Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Debit Bengawan Naik, Giliran Desa Jumput Terendam Banjir

Indra Gunawan • Kamis, 28 Januari 2021 | 18:00 WIB
Debit Bengawan Naik, Giliran Desa Jumput Terendam Banjir
Debit Bengawan Naik, Giliran Desa Jumput Terendam Banjir

Radar Bojonegoro - Gapura Desa Jumput, Kecamatan Sukosewu, terendam air banjir kemarin pagi (27/1). Air luapan dari Sungai Ganggang itu menyapa warga hingga masuk ke jalan desa dan permukiman.


Kawasan Desa Jumput terdampak banjir sejak Selasa (26/1). Ada sembilan rumah di RT 05 RW 02 tergenang air setinggi 20-25 sentimeter. Namun, air berangsur surut. Kemarin siang air masih menggenangi jalan poros desa sepanjang 750 meter dengan ketinggian 70-100 sentimeter. Serta sekitar 20-25 hektare area persawahan padi usia tanam 1-2 bulan.


Namun, kemarin sore, kondisi semua genangan di permukiman warga maupun jalan poros sudah surut. Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia menerangkan, bahwa hujan deras disertai angin kencang terjadi sekitar pukul 16.30 Selasa lalu.


Akibatnya debit air Sungai Ganggang meluap sekitar pukul 21.00. Dan sekitar pukul 01.00 air sudah menggenangi RT 03, RT 04, dan RT 05 RW 02. “Perkembangan terkini, air sudah surut namun masih menyisakan genangan di jalan desa dan areal pertanian, untuk rumah yang tergenang sudah tidak ada,” jelas Ulfia kemarin sore.


Adapun data pemilik rumah tergenang terdiri atas Parwi, 70; Wasirah, 70; Salim, 50; Saenten, 65; Saekan, 70; Lamidin, 70; Sumadi, 50; Sunarto, 48; dan Teguh, 40. Tidak ada korban luka-luka maupun korban jiwa.


Terkait kerugian material masih dalam penghitungan. Selain itu, Selasa lalu angin kencang yang melanda Desa/Kecamatan Sukosewu mengakibatkan genteng kantor dan pendapa kantor kecamatan jatuh diterjang angin. Juga baliho milik Dinas Kominfo di depan kantor kecamatan ambruk. Serta ada 24 rumah terdampak angin rusak ringan atap roboh. “Angin kencang juga melanda Desa Semawot, Kecamatan Sukosewu. Ada delapan rumah mengalami rusak ringan,” ucapnya.


Ulfia mengungkapkan, bahwa fenomena la nina mengakibatkan curah hujan intens dan berdurasi lama. Sehingga perlu mewaspadai risiko bencana hidrometeorologi. Di antaranya banjir, tanah longsor, dan angin kencang.


Sementara itu, kondisi tren tinggi muka air (TMA) di Taman Bengawan Solo (TBS) mengalami kenaikan. Adapun TMA pukul 19.00 kemarin menunjukkan angka 11,56 meter. Kondisi di wilayah hulu terjadi hujan deras.


“TMA Bengawan Solo tentu tergantung intensitas hujan di wilayah hulu. Namun, kenaikan TMA bisa diukur durasi rambatan airnya. Air dari Ngawi ke Karangnongko butuh waktu 8 jam, kemudian Karangnongko ke TBS butuh waktu sekitar 16 jam,” bebernya.


Perlu diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kelas I Juanda Sidoarjo menganalisa angin kencang di wilayah Keca matan Sukosewu. Penyebabnya pertumbuhan awan cumulonimbus yang signifikan, sehingga memiliki karakteristik menghentakan angin kencang. Kondisi di wilayah Jawa Timur secara umum berada pada puncak musim hujan.

Editor : Indra Gunawan
#banjir #bojonegoro