Tanpa belajar formal, Harmuslik,51, warga Kelurahan Blimbing Kecamatan Paciran mampu menjadi pelukis kapal nelayan. Profesinya itu baru ditekuni tiga tahun terakhir.
M. GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan
Ratusan kapal nelayan terlihat bersandar dengan posisi berjejer di dermaga TPI Brondong. Kebetulan sebulan terakhir ini para nelayan di pantura Lamongan memilih libur melaut karena sedang musim angin barat yang berbahaya.
Pemandangan itu terlihat indah karena setiap kapal dicat dengan gambar warna warni. Masa libur melaut tersebut banyak dimanfaatkan nelayan de ngan berbagai kegiatan. Selain memperbaiki jaring Juga melakukan perbaikan kapal. Termasuk mengecat kapal dengan aneka warna dan lukisan. Apalagi mengecat kapal dengan lukisan terbaik menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemilik kapal. Sehingga keberadaan tukang lukis kapal menjadi sangat penting.
Salah satu tukang lukis kapal di pantura Lamongan yakni Harmuslik. Saat dijumpai, bapak dua anak tersebut terlihat sedang asyik melukis gambar wayang di atas sebuah kapal nelayan. Tangannya begitu lincah memainkan kuasnya dengan memadukan berbagai warna yang begitu berani. Dia bersedia bercerita sambil bekerja. ‘’Saya sejak SD sudah suka menggambar,’’ ujarnya membuka pembicaraan.
Saking sukanya melukis atau menggambar, dia fokus ingin menjadi pelukis, meski sekolahnya tetap jalan. Termasuk melukis aliran abstrak yang dinilai paling sulit. Kemampuan melukisnya terus berkambang hingga menekuni melukis memakai cat. Sehingga dia mampu melayani permintaan melukis, termasuk melukis di tembok.
Karena menjadi pelukis kurang menghasilkan income, dia kemudian memutuskan ganti profesi bekerja sebagai pemahat perahu. ‘’Saya memutuskan untuk ikut orang bekerja memahat perahu karena desakan ekonomi,’’ ungkapnya.
Lagi-lagi menjadi pemahat kurang bisa mendapatkan penghasilan memadai. Selanjutnya pada 2001 Harmuslik dengan terpaksa meninggalkan profesi seni yang disenangi dan memutuskan untuk ikut melaut menjadi nelayan karena desakan ekonomi.
‘’Sebenarnya menjadi nelayan kurang sesuai dengan minat dan bakat saya yang suka seni. Namun menjadi nelayan lebih bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga,’’ ujarnya.
Namun perjalanan hidup Harmuslik memang ditakdirkan di jalur seni. Bermula ketika istrinya mengalami sakit stroke. Sehingga dia tidak bisa meninggalkannya. Padahal untuk melaut, membutuhkan waktu hingga berhari-hari.
‘’Tiga tahun lalu istri saya stroke. Saya tidak ingin jauh dari istri yang sedang sakit. Takut terjadi apa-apa dan harus merawatnya. Karena itu terpaksa saya tidak bisa melaut lagi,’’ terangnya. Sehingga dia harus mencari kerja dekat rumah, sehingga sewaktu-waktu bisa pulang untuk merawat istri.
Saat itu muncullah kembali bakat terpendamnya yang suka melukis. Dia menawarkan kepada pemilik kapal untuk melukis kapalnya agar terlihat indah. Karena pemilik kapal saat itu ratarata hanya memberi nama kapalnya, tanpa meukisnya.
‘’Ternyata tawaran saya ada yang menerima. Dan setelah tahu hasilnya, mulai banyak pemilik kapal yang ingin kapalnya dulukis,’’ ungkapnya. Dia mengungkapkan, awalnya pemilik kapal menyerahkan tema lukisan kepadanya. Namun saat ini mereka sendiri yang memilih tema.
‘’Melukis satu kapal membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga hari,’’ ucapnya Harmuslik mengaku paling sulit menggambar orang. Karena harus bisa mirip. Sehingga butuh waktu agak lebih lama.
Sedangkan tarip, dia mengaku tidak terlalu mematok harga lukisannya. Namun pemilik kapal rata-rata memberi uangan antara Rp 400 Ribu hingga Rp 500 Ribu. Dia men ‘’Dibanding menjadi nelayan, sebenarnya penghasilan itu jauh di bawahnya. Tapi saya merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terpenting saya bisa dekat dan merawat istri,’’ ucapnya.
Editor : Indra Gunawan