Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dianggap Jalur Terkutuk, Dosa Sejarah Penderitaan

M. Yusuf Purwanto • Kamis, 16 Desember 2021 | 01:18 WIB
Dianggap Jalur Terkutuk, Dosa Sejarah Penderitaan
Dianggap Jalur Terkutuk, Dosa Sejarah Penderitaan

Sebuah bukit di barat Kecamatan Jatirogo memiliki kekayaan pasir kuarsa. Mengetahui itu, Pemerintah Hindia Belanda semakin mantap untuk membuka jalur kereta api di sana. Buku berjudul Spoor en Tramwegen karya Reitsma menyebutkan, Stasiun Jatiorogo dibangun untuk mendukung kegiatan eksploitasi pasir kuarsa tersebut.


STASIUN yang berlokasi di Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo ini merupakan karya pamungkas proyek Samarang--Joana Stoomtram Maatschappij (SJS)  yang menghubungkan jalur kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Buku berjudul Jarak Antarstasiun dan Perhentian terbitan Dirjen Perkeretaapian Indonesia menerangkan, sebelumnya SJS hanya membangun jalur rel Lasem--Pamotan--Jatirogo. Jalur tersebut selesai 20 Februari 1919. Sedangkan, perpanjangan jalur ini menuju Bojonegoro selesai 1 Mei 1919 dikerjakan oleh NIS.
Menyambut peresmiannya, surat kabar De Locomotif edisi 1 Mei 1919 memuat sebuah opini tentang pembangunan jalur rel tersebut. Artikel yang ber-titi mangsa 30 April 1919 tersebut mengkritik pembukaan jalur itu. Penulis artikel berjudul De lijnopening Bodjonegoro--Djatirogo (Van onzen eigen berichtgever) ini bahkan mengatakan, jalur ini merupakan lintasan yang terkutuk. ''Sebuah dosa sejarah penderitaan,'' tulisnya dalam bahasa Belanda.
Opini ini mengemukakan mengapa jalur tersebut terkutuk dan sebuah wujud dosa sejarah penderitaan. Penulis opini dalam surat kabar terbitan Kota Semarang itu berasumsi, pembukaan jalur ini terlalu dipaksakan. Juga, tidak berpihak kepada masyarakat umum. Menurutnya, jalur Bojonegoro--Jatirogo dibuka hanya untuk merusak habis-habisan lingkungan alam dan pertanian
Salah seorang pensiunan pegawai kereta api di Stasiun Jatirogo Suwarsono mengakui, selama pengoperasiannya jalur ini memang didominasi oleh kereta pengangkut pasir kuarsa. Jalur ini dibuka untuk memfasilitasi aktivitas pertambangan pasir kuarsa tersebut. Pria kelahiran 1955 ini menunjukkan, salah satu daerah pertambangan pasir kuarsa yang berlokasi di perbukitan dekat Desa Ngepon.
Juga daerah-daerah sekitarnya (Pegunungan Kendeng Utara, Red) termasuk wilayah Rembang bagian timur. Sejak bertugas di Stasiun Jatirogo, pria asal Juwana, Kabupaten Pati ini melihat aktivitas kereta barang di jalur pendek yang luar biasa sibuknya. Dia menceritakan, dari lima perjalanan kereta di jalur pendek ini, sehari terdapat empat kali pulang-pergi (PP) kereta pengangkut pasir kuarsa. Sedang kereta penumpang hanya satu kali PP. Kereta yang kala itu sudah bermesin diesel tersebut aktif beroperasi setiap hari sejak subuh hingga maghrib. ''Kalau ada keajadian tertentu, kadang juga sampai tengah malam,'' ungkapnya ditemui Jawa Pos Radar Tuban di rumahnya, Minggu (12/12).
Kejadian tertentu, misalnya jika terjadi kerusakan pada mesin kereta atau bongkar muat yang isinya kelewat banyak. Pria lulusan Sekolah Teknik Juwana ini melanjutkan, tempat penampungan sementara pasir kuarsa hasil pertambangan di Ngepon dan di sekitarnya berlokasi di bekas depo kereta yang lama. Tepatnya, di barat Stasiun Jatirogo. ''Dulu, saking banyaknya, di tempat ini pasir kuarsa sampai membentuk bukit atau pegunungan kecil,'' bebernya.
Sebagian hasil tambang yang ditampung di Stasiun Jatirogo ini, menurut dia, kemudian dikirim untuk memenuhi kebutuhan industri semen di Jateng. Pria beruban ini menerangkan, mulanya kereta dari Jatirogo mengirim pasir kuarsa ke Bojonegoro. Dari Stasiun Bojonegoro, pasir kuarsa tersebut dikirim ke Cilacap menggunakan kereta yang lebih besar. ''Jalannya memang memutar. Tidak bisa melalui jalur Jatirogo--Rembang--Semarang karena kondisi geografisnya curam dan menanjak,'' jelasnya.
Terkait kereta penumpang, pria yang bertugas di Stasiun Jatirogo sejak 1977 hingga 1998 ini mengatakan, Stasiun Jatirogo kurang memprioritaskan. Tidak ada perjalanan vital dalam jalur ini. Umumnya, kereta penumpang digunakan oleh para pedagang pasar antardesa/kecamatan atau pelajar dari Jatirogo yang bersekolah di Bojonegoro.
Tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter. Stasiun Jatirogo pun turut terdampak secara finansial. Asumsi dari pengelola daerah operasi (daop) 8 Surabaya, Stasiun Jatirogo harus dinonaktifkan untuk efisensi. Suwarsono mengatakan, sejak 1998 itu dia pindah tugas ke Stasiun Bojonegoro. ''Tapi jalur Jatirogo--Bojonegoro masih aktif. Khusus perjalanan kereta barang (pasir kuarsa, Red),'' kenangnya.
Stasiun Jatirogo dan jalurnya baru betul-betul mati pada 2001. Penyebabnya, stok pasir kuarsa semakin menipis. Hasil tambang di Ngepon dan sekitarnya yang kian susut dinilai tidak efektif jika diangkut kereta.
Suwarsono mengatakan, sejak pasir kuarsa mulai habis dan jalur kereta ditutup, fungsi kereta barang digantikan oleh truk. (sab)



Editor : M. Yusuf Purwanto
#bok