Radar Bojonegoro - Ada 11 kecamatan yang dilalui jalur Solo Valley. Salah satunya Wisata Waduk Grobogan Desa Bendo, Kematan Kapas. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Waduk Grobogan berupaya mengantisipasi dampak ketika penggunaan jalur Solo Valley untuk realisasi jalan tol mendatang.
Ketua Pokdarwis Desa Bendo Ahmad Sholihudin menjelaskan waduk yang sekarang menjadi salah satu ikon wisata tersebut berada di jalur Solo Valley. Sudah ada koordinasi dari balai besar wilayah sungai (BBWS), kecamatan, dan pemerintahan desa. Serta sudah dilakukan pengukuran luas tanah.
“Hanya ingin mengetahui itu, kalau jumlah luasan tanahnya belum tahu,” ujarnya kemarin (13/6). Menurut Sholihudin, jika pembangunan jalan tol terealisasi akan tetap ada jarak antara proyek dengan kawasan wisata dan rumah warga. Ia mengira waduk juga masih akan difungsikan, tidak lekas diuruk untuk pembangnan. “Jarak dengan lokasi sekitar puluhan meter,” tuturnya.
Sholihudin sudah melakukan antisipasi dampak akan ditimbulkan pembangunan. Namun ia belum mengetahui efeknya akan baik atau tidak kepada masyarakat dan keberlangsungan Wisata Waduk Grobogan. Camat Kapas Agus S. Hardiyanto membenarkan kawasan wisata Waduk Grobokan berada jalur Solo Valley. Setidaknya ada dua desa di kecamatannya yakni Desa Bendo dan Desa Kapas. Untuk luasan tanah keduanya ia tidak mengerti secara pasti. ”Langsung tanya kepada pak lurah,” imbaunya.
Kepala Desa Bendo Bambang Wicoro menjelaskan lahan Solo Valley di desanya sekitar 75 hektare. Lahan itu saat ini digunakan warga bertani, dan telah digarap selama turun temurun. Jika nantinya program pembangunan jalan tol terealisasi, tentunya akan berdampak pada masyarakat terutama kebisingan dan juga garapan lahan pertanian warga akan hilang. Untuk perekonomian bisa jadi menurun bisa jadi bertambah. “Tergantung besok gimana setelah adanya tol,” ujarnya.
Saat ini, Waduk Grobogan masih beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan. Pengunjung ramai saat hari libur tiba dan rerata pengunjungnya adalah anak-anak sekolah. “Pengunjung 150-an lebih tiap hari, paling banyak anak TK dan SD,” ungkap Siti Qudsiyah penjaga loket masuk Wisata Grobogan.
Editor : Indra Gunawan