Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Manfaatkan Kulit Pohon Mahoni dan Daun Sawo untuk Warna Rendaman Batik

Indra Gunawan • Selasa, 16 Maret 2021 | 00:00 WIB
Manfaatkan Kulit Pohon Mahoni dan Daun Sawo untuk Warna Rendaman Batik
Manfaatkan Kulit Pohon Mahoni dan Daun Sawo untuk Warna Rendaman Batik

Perajin batik umumnya tergantung pada pewarna kimia. Namun perajin Batik Lamongan mulai beralih ke pewarna alami. Selain lebih murah, juga berwawasan lingkungan. Seperti yang dilakukan perajin batik di Desa Sendangduwur Kecamatan Paciran, Indah Rofahiyah.


M. GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan, Lamongan


Gerakan #Ayo Beli Produk Lamongan yang digaungkan Bupati Yuhronur Efendi tampaknya sangat tepat. Sebab, produk-produk UMKM atau perajin Kota Soto tersebut umumnya sangat berkualitas dan inovatif. Seperti batik khas Lamongan yang dibuat Indah Rofahiyah, perajin batik asal Desa Sendangduwur Kecamatan Paciran.


Batik yang dibuat perempuan 31 tahun itu bisa disebut berwawasan lingkungan. Sebab tidak memakai rendaman warna dari bahan kimia, tapi dari bahan alam. Yakni dari kulit pohon Mahoni dan daun Sawo. ‘’Memang benar saya memakai kulit pohon Mahoni dan daun Sawo untuk rendaman warna batik saya,’’ kata Indah, saat ditemui di rumahnya.


Menurut dia, kualitas pewarna alami yang dipakai tersebut tidak kalah dengan pewarna kimia. Bahkan cenderung lebih bagus. Selain itu juga bisa menghemat biaya. ‘’Karena tidak perlu beli dan mudah didapat, ada di sekitar rumah,’’ ungkapnya.


Indah mengaku, penggunaan pewarna alami tersebut sebenarnya bukan dirinya yang memulai. Tetapi sudah dilakukan secara turun temurun, sejak neneknya. Kemudian diteruskan ibunya, sebelum dilanjutkannya. ‘’Saya sejak kecil, tahun 1980 sudah belajar membatik di tempat nenek,’’ ungkapnya.


Menurut ibu satu anak tersebut, setelah tahun 2000 dia mulai mengelola kerajinan batik, meneruskan usaha orang tuanya. Sehingga dia lebih leluasa menerapkan teknis pembuatan batik, termasuk dengan menggunakan pewarna alami. Dia mengungkapkan, proses pembuatan batik tulis dengan motif yang halus membutuhkan waktu sekitar 1 bulan dengan ukuran 2 Meter.


Termasuk melakukan proses pewarnaan menggunakan kulit pohon Mahoni yang direbus dulu. Air rebusan kulit Mahoni itu dipakai untuk rendaman warna batik setelah di ukir. Sehingga menghasilkan warna dasar merah tua. Sedangkan kalau memakai daun Sawo untuk warna dasar coklat.


‘’Perendaman pertama satu malam, kemudian dikeringkan. Selanjutnya direndam lagi hingga 8 sampai 10 kali,’’ ungkapnya. Menurut dia, menggunakan pewarna alami memang prosesnya lebih lama dibanding pewarna kimia. Namun hasilnya lebih halus dan kalem, sehingga lebih disukai pembeli. Bahkan peminatnya lebih banyak dari luar kota, se perti Jakarta, Bogor,Madura, bahkan hingga Malaysia.

Editor : Indra Gunawan
#berita lamongan #lamongan #info lamongan