Selain belimbing, salak, dan jambu kristal. Kini Bojonegoro juga memiliki alpukat wina berukuran jumbo. Lokasinya di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan.
SUGIANTO merenung melihat sumur-sumur minyak tua di kampungnya Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan. Membayangkan bagaimana jika kelak sumur minyak tradisional itu sudah benar-benar mengering.
Tentu, warga di desanya akan kehilangan sumber ekonomi terbesarnya. Rerata warga di kawasan dataran tinggi Desa Woconolo, itu menggantungkan hidup dari penambangan sumur minyak tua. Dari situlah timbul ide menanam alpukat.
‘’Kalau sumur minyak semakin lama semakin habis. Kalau pohon semakin lama akan semakin banyak buahnya,’’ tutur Sigianto kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (29/10).
Siapa sangka, lima tahun berselang, alpukat milik Sugianto menjadi populer. Peminatnya kian banyak. Itu karena alpukat milik Sugianto memiliki ukuran tidak biasa. Ukurannya ginuk-ginuk atau jumbo. Satu buah bisa memiliki berat 1 kilogram (kg) hingga 1,5 kg.
Yanto, sapaannya menceritakan awal mula menanam buah banyak digunakan untuk jus itu. Ketika mendapatkan ide, segera mengajak masyarakat sekitar untuk ikut menanam. Namun, tidak ada tetangga tertarik. Bahkan, tidak sedikit yang mencibir. Namun, Yanto tidak putus semangat.
‘’Saya tetap menanam alpukat. Saya tanam awal itu 400 bibit,’’ ujarnya.
Tahun berikutnya, dia menanam lagi sebanyak 400 bibit lagi. Tahun berikutnya pun dia masih menanam lagi. Totalnya kini ada sebanyak 1.200 pohon alpukat. Pohon itu terbesar di tiga lokasi di desa setempat. ‘’Luasnya lahan saya tanami seluas 3 hektare,’’ jelas bapak empat anak itu.
Alpukat ditanam Yanto ada beberapa jenis. Yakni, wina, kendil, dan aligator. Paling banyak adalah jenis alpukat wina.
Yanto mengatakan, alpukat jenis apapun cocok ditanam di kawasan Wonocolo. Kebetulan dia menyukai jenis alpukat wina ini. Buahnya besar dan bulat. Meskipun kendil juga buahnya besar. Ia menanam alpukat kelas B. Yakni, kelas alpukat dengan ukuran sedang. Alpukat kelas ini biasanya dijual di supermarket. Bukan di toko buah.
‘’Yang di toko buah itu kelas C. Kalau kelas A beratnya 5 kilogram ke atas,’’ jelasnya.
Harga alpukat milik Yanto ini lumayan. Satu kilogram Rp 30 ribu. Berat setiap buahnya mulai 7 ons hingga 1 kg. Bahkan, ada yang sampai 1,5 kg. Dengan harga alpukat semahal itu, banyak warga sekitar kini mulai tertarik menanam alpukat. Namun, menanam alpukat bukan perkara mudah. Butuh waktu dan perawatan khusus. ‘’Rata-rata tiga tahun baru berbuah,’’ jelasnya.
Pada perayaan hari jadi provinsi Jawa Timur tahun ini, alpukat wina milik Yanto dipamerkan. Alpukat itu berhasil mencuri perhatian Gubernur Khofifah. ‘’Sejak itu banyak yang datang ke kebun. Mereka penasaran apa benar ada kebun alpukat besar-besar di Wonocolo,’’ tutur pria 53 tahun itu.
Alpukat wina ukuran jumbo ini bisa menjadi buah andalan Bojonegoro. Selain belimbing, salak, dan jambu kristal.