Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

1.610 Warga di 10 Kecamatan Terdampak Banjir, Pemkab Blora dan Stakeholder Bakal Patungan untuk Kebutuhan Korban

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 22 Mei 2025 | 15:18 WIB
PUTUS: Jembatan penghubung antardesa di Desa Kalangrejo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora putus diterjang banjir yang melanda wilayah tersebut sejak Selasa (20/05). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
PUTUS: Jembatan penghubung antardesa di Desa Kalangrejo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora putus diterjang banjir yang melanda wilayah tersebut sejak Selasa (20/05). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Blora sedang ditimpa bencana banjir paling parah dalam sejarah. Hampir seluruh wilayah di Blora terdampak dan juga sebagian aksesnya lumpuh. Setidaknya, ada 40 desa di 10 kecamatan terendam banjir. Terhitung, ada 1.610 warga terdampak. Pemkab Blora dan Stakeholder ambil langkah cepat untuk memberikan bantuan sosial dengan cara urunan.

Wakil Bupati (Wabup) Blora Sri Setyorini akui ini menjadi banjir terbesar dan terparah dalam sejarah Blora. Sebab, merendam lebih dari setengah wilayah Blora. ‘’Memang benar ada 10 kecamatan terdampak. Maka dari itu kami gerak cepat," terangnya.

Ia akui setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak, pemkab dan stakeholder segera bertindak cepat untuk memberikan bantuan ke warga terdampak. ‘’Kami mintakan CSR, dinas, dan stakeholder lainnya untuk patungan bersama dalam memenuhi kebutuhan 1.610 warga yang terdampak," terangnya.

Ia juga akui, banjir ini memperparah kondisi akses jalan antar desa dan antar kecamatan. ‘’Banyak jalan dan jembatan yang rusak. Kami masih rekap semuanya dan segera kami perbaiki nantinya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora Mulyawati mengatakan, banjir disebabkan oleh meluapnya debit air dari Bengawan Solo dan Kali Lusi. Ditambah dengan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian jagung yang memperparah kondisi. "Kami dari BPBD Blora sangat prihatin atas dampak yang dialami masyarakat. Ini adalah kejadian luar biasa dan menjadi banjir terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Blora," ujar Mulyawati.

Menurutnya, wilayah terdampak paling parah berada di Kecamatan Kradenan, khususnya di Desa Mojorembun dan Desa Sumber, dengan total sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) terdampak – masing-masing desa sebanyak 400 KK.

Mulyawati juga merinci beberapa titik banjir di seluruh wilayah Blora, meliputi Dukuh Jurangjero, Desa Sidomulyo, Klopoduwur, dan Gedongsari, Kecamatan Banjarejo; Desa Ngawetan, Pelem, Jepangrejo, Andongrejo, dan Sendangharjo, Kecamatan Blora; Desa Nganpon, Jomblang, dan Palon, Kecamatan Jepon; Desa Ninganalan, Gondel, Kecamatan Kedungtuban; Desa Mojorembun, Sumbersugih, dan Sumber, Kecamatan Kradenan; Desa Berbak, Kecamatan Kunduran; Desa Talokwohmojo, Kecamatan Ngawen; dan Desa Wulung, Kecamatan Randublatung. (hul/bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kali lusi #banjir #sri setyorini #bpbd #blora #wabup blora