RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Agrowisata Kebun Belimbing Ngringinrejo merupakan sebuah wisata perkebunan dengan memaanfaatkan buah belimbing sebagai komoditas utamanya. Di dalam agrowisata ini wisatawan dapat menikmati buah belimbing yang segar dan manis.
Selain itu, wisatawan juga bisa melakukan berbagai macam wahana serta parktik budidaya belimbing, wisata ini sendiri terletak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Wisata tersebut juga dipakai sebagaian masyarakat untuk mencari nafkah dengan membuat lapak serta berjualan,
Berbagai macam seperti buah belimbing sebagai buah utama dalam agrowisata tersebut, serta buah Jambu Air, Jambu Kristal, Bumbu Rujak dan berbagai macam jajanan serta makanan. Salah satu penjual yang berjualan di sana yakni Widya. Ia sudah berjualan di sekitar agrowisata ini sekitar 10 tahun.
Dia mengatakan, dahulu sebelum dibentuk wisata kebun belimbing ia mengaku sudah berjualan di sekitar Desa Ngringirejo yang kemudian saat dibangun wisata tersebut beliau pindah dengan membuka lapak jualan di dalam wisata tersebut dengan menjual buah belimbing yang diambil dari petani.
Widya mengatakan, bahwa sepinya pembeli dikarenakan sedikitnya minat pengunjung yang mengunjungi wisata tersebut, beliau mengatakan bahwa salah satu dampak dari sepinya pengujung dikarenakan pengelolaan yang kurang stabil.
’’Ini penurunan banget, soalnya pengelolaanya enggak stabil, enggak seperti dulu, pengelolanya kan ganti semua. Kalau yang dulu kan benar-benar giat, niat wisatanya pengin ramai. Kalau pengelolanya sekarang hanya ingin pembangunannya lanjut terus tapi enggak ada pengunjung,” imbuhnya.
Dia juga sedikit menambahkan, mengenai kekurangan wisata tersebut. Menurutnya, kurangnya fasilitas peristirahatan atau gazebo. ’’Ini sudah saya usulkan dari dulu tempat istirahat pengunjung. Tapi, tidak direspons, malah pembangunan yang tidak penting-penting yang diutamakan. Seharusnya, kan tempat istirahat pengunjung paling utama,” tambah Widya.
Selain itu, Siti Marfuah yang juga seorang yang ikut membantu menjual belimbing juga mengatakan bahwa sejak pergantian pengelola banyak pedagang tidak mengenal siapa jajaran pengelolanya yang membuat kekecewaan banyak pedagang.
’’Pedagang maupun petani tidak bisa ikut campur siapa pengelola, siapa pemimpinnya tidak tahu, tidak ada komunikasi. Kalau dulu kan setiap bulan ada kumpulan petani sama pedagang buat ada usulan apa gitu, sekarang sama sekali enggak ada,” bebernya.
Selain faktor pengelolaan, sepinya pengunjung juga disebabkan faktor bulan, yang mana biasanya pada bulan puasa dan khususnya bulan Agustus pengunjung sangat sepi dikarenakan banyaknya agenda agustusan yang ada di desa. Dan biasanya, yang ramai yakni di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari atau hari-hari libur sekolah. (naw/bgs)
Editor : Hakam Alghivari