Radar Lamongan – Manajemen Maharani Zoo dan Goa Lamongan (Mazola) semakin kelimpungan menghadapi penutupan selama pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19). Pengelola wisata itu harus mencukupi biaya pakan 900 satwa lebih di kawasan pantura tersebut.
‘’Ya berat sekali. Karena pengeluaran dan operasional masih tetap jalan, serta karyawan tetap masuk. Belum lagi maintenance lokasi, wahana, dan terutama pakan satwa,’’ tutur Koordinator Marketing Mazola, Juli Tri Wahyuningtyas, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/9).
Dia mengatakan, biaya operasional seperti perawatan dan listrik bisa diminimalisasi. Namun, pakan satwa sehari dua hingga empat kali tidak bisa diminimalisasi. Padahal, hingga kini tidak ada pemasukan sama sekali. ‘’Kalau untuk meminimalisasi, tidak bisa. Nutrisi, obatobatan, dan vitamin sudah ada takarannya. Tidak bisa dikurangi,’’ ujar perempuan asal Tuban tersebut.
Dia mencontohkan pakan satwa karnivora. Daging yang disuguhkan harus fresh. Jika pakannya ayam, maka harus yang hidup agar insting berburunya masih tetap terjaga. Karena kondisi tersebut, manajemen Mazola membuka donasi bantuan perawatan satwa. ‘’Baru berjalan hari ini. Banyak yang tertarik. Ada beberapa yang sudah masuk donasinya. Untuk jumlahnya beda-beda, itu sangat membantu,’’ ujar perempuan berjilbab tersebut.
Terhitung sudah setahun lebih pengelola wisata yang sempat menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) tertinggi tersebut terseok-seok. Menurut Juli, pihak manajemen pada dasarnya mengikuti aturan pemerintah, meski cukup sulit. ‘’Kita nekad tidak bisa, karena melanggar aturan pemerintah. Kita diam saja, juga tidak bisa. Serba repot lah,’’ imbuh Juli saat dikonfi rmasi via ponsel.
Dikonfirmasi terpisah, Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Erdiana Renawati mengaku sudah mengetahui bahwa pihak Mazola membuka donasi untuk membantu pemeliharaan satwa. Pihaknya tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi yang sulit bagi tempat wisata saat ini.
‘’Kalau dari dinas, ya bisa kasihan. Tapi kita tidak bisa membantu apapun, kecuali share informasi. Karena di dinas sendiri dengan adanya refocusing, kita sendiri tidak bisa apa-apa,’’ ucap Dina, sapaan Erdiana Renawati.
Dia membenarkan biaya operasional Mazola paling tinggi dibandingkan lokasi wisata lainnya di Lamongan. Dina mengaku masih intens berkomunikasi dengan pihak manajemen Mazola. ‘’Yang Maharani, kayaknya butuh operasional tinggi. Karena yang diopeni bukan benda mati, tapi benda hidup. Mereka selalu bertanya. Kalau keluar Inmendagri minta dikirimi,’’ tukasnya.
Dia mengatakan, tempat wisata belum diperbolehkan buka bila wilayah setempat masih level tiga. ‘’Aturan yang saya baca, level dua bisa buka 25 persen,’’ ujar Dina. Dia berharap dalam waktu dekat status Lamongan sudah turun menjadi level dua. Apalagi, kini mayoritas kecamatan memasuki zona kuning, dan beberapa di antaranya sudah zona hijau. ‘’Kalau level dua sudah ada lampu hijau untuk membuka,’’ ujar Dina.
Editor : Indra Gunawan