Camil Hady lebih suka menjadi pelukis independen dibanding menjadi pelukis di bawah naungan perusahaan besar. Pulang dari Malaysia, dia harus merintis karir dari nol lagi.
Tiada hari tanpa melukis. Camil Hady memang banyak menghabiskan waktunya untuk melukis. Siang mengerjakan lukisan dinding di kafe, malam mengerjakan lukisan kanvas di rumah.
Dia tidak membatasi diri membuat lukisan dengan aliran tertentu. ‘’Dulu saya cenderung di aliran surealis. Namun saya merasa berat sekali untuk ke depan dalam berkarya nanti. Sudahlah, saya berusaha enjoy saja. Yang penting melukis dan tidak merasa terbebani. Mau melukis apa saja, pasti saya lukis,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (26/10).
Karir Camil sebagai pelukis justru dimulai saat dia di luar negeri. Usai menamatkan pendidikannya di bangku kuliah, dia mendapat informasi perekrutan tenaga kerja dari sebuah perusahaan decorative painting asal Malaysia. Sebelum diberangkatkan ke Negeri Jiran, Camil harus mengikuti training dulu di Jakarta.
Ternyata, perusahaan tempatnya bekerja itu memroduksi lukisan pesanan kolektor-kolektor Eropa. ‘’Sekitar 2001 saya ke Malaysia. Di perusahaan itu, ibaratnya saya belajar tapi dapat upah. Ilmu yang saya dapatkan selama empat tahun di sana banyak sekali. Walaupun tugasnya mengerjakan lukisan pesanan bergaya renaisans dan klasik berukuran besar-besar. Karena yang pesan orang-orang Eropa,’’ tuturnya.
Di perusahaan tersebut, Camil mendapat upah Rp 350 ribu per hari. Karena ukuran lukisannya besar, dia membutuhkan waktu seminggu hingga sebulan untuk menyelesaikannya. Meskipun pendapatannya lumayan, lambat laun Camil merasa tidak nyaman bekerja di bawah naungan perusahaan.
‘’Kalau ikut perusahaan, kita harus disiplin waktu dan serba diatur. Saya lebih suka jadi seniman independen seperti sekarang. Merdeka yang saya cari,’’ terangnya.
Setelah resign dari perusahaan tersebut, Camil masih menetap di Malaysia. Namanya sudah dikenal sebagai pelukis. Dia kerap menerima pesanan lukisan dari Malaysia hingga Brunei Darussalam.
Pada 2006, Camil memutuskan kembali ke kampung halamannya di Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong. ‘’Otomatis harus merintis karir lagi dari nol. Namanya lagi babat alas, tentu ada suka dan dukanya. Tapi tetap berusaha saya nikmati dan syukuri saja,’’ tuturnya.
Kini, pelukis berusia 42 tahun itu telah menemukan pangsa pasarnya tersendiri. Setiap hari, dia mengerjakan lukisan dinding di kafe dan lukisan kanvas. Khusus lukisan kanvas, Camil lebih banyak menerima pesanan dari orang-orang Tiongkok yang ada di tanah air.
‘’Jenisnya lukisan realis yang dipercaya bisa bawa keberuntungan. Contohnya lukisan ikan yang jumlahnya sembilan atau lukisan bernuansa Budha. Tapi kalau lukisan yang buat koleksi saya sendiri, tentu beda dan hanya disimpan di rumah,’’ paparnya.
‘’Dua-dua tetap jalan (lukis dinding dan lukis kanvas). Saya boring nglukis di studio, maka untuk usir kejenuhan itu saya harus bikin lukisan mural di luar rumah. Dan ternyata cepat jadi duit (lukisan mural). Pandangannya pemilik kafe sekarang, mural bagian dari investasi usahanya,’’ imbuh Camil.
Meskipun telah lama berkarir sebagai pelukis, Camil baru memajang karyanya di pameran pada 2015. Dua tahun kemudian, dia mengikuti pameran di Texas, Amerika Serikat, bersama Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati). Dalam setiap pameran yang diikuti, lukisan karya Camil selalu terjual.
‘’Alhamdulillah ada rezeki. Yang penting ikut dan ikhtiar saja,’’ ujarnya.
Pelukis berambut panjang ini berharap kegiatan pameran seni rupa bisa digelar lagi dengan konsep tatap muka.
‘’Supaya kita bisa berinteraksi dengan para penikmat seni,’’ harap Camil.