Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Musim Kemarau tapi Masih Hujan, Ini Tips yang Harus Dilakukan Petani

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 12 Juli 2025 | 18:08 WIB
MENANAM PADI: Petani sedang menanam padi, luas lahan pertanian melebihi target nasional. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)
MENANAM PADI: Petani sedang menanam padi, luas lahan pertanian melebihi target nasional. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWA POS.COM – Fenomena kemarau basah tengah melanda sebagian besar wilayah Indonesia tahun ini. Meski secara kalender sudah masuk musim kemarau, hujan masih rutin mengguyur hingga Juli 2025, menciptakan dampak signifikan bagi sektor pertanian. Lembaga BMKG menyebut anomali curah hujan ini kemungkinan akan bertahan bahkan hingga Oktober 2025.

Data & Fakta Terkini

Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor iklim:

Dampak Bagi Pertanian

Tips Bagi Petani Menghadapi Kemarau Basah

  1. Penyesuaian kalender tanam
    Ambil peluang untuk menanam lebih awal atau menambah musim tanam (tambahan), terutama di lahan tadah hujan. Saat kemarau singkat dan basah, potensi panen ganda terbuka lebar.
  2. Pemilihan varietas tahan genangan
    Gunakan varietas padi atau palawija yang kuat terhadap genangan dan adaptif terhadap kondisi cepat hujan-mendung.
  3. Pengelolaan air irigasi dan drainase
    Pastikan saluran irigasi dan drainase berada dalam kondisi baik untuk menghindari genangan dan air tergenang saat hujan deras. Optimalisasi sistem embung atau siring penting untuk pertahanan air saat kemarau tiba kembali.
  4. Rotasi dan diversifikasi tanaman
    Kombinasikan tanaman seperti sayuran musiman atau kacang-kacangan yang relatif cepat panen dan toleran terhadap kelembaban tinggi.
  5. Pemantauan cuaca dan peringatan dini
    Gunakan aplikasi dan kanal resmi BMKG. Peringatan dini bencana tersedia melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi BMKG, media sosial, dan call center 196.
  6. Manajemen kesiapan alat & tenaga
    Siagakan peralatan berupa pompa untuk pembuangan air, serta tenaga siap tanggap jika terjadi bencana seperti longsor atau banjir lokal.
  7. Teknik konservasi tanah
    Terapkan mulsa organik atau plastik serta kontur tanaman (terutama di lahan miring) untuk mengurangi erosi dan menjaga kesuburan tanah.
  8. Koordinasi dengan penyuluh & instansi terkait
    Aktifkan komunikasi dengan dinas pertanian, BMKG, dan BPBD. Informasi lokal dapat memberi keleluasaan dalam merancang pola tanam dan mitigasi risiko.

Kemarau basah 2025 membawa tantangan sekaligus peluang bagi sektor pertanian. Dengan adanya hujan yang tak terduga, petani harus lebih adaptif dan responsif. Strategi sinergi antara penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas, pengelolaan sarana air, dan penguatan mitigasi bencana sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan hasil dan meminimalkan risiko.

Berbasis data nyata hingga awal Juli 2025 dan arahan BMKG, petani diharapkan mampu menemukan ritme baru dalam menghadapi iklim yang tak lagi dapat diprediksi seperti dahulu.  (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #Kemarau Basah #curah hujan #Petani #Pertanian #Hujan #Musim Kemarau #BMKG