RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Gempa megathrust (zona subduksi) di Palung Nankai, Jepang (8/8) sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap masyarakat Indonesia. Selain Jepang dan Indonesia sama-sama merupakan negara rawan gempa bumi, Indonesia juga memiliki 13 area zona subduksi kegempaan.
Dua diantara 13 area megathrust tersebut menjadi perhatian, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, kedua daerah tersebut sudah lama tidak mengalami gempa.
“Jeda antargempa di Selat Sunda sudah 267 tahun, sementara di Mentawai-Siberut sudah 227 tahun. Segmen lain di sekitarnya sudah terjadi gempa, dan gempa besar Palung Nankai terakhir terjadi pada 78 tahun yang lalu,” ujar Daryono dalam rilis resmi BMKG.
Dengan demikian, pihaknya menyimpulkan gempa di dua daerah tersebut tinggal menunggu waktu, namun tidak dalam waktu dekat.
“Bukan berarti dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Kita hanya mengingatkan kembali keberadaan zona tersebut sebagai potensi yang harus diwaspadai. Informasi potensi yang ada saat ini bukan merupakan peringatan dini. Sehingga jangan dimaknai keliru, seolah akan terjadi dalam waktu dekat, ” jelas Daryono.
Daryono juga memastikan gempa Megathrust Nankai tidak akan memengaruhi kegiatan seismik di Indonesia.
“Dipastikan tidak akan berdampak terhadap sistem lempeng Indonesia. Karena jaraknya jauh dan dinamika tektonik Palung Nankai hanya berskala lokal dan regional,” lanjutnya melalui akun Twitter/X pribadinya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan, informasi potensi gempa megathrust telah lama disampaikan sejak 2020 lalu.
“Potensi gempa di Jawa Timur paling besar terletak di wilayah pesisir selatan, mulai dari Banyuwangi hingga Pacitan, karena ada sesar aktif dimana lempeng Indo-Australia dan Eurasia terletak,” ungkapnya saat ditemui awak media (20/8).
Selain itu, jika terjadi gempa megathrust dapat berpotensi menyebabkan tsunami.
“Dampak dari bencana dapat menimbulkan gelombang atau tsunami setinggi sekitar 20 meter, serta potensi kerusakan bangunan. Karena gempa kemungkinan dapat terjadi di atas 8 Skala Richter (SR),” jelas Gatot.
BPBD Jatim merekomendasikan memperbanyak desa tangguh bencana (Destana) di area rawan bencana sebagai langkah preventif. Serta memasang sistem peringatan awal dan sirine. Diperkirakan, di Jawa Timur terdapat 2.742 desa berpotensi terdampak bencana. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana