Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Rerata Pelanggan Perempuan, Gambar tanpa Arti, Rasanya Sia-Sia

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 2 November 2021 | 17:51 WIB
Rerata Pelanggan Perempuan, Gambar tanpa Arti, Rasanya Sia-Sia
Rerata Pelanggan Perempuan, Gambar tanpa Arti, Rasanya Sia-Sia

Selama menjadi seniman tato, Agus Vitahari alias Bob memastikan pelanggan kebanyakan justru perempuan. Namun, ia menolak bila ada anak-anak ingin menato. Juga banyak yang minta menghapus tato.



MEMASUKI warung kopi di Jalan dr Suharso, Bojonegoro, itu tampak sederhana. Namun, begitu naik ke lantai dua seakan berupa studio seni. Pigura-pigura gambar menempel di dinding hitam. Lantai dengan kombinasi hitam putih seakan memadukan ruangan.
Aroma petrikor dan suasana sejuk usai hujan kemarin siang (1/11) membersamai obrolan dengan pemilik studio yakni Agus Vitahari alias Bob. Ruangan itulah dijadikan studio tato. Selain melukis, ruangan lantai dua itu juga menjadi tempat menghapus tato.
Bisa dibilang jumlah seniman tato di Bojonegoro tak banyak. Tetapi ternyata peminat tato tak sedikit. Anehnya, Bob memastikan selama ini rerata perempuan yang datang dan meminta tato tubuhnya. Meski ada juga yang meminta “berobat” atau menghapus tato.
Layanan hapus tato baru ia buka tahun lalu. Masih belum lama, karena memang ada permintaan di Bojonegoro. Alat hapus tato itu menggunakan laser. Tentu, butuh beberapa kali laser untuk secara total menghilangkan tato di kulit.
‘’Dari 2015 hingga sekarang jumlah peninatnya meningkat. Setidaknya dalam seminggu ada empat hingga lima orang yang tato di tempat saya. Konsumen justru didominasi perempuan,” ujar pemuda kelahiran 1993 itu.
Bob kenal tato sejak 2008 silam. Saat itu dirinya masih duduk di bangku SMA. Masa muda Bob jarang di rumah. Pemuda lahir dan besar di Desa Bumirejo, Kecamatan Kepohbaru, itu saat masa SMA sehari-hari tinggal di Pasar Agrobis Babat. Di pasar itulah dia bertemu dengan seorang seniman tato. Bob belajar karena tertarik dengan seni tato.
Saat 2008, Bob mulai menato orang, namun masih temporer. Belum punya modal untuk beli alat tato. Karena sudah terbiasa hidup mandiri dan bukan lahir dari keluarga mampu, Bob berusaha menabung untuk beli alat tato. Tabungannya terkumpul Rp 1,5 juta dari hasil mengamen selama tujuh bulan.
Alumni siswa SMK Muhammadiyah 5 Babat itu mengaku kemauannya belajar tato tinggi itu membuatnya pergi ke Bali. Karena Bali dapat dikatakan kiblatnya para seniman tato. Saat di Pulau Dewata sekitar 2011, Bob jadi asisten seniman tato.
Dia hanya sebulan di Bali. Kemudian pulang buka studio tato kecil di Pasar Agrobis Babat. Apesnya pada 2015 ada gesekan dengan sesama penghuni pasar. Sehingga dia hijrah ke Kecamatan Bojonegoro Kota. “Gesekan gara-gara ada orang minta tato dalam kondisi mabuk dan maunya bayar murah,” imbuhnya.
Saat pindah ke Kecamatan Bojonegoro Kota, Bob mulai bangun relasi dan koneksi mengenalkan tato. Berkali-kali ke Bali untuk belajar. Selain itu, Bob sering belajar lewat video YouTube. Juga sering ikut acara-acara tato untuk menambah jaringan.
Bagi Bob, seni merajah tubuh ini bukan hal sepele. Karena sebuah seni tentu tidak bisa diremehkan. Tato bukan sekadar corat-coret atau melukai kulit. Tapi, para seniman tato ini butuh keahlian menggambar, memadupadankan warna, serta fisik yang sehat.
“Khususnya tangan dan mata harus konsentrasi penuh,” ujar bapak satu anak tersebut.
Uniknya, Bob baru punya tato di kedua lengannya pada 2017. Karena dia menilai tato permanen kalau dibuat tanpa arti, rasanya sia-sia. Sehingga, ketika dirinya sudah merasa dewasa dan sudah mengalami banyak perjalanan hidup, Bob baru merajah tubuhnya. Karena itu, Bob bakal menolak ketika ada anak usia sekolah atau di bawah 18 tahun minta ditato.
“Karena takutnya hanya kerena ingin keren saja. Nanti ketika sudah dewasa menyesal,” ucapnya.
Bob pun telah membentuk komunitas Bojonegoro Tattoo Syndicate guna mengumpulkan para pecinta tato. Jadi tidak hanya seniman tato, juga para pecinta tato. Komunitas itu dibentuk untuk edukasi seputar tato. Khususnya edukasi kepada para seniman tato agar disipilin standard operational procedure (SOP).
“SOP tentu terkait sterilitas semua alat perlengkapan tato, kondisi studio bersih dan higienis, pakai sarung tangan, dan sebagainya,” katanya.
Hal ia tekankan tentunya penggunaan sekali pakai misalnya sarung tangan, jarum alat tato, dan wadah tinta tato. Upaya pencegahan penyebaran penyakit melalui media jarum wajib digalakkan.
Bob terjauh pernah dipanggil konsumen ke Batam. Ilmunya Bob pun berkembang. Dia bisa sulam alis, tindik, dan hapus tato. Layanan hapus tato baru ia buka tahun lalu, karena memang ada permintaan di Bojonegoro.
Perlu diketahui, nama Bob itu lahir saat dia masih hidup di Pasar Agrobis Babat. Bob merupakan vokalis band reggae  bernama Dreadlock Rasta. Dulu rambut Bob gimbal dan sering membawakan lagu-lagu Bob Marley. Sehingga orang-orang di sekitarnya sering memanggilnya Bob.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#bojonegoro