Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Hotel Melawan Badai Pandemi, Ada yang Survive, Ada yang Tutup

Indra Gunawan • Sabtu, 6 Februari 2021 | 01:00 WIB
Hotel Melawan Badai Pandemi, Ada yang Survive, Ada yang Tutup
Hotel Melawan Badai Pandemi, Ada yang Survive, Ada yang Tutup

Bojonegoro termasuk kabupaten non-industri, namun bergelimang hotel. Mulai hotel bintang dan hotel melati. Sekitar 25 hotel. Badai pandemi menghantam hotel. Ada yang tutup karena okupansi merosot. Namun, orang-orang hotel tak henti berkreasi untuk survive di tengah pandemi.


Sunyi terasa ketika masuk di halaman Hotel Kudus kemarin siang (4/2). Rumput liar tumbuh di halaman hotel menghadap ke barat itu. Seperti tak berpenghuni dan tak terawat. Gerbang pagar terbuka lebar. Namun, tidak terdapat tanda-tanda aktivitas di hotel berada di Jalan Diponegoro, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.


Kondisi itu kontras dengan suasana sekitar hotel. Jalanan ramai kendaraan melintas. Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, pintu depan hotel tertutup rapat. Dibalik kaca tak seorang pun terlihat.


Di gerbang samping terdapat tulisan bel dengan penunjuk anak panah. Mengintip di selasela gerbang samping terlihat satu motor parkir. Ketika bel dipencet, tak berapa lama dari celah gerbang terlihat seorang lelaki berjalan keluar. Membuka gembok dan membuka gerbang. “Bosnya (pemilik hotel) sedang keluar,” tutur pria berkaus oblong dan celana pendek itu.


Menurut penjaga hotel tersebut, hotel sudah tutup sejak pandemi korona, Maret lalu. Tidak ada pengunjung datang membuat pemilik hotel memutuskan menutup hotel. “Sebelum pandemi Covid-19 masih terdapat beberapa pengunjung. Kebanyakan yang menyewa kamar adalah sales,” ujarnya.


Pria berkerja di hotel selama 20 tahun itu mengaku karyawan hanya tinggal dua orang. Bergantian berjaga pagi dan siang. “Saya dari pagi sampai sore bersih-bersih, malam gantian ada yang menjaga,” jelasnya.


Sementara itu, suasana berbeda di Hotel Wina. Terdapat perbaikan di depan hotel di Jalan Teuku Umar itu. Di meja resepsionis terdapat perempuan berjaga. Mbak Win resepsionis hotel mengatakan, hanya terdapat satu pengunjung yang menyewa kamar. Dari 60 kamar tersedia.


Pengunjung merupakan sales produk yang sedang berkunjung ke salah satu supermarket. Mbak Win mengaku pandemi korona sangat berpengaruh jumlah pengunjung. Selama pendemi penurunan jumlah mencapai lebih dari 50 persen.


Sebelum pandemi korona pengunjung bisa mencapai lebih dari 20 orang, namun setelah pandemi korona 10 orang sudah menjadi jumlah terbanyak. “Akhir pekan semakin sepi, tidak ada pengunjung. Kebanyakan yang menyewa karyawan swasta,” ujarnya.


Perempuan berkrudung itu menjelaskan selama pandemi korona jam kerja pegawai dibagi. Selama seminggu hanya tiga hari masuk dan empat hari libur. “Sepertinya pandemi korona berpengaruh ke semua hotel, terlebih untuk hotel yang berbasis pengunjung karyawan swasta,” imbuhnya.


Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bojonegoro Moh. Subeki mengaku tidak bisa berbicara banyak, karena memang serbasulit. Kreativitas membuat ragam inovasi agar bisa menarik pengunjung sangat dibutuhkan.


Pada umumnya, menurut Subeki, setiap pengelola hotel berlomba-lomba memberikan diskon harga kamar hingga 20 persen. Tetapi, menurutnya, upaya tersebut tetap tidak mampu mengerek okupansi. Sehingga, kreasi seharusnya bisa dilakukan jangan hanya mengandalkan kamar hotel.


“Sulit kalau hanya mengandalkan pengunjung mau membayar kamar hotel,” ujarnya. Kemampuan menangkap peluang menutup biaya operasional butuh kecerdikan. Karena kalau tidak pandai mengatur strategi tentu tidak menutup kemungkinan bisnis akan kolaps.


Menurut sepengetahuannya, sebanyak 19 hotel di Bojoneogoro ada satu hotel telah kolaps adalah Hotel GDK. “Di luar Bojonegoro juga sudah banyak hotel ditawarkan untuk dijual, karena pemiliknya sudah tidak sanggup membayar biaya operasional hotel,” Imbuh.


Hal perlu diupayakan ialah memaksimalkan seluruh pekerja serta layanan-layanan dimiliki hotel tersebut. Juga butuh mencari terobosan dengan cara melobi perusahaan-perusahaan besar sedang menjalankan proyek migas di Bojonegoro. Agar para pekerjanya bisa menginap dengan sistem long stay.


“Seperti MCM ini bisa tetap jalan karena ada 40 kamar disewa long stay. Selain itu, kami tawarkan fasilitas pemancingan, kolam renang, serta angkringan untuk nongkrong,” pungkasnya.


Berdasar penelusuran menggunakan aplikasi pemesanan hotel, Bojonegoro memiliki jumlah hotel lebih banyak dibanding Tuban dan Lamongan. Misalnya, di aplikasi Traveloka, Bojonegoro tersedia 24 hotel. Sementara, di Lamongan 12 hotel dan Tuban 14 hotel. (irv)

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro