Kecintaan Warjito, 50, terhadap wayang dituangkan ke bentuk lukisan dan ukiran. Karya-karyanya terpajang di galeri Duko Jakarta dan Molek Surabaya.
DI ruang tamu kediaman Warjito penuh dengan lukisan, ukiran, serta patung. Hasil karyanya itu didominasi objek wayang.
‘’Kebetulan dulu punya hobi melukis dan dalang. Pinginnya mbah dulu, saya disekolahkan pedalangan. Tapi nggak kesampaian,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (16/11).
Meskipun cita-citanya menjadi dalang tidak terwujud, Jito, sapaan akrabnya, memilih meneruskan studi di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Salah satu guru menyarankannya untuk melanjutkan pendidikan jenjang D3 jurusan seni rupa. Selepas pendidikan D3, Jito memutuskan belajar mengukir selama dua tahun di Jepara.
‘’Di sana ada lembaga kursus untuk ukir. Di Jepara, saya dapat banyak pengalaman dan pengetahuan tentang kerumitan membuat detail ukiran sekaligus belajar bikin relief. Kalau ukir, hanya mengadalkan ornamen bentuk godhongan dan lekukan. Sedangkan relief, bisa bikin objek naturalis,’’ paparnya.
Selain di Jepara, Jito juga memiliki pengalaman bekerja di perusahan furnitur di Surabaya. Dia membuat ukiran sesuai dengan konsep perusahaan.
‘’Apa yang kita kerjakan sudah sesuai dengan mal (cetakan) yang diberikan. Motifnya sederhana, sistem upahnya borongan. Lumayan, bisa lebih tinggi dari gaji PNS,’’ kenangnya.
Pada 2008, Jito diangkat menjadi PNS. Otomatis, dia menjadi seniman ukir tanpa terikat perusahaan lagi.
Jito juga masih melukis. Dia tidak membatasi diri pada aliran lukisan tertentu. Mulai dari wayang, potret wajah, dan karikatur. Lukisan dengan objek wayang akhirnya lebih diminati kurator.
‘’Ukiran-ukiran bonggol jati juga yang paling diminati adalah objek wayang,’’ jelasnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, Jito memilih menggunakan kaca dan akrilik sebagai media lukis. Teknik lukis yang dipakai berbeda dengan melukis di atas kanvas. Jito menerangkan, lukisan di atas kaca atau akrilik dinikmati secara terbalik. Sebelum membuat garis kontur menggunakan drawing pen, dia harus membayangkan terlebih dulu hasil akhir lukisannya nanti.
‘’Kalau melukis wayangnya hadap kiri, ketika ditampilkan hasilnya hadap kanan. Kalau bikin lukisan di kanvas, proses finishing belakangan. Tapi kalau di kaca kita harus bikin tampak mukanya dulu,’’ terangnya.
Proses melukis wayang bisa memakan waktu hingga tiga hari. Lukisan harus diselesaikan segera sebelum catnya mengering. Terlebih dia menggunakan media akrilik.
‘’Kalau catnya mengering, nggak bisa match antara warna pertama dan kedua. Tapi kalau bikin ukiran akar tunggak jati, mungkin bisa lebih dari seminggu,’’ imbuhnya.
Saat menggambar wayang, Jito mendapatkan banyak referensi dari buku-buku tentang pewayangan. Salah satunya, buku Butir-Butir Budaya Jawa karya (mantan) Presiden Soeharto.
‘’Saya diberi buku tersebut oleh ketua Paguyuban Budaya Jawa. Banyak juga buku-buku atau literatur tentang wayang yang kita miliki. Bahkan saya juga koleksi wayang kulit, cuma belum saya pajang semua,’’ tutur pria yang tinggal di Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu ini.
Saat ini, karya Jito terpajang di galeri Duko Jakarta dan Molek Surabaya.