkini
- Hanya ~30 % zona musim (ZOM) yang telah memasuki musim kemarau per akhir Juni 2025—jauh di bawah rata‑rata normal sekitar 64 %.
- Curah hujan ekstrem tercatat melebihi 100 mm/hari, bahkan mencapai 150 mm/hari di Puncak, Bogor, Tangerang, Mataram, dan wilayah Sulawesi Selatan pada awal Juli.
- Sebanyak 25 wilayah diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi selama Juli–agustus, dengan intensitas hingga di atas 150 mm per dasarian.
- BMKG memprakirakan musim kemarau akan lebih pendek—sekitar 2–2,5 bulan—dibanding biasanya, dengan puncak kemarau kemungkinan terjadi Juli–Agustus 2025.
Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor iklim:
- Melemahnya Monsoon Australia dan hangatnya suhu muka laut selatan Indonesia.
- Aktivitas gelombang atmosfer seperti gelombang Kelvin, konvergensi angin, dan labilitas atmosfer lokal.
- ENSO dan IOD yang diprediksi terjadi dalam kondisi netral sepanjang paruh kedua 2025.
Dampak Bagi Pertanian
- Positif: pengalaman belakangan ini menunjukkan petani di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara memanfaatkan air hujan untuk menambah siklus tanam atau panen inti dan tambahan.
- Negatif: hujan lebat dan ekstrem berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan peralatan pertanian.
Tips Bagi Petani Menghadapi Kemarau Basah
- Penyesuaian kalender tanam
Ambil peluang untuk menanam lebih awal atau menambah musim tanam (tambahan), terutama di lahan tadah hujan. Saat kemarau singkat dan basah, potensi panen ganda terbuka lebar. - Pemilihan varietas tahan genangan
Gunakan varietas padi atau palawija yang kuat terhadap genangan dan adaptif terhadap kondisi cepat hujan-mendung. - Pengelolaan air irigasi dan drainase
Pastikan saluran irigasi dan drainase berada dalam kondisi baik untuk menghindari genangan dan air tergenang saat hujan deras. Optimalisasi sistem embung atau siring penting untuk pertahanan air saat kemarau tiba kembali. - Rotasi dan diversifikasi tanaman
Kombinasikan tanaman seperti sayuran musiman atau kacang-kacangan yang relatif cepat panen dan toleran terhadap kelembaban tinggi. - Pemantauan cuaca dan peringatan dini
Gunakan aplikasi dan kanal resmi BMKG. Peringatan dini bencana tersedia melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi BMKG, media sosial, dan call center 196. - Manajemen kesiapan alat & tenaga
Siagakan peralatan berupa pompa untuk pembuangan air, serta tenaga siap tanggap jika terjadi bencana seperti longsor atau banjir lokal. - Teknik konservasi tanah
Terapkan mulsa organik atau plastik serta kontur tanaman (terutama di lahan miring) untuk mengurangi erosi dan menjaga kesuburan tanah. - Koordinasi dengan penyuluh & instansi terkait
Aktifkan komunikasi dengan dinas pertanian, BMKG, dan BPBD. Informasi lokal dapat memberi keleluasaan dalam merancang pola tanam dan mitigasi risiko.
Kemarau basah 2025 membawa tantangan sekaligus peluang bagi sektor pertanian. Dengan adanya hujan yang tak terduga, petani harus lebih adaptif dan responsif. Strategi sinergi antara penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas, pengelolaan sarana air, dan penguatan mitigasi bencana sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan hasil dan meminimalkan risiko.
Berbasis data nyata hingga awal Juli 2025 dan arahan BMKG, petani diharapkan mampu menemukan ritme baru dalam menghadapi iklim yang tak lagi dapat diprediksi seperti dahulu. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana