Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kesulitannya, Butuh Penelitian, tak Bisa Bertemu Dosen

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 20 November 2021 | 18:06 WIB
Kesulitannya, Butuh Penelitian, tak Bisa Bertemu Dosen
Kesulitannya, Butuh Penelitian, tak Bisa Bertemu Dosen

Pendidikan sangat penting bagi Dea Angelia Kamil. Beasiswa merupakan cara meringankan biaya dalam menempuh pendidikannya. Dia mendapatkannya untuk kuliah S2 dan S3.


KEINGINAN Dea Angelia Kamil untuk menempuh pendidikan setinggi – tingginya cukup kuat. Dia juga ingin kuliah S2 yang dijalaninya mendapatkan ‘’suntikan’’ dana melalui program beasiswa.
Sebab, setelah lulus S1, Dea tak ingin dunia pendidikannya selesai. Dia ingin melanjutkan pendidikannya dengan mencari cara mengatasi terkendala biaya.
Dea mengingat perjuangannya untuk mendapatkan beasiswa S2 dan S3 sekaligus. Dia beberapa kali mendaftar program beasiswa. Salah satunya Fulbright. Program beasiswa melalui pertukaran pelajar internasional untuk sarjana, pendidik, mahasiswa pasca sarjana dan profesional yang didanai Amerika Serikat. Dea gagal.
Dia juga dua kali mencoba mendapatkan beasiswa dari program Global Korea Scholarship. Dea kembali gagal untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Korea tersebut.  Namun, kegagalan itu bukan ujung usahanya.
“Intinya kita harus semangat kalau memang mau mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan,” ujar perempuan kelahiran Lamongan, 6 Oktober 1998 itu.
Dea saat ini bisa kuliah S2 dan S3 dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul  (PMDSU).
Dia mendaftar secara paralel. Daftarnya bersamaan dan beruntung bisa lulus tanpa syarat. Setelah dinyatakan lolos masuk universitas pilihan, Dea menghubungi promotor PMDSU untuk melakukan serangkaian tes guna mendapatkan beasiswa tersebut.
Dea mengaku sempat tidak yakin karena jurusan yang didaftar tidak linear dengan pendidikannya matematika selama S1. Dia memilih ilmu komputer. Namun, pihak pemberi beasiswa memiliki penilaian dari beragam aspek sehingga Dea bisa diterima.
Saat pembelajaran daring karena masa pandemi Covid-19 belum berakhir, Dea merasa kesulitan. Kuliah yang dijalaninya masuk program percepatan. Pola pembelajarannya harus cepat karena S2 dan S3 itu maksimal ditempuh 4 tahun.
Ketika mendapatkan materi kuliah yang membutuhkan penelitian, Dea tidak bisa bertemu dosen langsung. Karena itu, dia berharap pandemi segera berakhir dan pembelajaran bisa normal. Apalagi dia ingin mengikuti salah satu program dari PMDSU yang menawarkan kegiatan outbond di luar negeri. “Semoga bisa terealisasi karena ingin merasakan kegiatan outbond di luar,” harapnya.
Dea sebelumnya pernah merasakan berkegiatan di luar negeri. Dia dua kali merasakan pertukaran pelajar di Jepang dan Hawaii, Amerika. Pengalaman itu didapat karena keaktifannya mencari informasi untuk mengisi waktu libur.
“Saya berangkat ke Hawaii tahun 2016 dan 2017 ke Jepang,” terang perempuan yang tinggal di Kecamatan Sugio itu.
Selama berada di negara orang, Dea mendapatkan banyak ilmu. Selain bahasa, dia belajar budaya setempat. Karena tidak menguasai bahasa Jepang, selama di Negari Matahari Terbit itu komunikasinya menggunakan bahasa Inggris.
“Alhamdulillah ada beberapa teman yang masih menjalin komunikasi sampai sekarang,” tutur mahasiswi yang bercita-cita menjadi dosen itu.
Dea merasa liburan mahasiswa itu cukup lama, hingga satu bulan. Ingin mengikuti program seperti pertukaran pelajar merupakan inisiatifnya untuk mengisi waktu liburnya.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#boks #bupati yes #lamongan